Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Aulia

Seorang pecinta jalan-jalan, menulis untuk sekedar relaksasi. Temukan saya di http://auliahk.blogspot.hk/

Serba-serbi TKW Hong Kong ; Terjerumus ke Lembah Hitam

REP | 10 April 2012 | 22:17 Dibaca: 5453   Komentar: 75   3

1330407099324189910

Siang itu (Sabtu, 7 April 2012) saya berjumpa dengan seorang teman. Ditengah-tengah padatnya pengunjung pada sebuah toko Indonesia di kawasan Causewaybay. Sebut saja namanya Irma (bukan nama sebenarnya).

Irma, tanpa kuminta menceritakan pengalaman hidupnya selama bekerja di Hong Kong. Dengan gaya cuek dan tanpa tedeng aling-aling dia menceritakan semuanya. Tentang pekerjaan kotornya! Masyaallah! Saya masih ingat betapa mengerikannya kehidupan yang dia jalani.

Irma, gadis jangkung berparas manis. Lesung pipitnya terlihat sangat kentara saat dia tersenyum. Kepada saya dia mengaku baru berusia 23 tahun. Masih sangat muda. Tetapi beban yang ditanggungnya ternyata tak sedikit.

“Lagi libur mbak?”
Pertanyaan itu dia lontarkan sambil menarik kursi yang berada tepat disebelah tempat duduk saya. Saat itu saya sedang menikmati makan siang di toko Indonesia itu.
“Iya Mbak..” Jawab saya singkat sambil mengutak-atik hp yang berada ditangan saya.
“Udah lama kerja di sini?”Irma masih meneruskan pertanyaannya sembari perlahan membuka nasi bungkus yang ada dihadapannya. Sebungkus nasi lengkap dengan tempe penyet dan dua buah mendoan sebagai asesori pelengkapnya. Hmm..tampak menggugah selera.
“Mayan Mba’.. kurang lebih 5 tahun-an lah..” Jawab saya ringan.
“Bisa bahasa Inggris?”Saya mengernyitkan dahi mendengar pertanyaannya ini.
“Dikiit..” Akhirnya saya jawab juga meskipun saya agak curiga dengan pertanyaannya. Baru kenal kok nanya macem-macem. Begitu fikir saya.
“Berminat untuk mencari pekerjaan sampingan nggak?”
“Part time, gitu?”
“Yah, semacam itulah..”
“Di mana?”
“Di apartemen.”
“Bersih-bersih?”
“Bukan..”
“Terus ngapain? Jaga anak?”
“Bukan juga..”
“Lantas apa dong?”
“Nemenin bule..”

Masyaallah! Waktu itu saya hampir mau bilang “Uhh sorry morri emangnya gw cewek apaan?” Tapi jawaban itu tak jadi saya keluarkan. Saya simpan saja. Justru dari sini malahan timbul niat saya untuk menelisik lebih jauh lagi.

“Ehmm.. Berapa bayarannya Mbak?”
“Lumayan loh! Sejam-nya 200 dollar. Kalau bulenya suka ama servis kamu, biasanya dia bakal kasih lebih.”
“Owh gitu yaa..”
“Gimana tertarik nggak?”
“Ehm.. Saya nggak pernah terjun ke dunia beginian mbak..”
(Dunia “begini-an” sudah biasa dijalani beberapa TKW Hong Kong)
“Eee.. Gak papa lagi. Nyoba dulu. Mungkin awalnya canggung. Ntar lama-lama juga terbiasa. Kita bisa meraup dollar sebanyak-banyaknya loh!”
Waduhh.. Melihat cara bertuturnya yang berapi-api membuat naluri saya semakin ingin mengorek keterangan lebih dalam. Memang untuk “masalah” yang satu ini (bisnis seks) di kalangan TKW sudah sering saya dengar. Namun saya belum pernah bertemu dan berbincang langsung dengan pelakunya. Baru kali ini.

“Aman nggak?” Tanya saya dengan nada penuh antusias.
“Dijamin aman.”
“Ehm..mbak-nya sendiri juga ikut main?”
Sebenarnya saya agak ragu-ragu melontarkan pertanyaan ini. Takut dia tersinggung atau marah.
“Dulu iyaa..sekarang tidak lagi.”
“Udah insaf maksudnya?”
Saya mencoba tertawa kecil supaya perbincangan itu terkesan rileks. Terlebih lagi saya nggak mau kalau dia menangkap kesan bahwa saya sedang mencari informasi darinya.
“Hmmm..belum mbak. Nggak sekarang. Mungkin nanti kalau tabungan saya udah cukup…” Irma tersenyum getir. Nasi bungkus tempe penyet itupun habis sudah. Dibuangnya kertas pembungkus itu di tempat sampah. Dibersihkannya mulutnya dengan selembar tissu basah dan lalu melanjutkan ceritanya.

“Aku tahu kamu nggak berminat sama tawaranku..”
“Hehhee..iya. Aku cuman tertarik sama ceritanya saja.”
“Baiklah kalau begitu. Sekalian saja aku cerita. Itung-itung aku juga ingin membagi bebanku.”

Lantas mulailah Irma bercerita. Sekitar 3 tahun yang lalu, Irma memberanikan diri untuk menapakkan kakinya di Hong Kong. Dengan berbekal pengalaman dan pengetahuan yang minim, Irma berkeyakinan kalau dia bisa menuai sukses di negeri Jacky Chan ini. Cerita mengenai TKW-TKW yang pulang dengan segepok dollar ditangan selalu menarik perhatiannya.

Kontrak pertama di selesaikannya dengan baik. Tapi tidak demikian dengan kontrak ke dua. Di majikannya yang ke dua ini, Irma tidak di perkenankan untuk tinggal bersama dengan mereka. Majikannya lebih memilih meng-kostkan Irma pada sebuah boarding house. Di sini lah awal dari malapetaka itu datang.

Jam kerja Irma di rumah majikan di mulai dari jam 7 pagi sampai dengan jam 9 malam. Selepasnya Irma boleh kembali ke boarding house dan merengguk kebebasan. Seperti semua orang tahu, Hong Kong selalu terlihat lebih cantik di malam hari. Hal inilah yang tak ingin di sia-siakan Irma. Mulailah dia melakukan eksperimen-eksperimen kecil. Oleh seorang teman, Irma diajak ke sebuah diskotik di daerah Wanchai. Irma dan teman-nya mulai mengenal pria-pria ekspatriat di tempat itu. Pria-pria berkantong tebal yang siap men-transferkan sebagian isi dompetnya kepada wanita mana saja yang mau diajaknya “bersenang-senang”.

Begitulah awalnya. Irma terbujuk akan nikmatnya surga dunia. Sampai-sampai dia lupa pekerjaan utamanya. Dia melalaikannya. Pernah satu hari dia tak mendatangi rumah majikannya untuk menunaikan kewajibannya. Semakin hari, Irma semakin malas untuk bekerja. Dia lebih memilih menekuni profesi sampingannya. Namun Irma rupanya lupa bahwa dia terikat kontrak kerja. Akhirnya majikan Irma tahu tentang sepak terjang Irma di luaran. Majikannya itupun memecatnya tanpa ampun.

Setelahnya Irma menjadi linglung. Dia panik. Hak nya untuk tinggal di Hong Kong menjadi sangat terbatas setelah dia di-terminate. Maka iapun segera mencari job baru. Untuk sementara pekerjaan sampingannya dihentikan.

Irma pun mendatangi sebuah employment agency. Agen tersebut kemudian menawarkan satu pekerjaan untuk Irma. Menjadi “partner” seorang pria kewarganegaraan Amerika.
“Mbak tahu nggak kalau banyak agen di Hong Kong yang menawarkan pekerjaan semacam ini? Pernah denger?” Irma seketika menanyakan hal ini kepada saya.
“Iya pernah Mbak. Karena dulu saya juga pernah ditawari agen.

Oya mengenai “agen nakal” saya juga pernah memiliki pengalaman serupa. Ceritanya dulu ketika kontrak pertama saya hampir berakhir, saya berniat untuk mencari majikan lain. Nah di salah satu agen yang saya datangi ada sebuah penawaran kerja. Di situ saya di-interview langsung oleh calon majikan. Melalui sambungan telepon calon majikan itu (pria berkebangsaan Australia) memberi saya pertanyaan-pertanyaan “aneh”. Diantaranya ; “What are you good at?” Jujur saya bingung gimana harus ngejawabnya. Lantas dengan ragu-ragu saya bilang “I’m good at looking after children.” Mendengar jawaban saya dia malah tertawa terbahak-bahak. Lantas pertanyaan dia selanjutnya sungguh-sungguh membuat saya muak. “How ’bout making love? Are you good at it?”

Langsung saja saya tutup sambungan telepon itu dan bertanya kepada si agen. Bukannya meminta maaf, si agen malah menyalahkan saya karena saya dianggap tidak sopan dengan mengakhiri pembicaraan itu. Si agen bilang. Ini hanya penawaran. Kalau kamu mau ya ambil. Kalau kamu tidak mau ya tinggalkan. Toh misalnya kamu nggak mau, banyak teman-teman kamu yang mau! Masyaallah saya benar-benar kaget dengan ucapan agen itu. Kata-kata “banyak teman-teman kamu yang mau” itulah yang membuat saya shock. Dan memang kenyataan itu saya temui. Irma adalah buktinya. Salah satu dari “orang-orang” yang di sebut si agen tersebut.

Kembali kepada kisah Irma. Singkat cerita Irma akhirnya dipekerjakan pada seorang pria berkebangsaan Amerika. Sebut saja namanya David. Bersama David, Irma hidup bersama layaknya suami istri. David tetap membayar gaji Irma seperti apa yang tertera pada pada kontrak kerja sebagai domestic helper.

“Aku masih beruntung Mba’. Bojo-ku (David) nggak neko-neko. Dia memenuhi semua kebutuhanku. Termasuk biaya hidup kedua orang tua dan adik-adikku di kampung. Banyak loh embak-embak lain yang dikontrak dengan cara seperti ini, tapi oleh “partner” nya masih di jual lagi ke orang lain..”

Miris sekali saya mendengar cerita Irma. Saya sempat bertanya kepadanya tentang pilihan. Kenapa dia tak memilih pekerjaan yang “benar”? Toh banyak peluang di sini. Irma bilang, dia sudah terlanjur basah ya sudah nyemplung sekalian sajalah! Bukannya dia tak mau kerja jadi pembantu lagi. Tapi dia bilang gaji yang diperolehnya sungguh tak cukup untuk membiayai hidup seluruh keluarganya di kampung. Dia menjadi tulang punggung keluarga. Hmmm..alasan klasik. Tak ada lagi yang bisa saya katakan. Saya juga nggak ingin menggurui atau sok bijak. Yang saya tahu dia bercerita panjang lebar untuk sekedar meringankan bebannya.

Diakhir cerita, dia menghela nafas panjang. Dengan sedikit menahan airmata yang hendak meloncat keluar, dia berkata : “Mbak, makasih ya udah mau ndengerin curhat saya. Nggak tahu kenapa kok saya merasa lega. Jujur Mbak, saya takut kalau bapak sama ibu saya tahu tentang pekerjaan saya yang sebenarnya di sini..”

Hampir 1 jam lamanya kami berbincang di tempat itu. Agak canggung juga berlama-lama. Tak enak dengan pengunjung yang lainnya. Maka sayapun berpamitan kepada Irma. Sebelum saya melangkah jauh, Irma memanggil saya dan berkata sesuatu.
“Mbak, soal tawaran saya yang tadi lupakan saja ya..!”
Saya mengacungkan jempol kepadanya tanda setuju. Sembari tersenyum saya lambaikan tangan saya kepadanya sebagai ganti dari ucapan selamat tinggal.

Irma, satu penggalan kisah yang terkesan sangat “memalukan” untuk diceritakan. Tapi inilah faktanya. Banyak rekan-rekan kita yang terjerumus di lembah nista di negeri orang. Pemenuhan kebutuhan hidup memang menjadi alasannya. Atau lebih tepat dibilang sebagai dalih saja. Apalagi di sini banyak perantara seperti agen tenaga kerja yang aktif mendukung “bisnis haram” ini.

Memang pada akhirnya dikembalikan lagi kepada diri kita masing-masing. Apapun alasannya, kesulitan hidup hendaklah tidak kita jadikan alasan untuk menempuh jalan pintas dan mengorbankan segala sesuatunya. Harga diri, masa depan dan tentu saja tanggung jawab moril kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tsim Tsa Tsui, 10 April 2012

Aulia

*foto: koleksi pribadi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mereka Meninggalkan Ego demi Kesehatan …

Mohamad Nurfahmi Bu... | | 31 October 2014 | 00:51

Rokok Elektronik, Solusi Stop Merokok yang …

Gaganawati | | 31 October 2014 | 01:19

Profit Samsung Anjlok 73,9%, Apple Naik …

Didik Djunaedi | | 31 October 2014 | 07:17

Ihwal Pornografi dan Debat Kusir Sesudahnya …

Sugiyanto Hadi | | 31 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 10 jam lalu

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 11 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Pengampunan Berisiko (Kasus Gambar Porno …

Julianto Simanjunta... | 13 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Bukan Diriku …

Roviatus Sa'ada... | 8 jam lalu

Humor Revolusi Mental #017: Orang Batak …

Felix | 8 jam lalu

Sabang & Tugu Nol Kilometer yang …

Muslihudin El Hasan... | 8 jam lalu

Hanya Kemendagri dan Kemenpu yang Memberi …

Rooy Salamony | 8 jam lalu

Distributor Rokok Mengambil Alih Permainan …

Jumardi Salam | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: