Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Trisno Widodo

Catatan Seorang Guru

Pentingnya Pengendalian Sosial di Masyarakat

OPINI | 07 May 2012 | 15:07 Dibaca: 2464   Komentar: 0   0

Tujuan pengendalian penyimpangan sosial adalah terciptanya suatu keadaan yang serasi antara stabilitas dan perubahan di dalam masyarakat. Sebelum terjadi perubahan, dalam masyarakat sudah terkondisi suatu keadaan yang stabil, selaras, seimbang dan sebagainya. Dengan adanya perubahan menyebabkan terjadi keadaan yang tidak stabil. Tujuan pengendalian penyimpangan sosial untuk memulihkan keadaan yang serasi seperti sebelum terjadinya penyimpangan .

Ada 4 cakupan pengendalian penyimpangan sosial yaitu:

  1. pengendalian sosial antar individu;
  2. pengendalian sosial individu terhadap kelompok;
  3. pengendalian sosial kelompok terhadap individu;
  4. pengendalian sosial antar kelompok.
Hal rawan di atas bukan mustahil akan makin meluas memasuki era globalisasi dengan arus informasi berteknologi canggih yang kian membanjiri kehidupan masyarakat kita. Nilai-nilai pragmatisme dan  materialisme yang diusungnya tak pelak akan memengaruhi kehidupan masyarakat. Inilah barangkali yang perlu direnungkan semua pihak, terutama oleh para tokoh agama dan tokoh masyarakat. Kondisi ini tentu amat mencekam. Terutama bila mengingat perubahan sosial yang berdimensi penyimpangan sosial dalam beragam bentuknya itu mengibas di kalangan remaja dan anak-anak kita yang tiada lain merupakan tunas-tunas dan harapan bangsa Indonesia.  Usaha mengatasi penyimpangan  sosial dengan pengendalian penyimpangan sosial antara lain :

·            Mempertebal keimanan dengan pendidikan keagamaan
Menurut  Peter L Berger (1991), agama perlu dijadikan acuan bagi humanisasi kehidupan manusia, yang berarti sebagai peneguhan terhadap nilai-nilai yang fitri berupa proses pembersihan jiwa dari kotoran-kotoran nafsu dan perilaku hewaniah. Dalam konteks inilah pentingnya penanaman kepastian akan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan.
·            Menciptakan kondisi dalam keluarga yang sehat dan harmonis
Upaya ini dapat dilakukan dengan cara : memantapkan penanaman kehidupan beragama dalam keluarga, meluangkan waktu berkumpul bersama seluruh keluarga, menjalin hubungan komunikasi yang baik antar anggota keluarga, dan membiasakan musyawarah bersama untuk menyelesaikan suatu masalah
·            Menciptakan lingkungan sekolah yang baik dalam proses belajar mengajar
Hal ini dapat dicapai dengan cara :  menyediakan sarana dan prasarana untuk belajar, meningkatkan mutu guru , kurikulum sekolah disesuaikan kemampuan siswa dan kondisi setempat, menerapkan sanksi tegas bagi siswa yang melanggar tata tertib sekolah , dan pembentukan satgas pengendalian tawuran antar sekolah  kota-kota besar seperti di Jabodetabek.
·            Menciptakan suasana kondusif dalam lingkungan masyarakat
Mengkondisikan peran serta perangkat setempat, aparat kamtibmas, tokoh masyarakat, pemuda dan anggota masyarakat lainnya untuk dapat mewujudkan keamanan, ketertiban, bebas dari rasa takut dari segala bentuk kerawanan , dengan cara :  membebaskan lingkungan dari pusat penjudian, pengedaran alcohol, narkotika, pusat hiburan yang berakibat kerawanan sosial, dan lain sebagainya.

Ada juga cara lain yang dapat mencegah segala bentuk penyakit sosial antara lain : terapi (menemukan masalah kemudian mengatasinya secara bertahap) dan rehabilitasi (memulihkan nama baik, tidak mengucilkan diri dan memberikan rasa empati kepada pelaku sehingga tidak terjerumus lagi pada penyimpangan yang sama ).

Penyembuhan penyimpangan sosial (perilaku sosial )ini ternyata tidak mudah. Kita pun berpikir bahwa penyembuhan penyimpangan sosial dan sekaligus pengembangan kompetensi kearifan-kearifan sosial yang paling strategis adalah lewat jalur pendidikan. Walau, tentunya, hasil usaha ini memerlukan waktu untuk dapat dirasakan. Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti karier di masyarakat, lembaga, atau perusahaan. Banyak orang sukses yang kalau kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama, berempati, dan pengendalian diri yang menonjol

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajib! Motor Berbahan Bakar Air …

Gapey Sandy | | 22 September 2014 | 09:51

MTQI ke XV Menyatukan Dunia yang Terbelah …

Syaripudin Zuhri | | 22 September 2014 | 10:49

Baru Kali Ini, Asia Kembali Percaya …

Solehuddin Dori | | 22 September 2014 | 10:05

Salah Kaprah Tentang Tes Psikologi …

Muhammad Armand | | 22 September 2014 | 10:49

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

PKS antara Pede dan GR …

Ifani | 8 jam lalu

Sopir Taksi yang Intelek …

Djohan Suryana | 9 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 11 jam lalu

Gajah Berperang Melawan Gajah, …

Mike Reyssent | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sikap Pabowo Terhadap Ahok & Bu Mega …

Kwee Minglie | 7 jam lalu

GP Singarpura, Hamilton Luar Biasa Rosberg …

Hery | 7 jam lalu

Menguak Misteri Gua Jepang di Malang …

Mawan Sidarta | 8 jam lalu

Bahaya Bateri Bekas …

Pan Bhiandra | 8 jam lalu

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: