Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sumiarti Haryanto

Ibu 4 anak, bekerja, suka bercanda

Awalnya Curhat, Akhirnya Selingkuh

OPINI | 07 April 2012 | 03:43 Dibaca: 9346   Komentar: 12   2

Ini cerita dari seorang teman, dia pria beristri dan beranak tiga.. Saat ini, rumah tangganya menjadi kacau balau: istrinya sangat bersedih karena mendapati suaminya berselingkuh dan berniat menceraikannya demi bersatu dengan WIL-nya. Anak-anak sangat menderita karena orang tuanya terus menerus bertengkar dan saling menghujat di depan mereka. Jiwanya terganggu, sekolah kacau, kesehatan menurun…

Semuanya berawal dari CURHAT ……….

Dia punya teman curhat, seorang perempuan yang sudah bersuami dan memiliki anak…Awalnya mereka berteman dan berlaku sewajarnya sebagai teman.. .

Namun, arah pembicaraan akhirnya sampai pada keluh kesah tentang keluarga masing-masing… Dari masalah yang ringan sampai akhirnya berbicara dari hati ke hati tentang persoalan rumah tangga masing-masing…. tentang istri yang dirasa serba penuh kekurangan, terlalu cerewet, terlalu ini dan itu.. Pendeknya, tidak ada lagi kelebihan istri yang bisa dibanggakan kepada teman curhatnya… Dia merasa rumah tangganya penuh dengan masalah, tidak bahagia dan tidak harmonis..

Pembicaraan menjadi lebih dramatis karena sang teman curhat pun menceritakan hal yang kurang lebih sama tentang suaminya.  Pendeknya, mereka merasa SENASIB SEPENDERITAAN!!! Ada nada penyesalan setiap mereka berbincang: menyesal karena seolah-olah mereka telah salah dalam memilih pasangan, ternyata istri/suaminya bukanlah pasangan ideal seperti yang pernah mereka bayangkan.

Pada akhirnya, mereka saling memuji dan mengagumi: tidak seperti kamu yang sangat pengertian, perhatian, sabar dan……. bla-bla-bla….

Akhirnya, KLOP!!!!! Mereka merasa cocok dan akhirnya pula merasa saling jatuh cinta… CINTA yang benar-benar buta karena yang ada dalam pikiran mereka adalah bagaimana caranya mereka dapat bersatu. HANYA MEREKA.Hanya diri mereka yang mereka pikirkan. Tidak peduli apa yang dirasakan pasangan masing-masing, anak-anak mereka yang sudah beranjak besar… Mereka yakin telah menemukan pasangan yang mereka inginkan, serba cocok, serba ideal, serba bahagia… HAPPILY EVER AFTER pokoknya..

Mereka pun lupa bahwa sebelum mereka menikah dengan pasangan masing-masing, mereka dulu mengalami saat-saat seperti MADU dalam kehidupan: saling jatuh cinta, saling memuji, merasa salin cocok, merasa saling membutuhkan, merasa telah menemukan BELAHAN JIWA..

Orang bijak bilang bahwa menikah bukanlah akhir dari masalah, melainkan awal terjadinya lebih banyaaaaak lagi masalah. Kita menikah dengan seseorang, tidaklah hanya menikahi cintanya saja, melainkan juga raganya, jiwanya, sikapnya, perilakunya, kebiasaan-kebiasaannya.. yang sudah terbentuk sejak lama sebelum kita menikah dengannya. Pastilah akan sangat banyak perbedaan dan mengharuskan kita harus bertoleransi dan saling menghargai…

Kita menikah dengan pasangan kita, kita juga menikahi keluarganya: orang tuanya, kakak-adik, paman-bibi, opa-oma… dan seterusnya.. Ada banyak orang yang akan terlibat dan berinteraksi dengan kehidupan rumah tangga kita. Pada kenyataannya, kita pun sesungguhnya membutuhkan dukungan dan bantuan dari mereka.

Maka, memang selayaknya kita perlu berhitung cermat, berpikir dalam-dalam sebelum¬† MENUMPAHKAN masalah kepada orang lain. Apalagi masalah “dalam negeri” rumah tangga kita. Jangan curhat kepada sembarang orang!!! Siapa tahu, maksudnya ingin mencari teman berbagi dan menumpahkan keluh kesah,tapi justru berujung masalah yang lebih besar dari masalah yang kita alami sebelumnya….

Salam…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Ekspektasi Rakyat terhadap Jokowi …

Fitri.y Yeye | | 21 October 2014 | 10:25

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 11 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 13 jam lalu

Anda Tidak Percaya Alien, Maka Anda Sombong …

Zulkifli Taher | 13 jam lalu

Anfield Crowd, Faktor X Liverpool Meredam …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Ajari Anak Terampil Tangan dengan Bahan Alam …

Gaganawati | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Fadli Zon dan Hak Prerogatif Presiden …

Phadli Hasyim Harah... | 7 jam lalu

Hobi Membaca Mengantarku ke Tanah Suci …

Agung Han | 7 jam lalu

Rumah Transisi, Tim Perumus Atau Tim …

Thamrin Dahlan | 7 jam lalu

Perubahan Adalah Sebuah Keharusan Puskesmas …

Ramluddin Ram | 7 jam lalu

Sebuah Teks Refleksi Atas Sebuah Teks …

Adica Wirawan | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: