Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Riswandi

Menyemai Kisah, Menuai Hikmah

Biaya Stempel di Samsat Rp 25.000,00

REP | 20 March 2012 | 02:39 Dibaca: 177   Komentar: 13   1

Ternyata sudah hampir 1 tahun saya tidak menulis di Kompasiana lagi. Mumpung lagi ada tema yang menggelitik hati, kerinduan menulis di media ini mungkin akan sedikit terobati. Ini adalah pengalaman dari istriku yang tadi pagi ke Samsat untuk membayar pajak motor kami. Kejadian ini diceritakan oleh istri saya dengan menggebu-gebu….

Membayar pajak, yang intinya untuk kemajuan bangsa, ternyata ada tambahan BIAYA SILUMAN. Istri saya pergi ke Samsat dengan membawa persyaratan lengkap. Setelah mengisi formulir, istri saya diminta untuk menyetempel formulirnya. Nah, di sinilah istri saya “ditodong” dengan biaya stempel sebesar Rp25.000,00. Bayangkan saja, hanya untuk stempel yang menghabiskan tinta satu tetes, ternyata harganya Rp25.000,00. Ternyata, biaya itu tidak disertai dengan kuitansi yang sah. Apa namanya kalau bukan BIAYA SILUMAN? Dan, anehnya lagi, tempat minta stempel itu ternyata sebuah ruangan khusus yang tertutup lemari dan tidak tampak dari para pengantre. Makin jelaslah kalau ternyata stempel itu adalah sumber pendapatan tambahan bagi para petugas.

Saya yakin jika praktik seperti itu sudah berlangsung cukup lama dan masyarakat umum sudah mengetahuinya. Tapi anehnya, kenapa kepala Samsat tidak mengetahuinya? Atau jangan-jangan malah beliau mendapatkan bagian? Ah… gak taulah….

Rp25.000,00 mungkin bagi pembayar pajak tidak menjadi masalah, asal urusannya beres. Namun, coba kita hitung secara kasar, jika dalam 1 tahun 1 kantor Samsat melayani 1 juta motor, berapa duit yang terkumpul? Tentu jumlah yang sangat besar, bukan? Apakah praktik seperti itu akan terus dipelihara oleh pihak kepolisian? Lalu, bagaimana komitmen kepolisian yang akan Melayani Masyarakat?

Ah… malas saya mencari jawabannya. Bagaimana menurut pembaca? Apakah pungutan itu wajar?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kuliner: Dari Mesir ke Yordania Bersama …

Andre Jayaprana | | 20 September 2014 | 18:49

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | | 20 September 2014 | 21:49

Asian Games 2018, tantangan bagi Presiden …

Muhamad Kamaluddin | | 21 September 2014 | 04:34

Bingung Mau Buka Usaha Apa? Ini Caranya …

Yos Asmat Saputra | | 21 September 2014 | 06:39

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 5 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 8 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 21 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 20 September 2014 13:00


HIGHLIGHT

Pemberian Itu Bahasa Kasih …

Roy Soselisa | 7 jam lalu

Dosa Sarjana Ilmu Komunikasi (Media) …

Yons Achmad | 8 jam lalu

Jokowi: Pendidikan, Riset, dan Intelejen …

Ay_satriya Tinarbuk... | 8 jam lalu

Menggadaikan Wakil Rakyat …

Yustinus Sapto Hard... | 8 jam lalu

Keadilan untuk Orang Miskin vs Keadilan …

Jubir Darsun | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: