Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Dhanang Dhave

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat selengkapnya

Humor dari Kegelisahan ala Raditya Dika

REP | 15 May 2012 | 13:03 Dibaca: 6809   Komentar: 6   1

Dalam sebuah petikan Alkitab dituliskan “hati yang gembira adalah obat, tetapi hati yang sedih remukan tulang”. Sebuah pesan, betapa kegembiraan itu adalah sesuatu yang menyehatkan, bahkan kesembuhan penyakit juga tergantung dari suasana hati. Hal senada juga di ungkapkan oleh Susilo, pemeran Den Baguse Ngarso dalam acara Bangun Desa yang ditayangkan TVRI pada awal tahun 90an. Menurut Susilo, anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah tertawa. Tertawa, hanya dimiliki manusia, sedangkan hewan hanyalah ekspresi meringkik, meringis atau mendesis.

1337043656565557168

Panen Humor Lewat Kegelisahan (dok.pribadi)

14/5/2012 di BU UKSW, Salatiga, sebuah kesempatan langka bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan seorang tokoh yang menurut saya bisa menanam benih cerita humor dan berbuah tertawa. Raditya Dika, siapa tidak mengenal dia, seorang penulis novel hebat, artis dan komedian. Sekarang yang terkenal dari dia adalah sebagai comics dalam stand up comedy. Dalam acara talk show yang bertajuk “Kreatif Menulis, Rejeki Tak Akan Habis”, mengajarkan audiens bagaimana cara menulis yang kreatif dan mendatangkan rejeki.

Disela-sela pemaparannya lewat slide-slide presentasi, kejenakaan Raditya Dika menjadi ciri khasnya, lewat lelucon yang dibuat secara spontanitas. Genre tulisan Radit yang berbabu humor, maka tak salah dia memaparkan bagaiaman brain storming untuk menciptakan tulisan jenaka yang mampu mengocok perut pembacanya. Dari pemaparan Radit, sebenarnya sangat-sangat sederhana mencari benih-benih lelucon yang siap ditanam untuk dipanen menjadi buah-buah tertawa.

Secara umum sumber komedi dibagi menjadi dua, yakni: observatif dan situasional. Obesvatif merupakan lelucon yang didapat dari pengamatan kita dari berbgai sudut pandang dan dicari sudut-sudut mana yang dianggap lucu dan layak dijadikan lelucon. Komedi situasional, berangkat dari kejadian-kejadian dan ditangkap apa yang lucu. Setelah mendapat sumber bahan, lalu diolah menjadi bahan humor.

Radit mengungkapkan, buku Kambing Jantan hingga Manusia Setengah Salmon, berangkat dari kegelisahan Dia. Kegelisahan yang disulap lewat tulisan dan disarikan lewat kejenakaan, sehingga bukan kesedihan yang ada tetapi sebuha kelucuan. Memang acapkali terlihat konyol, bodoh, tetapi disitulah esensi mencari benih-benih humor yang nantinya bisa dipanen. Radit mencontohkan bagaimana kegelisahan Dia mengenai film-film horor di Indonesia, yang nantinya bisa dijadikan bahan leluconnya. Contohnya “3 pocong idiot” sudah dipocong, idiot lagi, suruh sekolah napa?”.

Inti dari kelucuan yang berangkat dari kegelisahan, tak ada artinya jika tidak dibagikan kepada orang lain. “tak mungkin kan akan ditertawakan sendiri, kelucuan tersebut..?” kata Dia. Untuk membagikan kelucuan tersebut, bisa kita bercerita, stand up comedy atau dituliskan dalam sebuah buku. Bagi yang pede ditertawakan diatas panggung, nekat saya menjadi comics, bagi yang tidak tahan silahkan menulis dan biarkan orang lain menertawakan lewat tulisan.

Berbicara mengenali tulisan, Radit mengungkapkan bagaimana Dia 5 kali ditolak penerbit dan memaksa 6 kali melakukan revisi tulisan. Bukan perkara yang mudah untuk menulis, tetapi harus dipaksa dan dipaksakan. “Apapun hasinya tulisanmu, tetaplah menulis walaupun awalnya jelek” kata Dia. Dia juga mengatakan “jika tidak mood menulis, jangan berhenti, tetapi paksa untuk menulisa, walau satu dua kalimat”. “lebih baik 1 atau 2 kalimat, yang nanti bisa disunting, daripada nol atau tidak sama sekali”.

13370437071914454462

Sebuah kesimpulan dari Raditya Dika “it’s not what you say, it’s how you say it”, bukan apa yang anda katakan, tetapi bagaimana cara anda mengatakannya. Sebuah kesimpulan sederhana, bagaimana mengolah hal-hal yang kecil, sederhana menjadi sebuah lelucon terlebih lagi bisa dibagikan baik lewat stand up comedy atau tulisan. Pesan Dia, berikan humor yang cerdas dan postif, sehingga orang lain bisa tertawa dan menilai serta mengapresiasi lelucon-lelucon kita dengan baik. Pelajaran berharga bagaimana mencari benih-benih humor agar bisa melemparkan buah-buah tertawa kepada orang lain.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 9 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 9 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 9 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 9 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: