Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Astrid Athina

Because we are born to speak out!

Globalisasi: Jurang Pemisah antara Si Kaya dan Si Miskin

OPINI | 07 April 2012 | 12:23 Dibaca: 752   Komentar: 0   0

1333801129107460549

Proses globalisasi ditandai dengan meningkatnya saling keterkaitan di berbagai belahan dunia melalui proses ekonomi, lingkungan, politik, dan perubahan kebudayaan. Dengan demikian, globalisasi juga dapat diartikan sebagai proses integrasi dunia disertai ekspansi pasar dengan berbagai implikasinya di dalam kehidupan manusia. Terjadinya globalisasi tentu tidak dapat dihindari oleh semua bangsa di dunia, termasuk Indonesia.

Menurut laporan World Development Report bahwa integrasi ekonomi dunia dapat memicu pertumbuhan ekonomi, namun demikian tetap banyak negara berkembang yang meragukannya. Akibat globalisasi, terjadi persaingan di semua sektor kehidupan, termasuk keinginan untuk memiliki lapangan pekerjaan. Globalisasi secara tidak langsung sangat menuntut kualitas sumber daya manusia yang unggul. Bukan hanya dari segi kemampuan intelektual saja, melainkan penguasaan keterampilan yang berorientasi pada semangat dan keinginan kerja yang lebih tinggi. Hal ini bertentangan dengan masyarakat miskin karena mereka sangat sulit untuk bisa menikmati tingkat pendidikan yang tinggi akibat keterbatasan faktor biaya.

Dengan adanya globalisasi pula, masyarakat miskin yang tidak mampu memberdayakan dirinya akan menjadi obyek permainan orang – orang kaya. Sehingga kehidupan mereka semakin tertindas dan terjajah. Pendek kata, globalisasi semakin mempertajam jurang perbedaan antara orang kaya dan orang miskin serta mengisyaratkan pemisahan kelas jika tidak ditanggulangi secara maksimal.

Globalisasi sebagai dominasi negara – negara modal atau negara pencetus globalisasi. Guna membenarkan eksistensi dari proses global ini, globalisasi didukung oleh ideologi pasar bebas di mana modal, tenaga kerja, dan komoditas perdagangan bergerak tanpa hambatan fiskal dari satu negara ke negara lainnya. Secara formal, proses ini diperkuat oleh lahirnya bank – bank dunia yang bertindak sebagai institusi utama proyek globalisasi yang dimaksudkan untuk mengatur sistem perdagangan internasional secaral masif, dengan tujuan untuk meliberalisasi pasar. Melalui bank – bank dunia tadi, negara maju memaksa negara berkembang untuk menerapkan kebijakan globalisasi dalam kebijakan nasional mereka. Dengan artian supaya negara pemilik modal atau pencetus globalisasi atau negara maju, bisa dengan leluasa mengeksploitasi sumber – sumber ekonomi yang ada di negara – negara berkembang tersebut. Melalui pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa globalisasi sangatlah identik dengan penjajahan atau imperialisme karena adanya peningkatan konsentrasi monopoli dari berbagai sumberdaya dan kekuatan ekonomi oleh perusahaan – perusahaan transasional, lembaga – lembaga ekonomi keungan internasional, dan negara – negara pemilik modal.

Menurut saya, globalisasi membawa sisi negatif dan positif terhadap perkembangan bangsa Indonesia tersendiri. Kita dapat mengambil manfaat dari globalisasi dan menerapkannya di Indonesia. Manfaat globalisasi antara lain kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, mempermudah arus modal dari negara lain, dan meningkatkan perdagangan internasional. Namun, dari sisi negatif nampaknya harus sesegera mungkin ditanggulangi. Sebab keberadaan globalisasi dapat memperburuk ekonomi rakyat kecil. Produk - produk asli Indonesia harus dengan susah payahnya bersaing dengan produk made in China dan negara lain.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ajari Anak Makan Pagi yang Harmonis dan …

Gaganawati | | 27 February 2015 | 16:41

Mempertanyakan Kewenangan DPRD DKI Jakarta …

Hendra Budiman | | 27 February 2015 | 11:40

Peribahasa Indonesia yang Perlu Digugat …

Gustaaf Kusno | | 27 February 2015 | 15:40

6 Tahun, Kompasiana Sudah Jadi Apa? …

Hendra Wardhana | | 27 February 2015 | 15:22

Seramnya Jembatan Merah di Sleman, …

Mas Ukik | | 27 February 2015 | 13:18


TRENDING ARTICLES

Ingin Makzulkan Ahok, DPRD Malah ‘Gali …

Shendy Adam | 5 jam lalu

Inilah Anggaran UPS yang Buat Ahok Marah …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Ketika Ahok “Diangketin” DPRD …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Nasib Ahok vs DPRD, Akankah Seperti Risma? …

Ilyani Sudardjat | 10 jam lalu

Boikot Bali Blunder Terbesar Australia …

Rizky Febriana | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: