Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Usman Kusmana

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan selengkapnya

Mendidik Anak, Karir Terbaik Seorang Wanita

OPINI | 18 April 2012 | 13:44 Dibaca: 465   Komentar: 5   0

Saya bukan orang yang anti terhadap wanita karir. Pada situasi kehidupan sosial ekonomi seperti saat ini, semua manusia baik pria maupun wanita diberikan kesempatan yang sama untuk dapat mengeksplorasi semua potensi dan kemampuan dirinya dalam ranah publik. Entah itu urusan karir, politik, kepemimpinan, wirausaha, atau apapun yang mencerminkan sebuah situasi eksistensi hidup seseorang.

Wanita karir yang berhasil menempati posisi baik dalam pekerjaannya, dalam organisasinya atau kiprah apapun lainnya dimasyarakat, tentu merupakan pencapaian yang disesuaikan dengan kualitas, kapasitas dan integritasnya dalam menjalankan peran apapun. Kini banyak sekali wanita yang menempati top leader atau top manager dalam perusahaan bonafide baik dalam maupun luar negeri. Kini banyak juga pejabat pemerintahan yang diisi kaum wanita. Kini banyak juga politisi wanita yang menjadi anggota DPR/DPRD. Kini banyak juga wanita yang jadi bupati/walikota ataupun gubernur/wakil gubernur.

Fenomena itu menunjukan telah bergesernya pandangan umum masyarakat seputar wanita. Dari yang selama ini diidentikan dengan urusan sumur, dapur, kasur. Urusan domestik yang hanya mengurusi mencuci, memasak dan melayani suami di ranjang. Memang berat niat peran dan tugas wanita ini ketika harus menjalankan dua fungsi sekaligus, fungsi domestiknya dalam urusan rumah tangga, dan fungsi publiknya sebagai apapun pekerjaan dan aktifitas yang dijalankannya.

Tapi sejatinya, ada satu prinsip pokok yang tidak boleh dilupakan oleh seorang wanita, dalam kiprah dan perannya ketika dia memutuskan diri untuk menikah dan menjadi seorang wanita dan juga seorang ibu. Yaitu mendidik anak. Memang tugas mendidik anak sejatinya harus menjadi beban dan tanggungjawab bersama suami dan istri, tapi dalam batas-batas tertentu, relasi emosional antara ibu dan anak akan jauh lebih mendalam. Karena bagaimanapun, sang ibu selama 9 bulan membesarkan anak dalam perutnya, melahirkannya, hingga memberinya asi ekslusif.

Oleh karena itulah, pendidikan dan ikatan emosional antara anak dan ibu menjadi lebih kuat. Apalagi ada fase dimana sang wanita dalam perannya sebagai seorang ibu harus lebih memberikan fokus waktu kebersamaan dengan sang anak dibanding sang suami yang misalnya harus bekerja mencari nafkah, paling tidak selama proses menyusui 1-2 tahun usia anak. Dari sinilah “adonan” anak kita dapat dipola mau dididik seperti apa. Mengapa misalnya dikenal istilah bahasa ibu? karena proses penerimaan kosakata awal sang anak kebanyakan diterima dari komunikasi sang ibu.

Seorang ibu yang mampu merawat, membesarkan, mendidik anaknya hingga menjadi anak yang baik secara akhlak, pintar secara intelektual, hingga mampu membentuk anaknya menjadi pribadi yang sholeh, siap menghadapi kehidupan, mampu berperan dan menunjukan eksistensinya dalam apapun peran dan kiprah yang dijalankan. Itulah pencapaian terbaik seorang wanita. sehingga pantas kiranya jika agama mengajarkan bahwa Wanita itu merupakan tiangnya negara. Karena negara akan berdiri kokoh, maju dan berperadaban, jika para wanitanya melahirkan dan mendidik serta mempersiapkan anak-anak bangsanya menjadi penerus dan penguat kemajuan dan keberlangsungan sebuah bangsa.

Jika wanita sudah menjalankan dirinya sebagai seorang ibu yang mampu mendidik anaknya dengan baik, lalu dia pun mampu berkarir dalam ranah publik dengan baik pula, itulah sejatinya sebaik-baiknya wanita. Jadi yang pertama dan paling utama kehebatan karir seorang wanita, adalah pada bagaimana menjalankan peran mendidiknya sebagai seorang ibu. Sehebat apapun karir seorang wanita di ranah publik, jika gagal dalam urusan domestik mendidik anak, maka tak ada artinya. Sehingga pijakan utamanya adalah pada keseimbangan peran domestik dan publik yang berkeadilan. Jika sudah begitu, maka kita layak bangga bahwa banyak kartini-kartini masa kini yang mampu menjadi seorang ibu yang baik, dan juga seorang manager yang profesional. Adakah???

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 3 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 13 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 13 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Mati Karena Oplosan dan Bola …

Didi Eko Ristanto | 7 jam lalu

Ketika Lonceng Kematian Ponsel Nokia …

Irawan | 7 jam lalu

Catatan Terbuka Buat Mendiknas Baru …

Irwan Thahir Mangga... | 7 jam lalu

Diary vs Dinding Maya - Serupa tapi Tak Sama …

Dita Widodo | 7 jam lalu

Nama Kementerian Kabinet Jokowi yang Rancu …

Francius Matu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: