Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Menapaki Sejarah Ziarah Semana Santa dan Kapela Menino Jesus di Lewolaga

REP | 28 April 2012 | 21:58 Dibaca: 195   Komentar: 0   0

Pekan Paskah baru saja berlalu. Kita tentu masih ingat dengan prosesi Semana Santa yang dilaksanakan beberapa minggu yang lalu di Larantuka sebagai ziarah iman yang dilakukan setiap tahunnya di Kota Reinha Larantuka, Provinsi Nusa Tenggara Timur kini sudah dikenal di beberapa belahan dunia; namun lain halnya dengan umat Katholik di Lewolaga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT ini. Ada hal menarik yang perlu di ketahui disini yakni mereka pun mengadakan ritual yang sama pada setiap tahunnya untuk mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus, namun Prosesi Jumad Agung di tempat ini rupanya kurang dikenal seperti prosesi di Larantuka,Wure dan Konga.

Menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, di daerah ini ternyata sudah mengadakan ritual ini sejak sekitar tahun 1600-an. Hal ini diceritakan secara turun temurun oleh pewaris dari rumpun suku bentu- klassa dan yang pada akhirnya dirampungkan dan ditulis secara sederhana oleh panitia Pemberkatan Kapela Menino Jesus.

Menino Jesus adalah nama sebuah kapela kecil yang terletak di tengah kampung Lewolaga, kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur. Kapela inilah yang menjadi tempat penyimpanan benda- benda peninggalan sejarah seperti patung- patung serta perlengkapan prosesi Jumad Agung atau yang biasa disebut alat sengsara. Tempat ini sekarang menjadi tempat ziarah.

Description: G:gambar.png

Setiap tahunnya pada hari Rabu yang biasa dikenal dengan Rabu Trewa, umat Katholik di daerah Lewolaga dan sekitarnya datang untuk berdoa dan dilanjutkan dengan mengantar alat sengsara ke Gereja untuk kegiatan prosesi Jumad Agung.

Sebelum adanya kapela Menino Jesus, barang peninggalan ini disimpan dalam rumah adat suku Bentu. Seiring berjalannya waktu, dibangun sebuah bangunan sederhana pada tahun 1980-an dengan berdinding keneka (bambu) dan barang- barang ini dipindahkan ke bangunan ini. Pada tahun 2008 dibangun kembali dan diberi nama Menino Jesus yang berarti Kanak Yesus. Pada tanggal 11 September 2010, Kapela Menino Jesus diberkati oleh Bapak Uskup Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr. Dan mulai terbuka untuk umum yakni kepada semua orang Katholik yang ingin berziarah ke Kapela ini.

Pemberian nama Menino Jesu untuk kapela ini berdasarkan kesepakatan bersama antara suku Bentu- Klassa bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat. MeninoJesu adalah salah satu diantara barang- barang pusaka religy tersebut. Menurut kisah dari tetua suku Bentu, Patung ini menggambarkan Yesus sebagai seorang anak kecil yang sedang memikul dunia. Dunia yang digambarkan adalah berbentuk segi empat karena konsep bahwa bumi ini bulat belum ada saat itu.

Description: G:bfhx.png

(Patung Menino Jesus - Lewolaga )

Barang- barang ini seperti yang dikisahkan oleh tetua dari suku bentu adalah barang pusaka milik nenek moyang mereka. Menurut cerita sejarah, Suku Bentu – Klassa berasal dari Malaka. Mereka adalah bangsa pelaut yang dalam pelayaran mereka membawa serta alat perang, alat nelayan, alat pertanian dan patung- patung kudus sebagai pelidung. Adapun patung- patung religy yang sudah bisa dikenali berdasarkan tulisan- tulisan pada tubuh patung tersebut yakni; patung Nossa Senhora e Menino Jesus (Bunda Maria dan Kanak Yesus), Jesus Bom Pastor (Yesus gembala yang baik), Jesus Sofremento (Tubuh Yesus yang menderita), A Parte de Corpo de Jesus Sofremento (bagian dari tubuh Yesus yang menderita), Jesus Crucificado (Yesus yang tersalib) dan masih banyak lagi patung- patung lainnya yang dipercaya sebagai Lera Wulan atau Tuhan Allah. Patung- patung ini sebagian sudah mulai lapuk dan rusak dimakan usia. Selain itu ada juga patung dan perlengkapan yang digunakan dalam prosesi Jumad Agung.

Kegiatan prosesi ini sudah mulai dilakukan dalam bentuk yang sederhana. Pada awalnya kegiatan mulai dilakukan di Lewo Kroko (Lewookin) Kampung lama dari desa Lewolaga dengan mengusung patung Kanak Yesus (Menino Jesu). Dalam perkembangannya patung yang diusung dalam prosesi adalah patung mayat Yesus yang terbuat dari kayu. Patung ini akhirnya disimpan karena sekitar tahun 1815, Misionaris ordo Dominikan dari Portugal yang berdiam di Larantuka yang pada saat itu sebagai pusat keuskupan menyumbang sebuah patung mayat Yesus sehingga digunakan hingga saat ini. Kegiatan ini dulunya dilakukan dengan 3 armida (tempat persinggahan) dari suku- suku yang pertama mendiami Lewolaga yaitu armida Klassa, armida Bentu dan armida Kabele’en Lewoema. Seiring berjalannya waktu sehingga semakin banyak warga yang menetap di Lewolaga maka armida –armida ini ditambah lagi sehingga menjadi 6 armida dengan pembagian yakni armida pertama dari suku Kabele’ng Kun De, armida kedua dari suku Klassa, armida ketiga dari suku Kabele’ng Sani Oneng, armida keempat dari suku Bentu Merpi, armida kelima dari suku Kabele’ng De’Ornay dan armida keenam dari suku Bentu Kromen Nuhon. Suku- suku dari keenam armada inilah yang dinamakan Perpetu (pemilik armida). Para perpetu mempunyai lilin besar yang dipasang pada setiap perayaan Paskah. Sedangkan beberapa suku lain yang mendiami Desa Lewolaga tidak mempunyai armada namun mereka mengambil bagian dalam kegiatan ini.

Kegiatan prosesi Jumad Agung atau yang sering disebut Semana Santa merupakan suatu rangkaian acara Pekan Suci, yang dimulai pada hari Selasa sebelum Paskah hingga hari Senin sesudah Paskah. Kegiatan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

· Pada hari Selasa, dilakukan upacara doa di Kapela Menino Jesus oleh suku Bentu dan Klassa dan diikuti oleh kegiatan memandikan patung- patung serta alat sengsara oleh warga Bentu- Klassa yang sudah di beri kepercayaan. Air mandian patung ini dipercaya sebagai air berkat.

· Hari Rabu pagi adalah kegiatan mengantar alat sengsara menuju Gereja. Umat katholik baik dari wilayah tersebut maupun yang datang dari luar daerah guna mengikuti kegiatan prosesi pun turut berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan ini. Pengantaran alat sengsara ini dimulai dengan kegiatan doa di Kapela Menino Jesu dan kemudian di bawa ke Gereja dalam prosesi kecil.

Pada malam harinya dilaksanakan Lamentasi Rabu Trewa atau disebut Lamentasi hari pertama

· Hari Kamis; pada pagi harinya dibuat Lamentasi hari ke dua, dan malam harinya diadakan Misa Kamis Putih. Dahulunya, perayaan Ekaristi Kami Putih dirayakan pada jam 12 malam namun sekarang tradisi ini tidak dilanjutkan lagi. Pada hari ini juga, umat mulai membuat armida dan pahang tunu (penancapan tiang- tiang sebagai tempat lilin yang digunakan sebagai penerang dalam kegiatan prosesi)

· Hari Jumad; hari ini adalah hari berkabung bagi umat seluruh umat Katholik atau biasa disebut Jumad Agung. Di daerah ini tidak ada bunyi- bunyian; lonceng gerjea pun tidak berbunyi sehingga umat yang mau mengikuti kegiatan pada hari ini biasa diberi tanda dengan bunyian mataraka (alat yang terbuat dari kayu yang digunakan sebagai pengganti lonceng Gereja saat hari Jumad Agung ). Pada hari ini ada beberapa kegiatan yang dlakukan yakni; pada pagi hari dibuat Jalan Salib keliling kampung Lewolaga. Jalan Salib ini dilakukan dari Gereja dan berakhir di Gua Maria Lewo Oking atau lokasi kampung lama. Jam 15.00, perayaan Ekaristi di Gereja untuk mengenangkan kematian Tuhan Yesus. Sesudah perayaan Ekaristi, sudah menjadi tradisi bagi warga Lewolaga untuk mengunjungi makam keluarga di kompleks pekuburan umum setempat.

Pada pukul 19.00, semua umat berkumpul di Gereja untuk mengikuti acara Lamentasi terakhir dan diteruskan dengan Prosesi Jumad Agung (Semana Santa). Prosesi ini dilakukan dengan mengarak patung Jenasah Yesus oleh para Lakademu dari Gereja menuju ke armida- armida dan kembali lagi ke Gereja. Selama prosesi ini, umat berdoa sambil membawa lilin dan diiringi nyanyian ratapan oleh ibu- ibu santa ana (Eus). Setiap armida dilakukan doa oleh para maiordomu ( pemilik ujud khusus di armida tersebut), nyanyian Ovos, dan sinyordeo oleh para konferia. dan berkat salib.

· Hari Sabtu; pengembalian alat- alat sengsara ke Kapela Menino Jesus. Kegiatan ini juga dilakukan sama seperti pada hari Rabu, yakni diantar dalam prosesi kecil dan ditutup dengan doa di Kapela. Malam harinya dirayakan Ekaristi mengenangkan kebangkitan Tuhan Yesus atau biasa disebut Malam Paskah.

· Hari Minggu; pada hari Minggu Paskah dirayakan Misa Paskah. Dahulu, ada prosesi Halleluya yang dilaksanakan di dalam Gereja oleh kelompok Konferia dengan membawa Salib dan Lilin. Prosesi ini sekarang tidak dibuat lagi karena ada perayaan Misa.

· Hari Senin sesudah Paskah; diadakan Misa syukuran untuk semua Permesa, Maior Domu, dan Perpetu dengan resepsi penyerahan Puntu Dama atau Padu Knipong untuk calon Maior Domu yang baru. Misa dibuat di Gereja sedangkan penyerahan Punto Dama dilaksanakan di rumah salah satu Perpetu yang sudah disepakati. Kegiatan ini dilaksanakan untuk membahas persiapan perayaan Paskah dan Prosesi Jumad Agung pada tahun berikutnya.

Adapun elemen- elemen dalam prosesi selain alat- alat sengsara yakni;

· Lakademu; orang yang bertugas memikul Patung Mayat Yesus pada saat prosesi Semana Santa. Mereka berjumlah 4 orang dan mengenakan pakaian putih dengan topi berbentu kerucut berwarna merah. Muka merekapun di tutup bulat sehingga hanya terlihat matanya. Sebelum prosesi dimulai, mereka mengenakan pakaian Lakademu di rumah adat suku Bentu- Klassa. Dari rumah tersebut mereka menuju ke pekuburan dan melakukan meditasi di tempat itu. setelah itu mereka menuju ke Kapela Menino Jesus dan berdoa di situ sampai ada perintah dari Perkedo(orang yang bertugas mengawasi Lakademu) untuk berjalan satu per satu mengelilingi kampung sebelum prosesi. Mereka masuk ke Gereja pada saat nyanyian Quideem oleh sekelompok orang dari kelompok Miserere

· Ovos; nyanyian ratapan yang dibawakan oleh seorang wanita sambil memegang gambar wajah Yesus. Ovos ini mengenangkan Veronika yang mendapat gambar wajah Yesus waktu ia mengusapi wajah Yesus dalam jalan salibNya.

· Eus; nyanyian yang dibawakan oleh sekelompok wanita untuk mengenangkan nyanyian wanita Yerusalem. Mereka bernyanyi sepanjang jalan prosesi. Dalam perjalanan para penyanyi biasanya berjalan di belakang Patung Mayat Yesus selama prosesi mereka oleh kain hitam.

· Miserere; kelompok koor dari bapak- bapak yang sebetulnya adalah kelompok Konferia.

· Lamentasi; doa dan nyanyian dari ratapan Yeremia

· Armida; bangunan rumah berbentuk segitiga tempat orang berdoa dan merupakan tempat perhentian pada prosesi untuk pentakhtaan Salib, berdoa dan tempat nyanyian Ovos. Armida merupakan tempat doa bagi para Maior Domu. Setiap armida mempunyai satu orang Perpetu dan 3 orang Maior Domu.

· Tunu; pagar dari kayu untuk meletakkan lilin sebagai penerangan selama prosesi.

· Perpetu; pemilik armida.

Sesudah kegiatan pemberkatan Kapela Menino Jesus oleh Uskup Larantuka, suku Bentu Klassa menyerahkan Kapela Menino Jesus kepada Keuskupan Larantuka untuk di kelola. Prossesi Jumad Agung ini digelar pada setiap tahun. Umat yang mengikuti Prosesi Semana Santa pun tidak hanya dari wilayah Lewolaga saja, namun saat ini umat dari berbagai daerah mulai datang untuk mengikuti kegiatan prosesi di Lewolaga.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: