Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Rina.arsip

Mahasiswa Ilmu Perpustakaan konsentrasi Kearsipan di Universitas Diponegoro Bermimpi, salah satunya, mewujudkan masyarakat indonesia sadar arsip selengkapnya

Arsip, Perpustakaan dan Ilmu Informasi

OPINI | 05 March 2012 | 07:43 Dibaca: 281   Komentar: 0   0

Akhir-akhir ini saya kembali dibukakan pemahaman baru tentang mengapa arsip selalu diidentikkan dengan perpustakaan bahkan dengan ilmu informasi. Awalnya saya beranggapan bahwa ketiganya terkait dengan sumber informasi, lebih tepatnya arsip dan perpustakaan adalah ilmu pengelolaan sumber informasi, sedangkan ilmu informasi sendiri lebih menekankan pada pengelolaan konten dan konteks informasi atau dengan kata lain manajemen informasi.

Namun ternyata tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Saya menganalisis hubungan ketiganya melalui satu bidang, yaitu ilmu kearsipan. Tugas tidak hanya untuk dikerjakan tapi juga dipahami, maka kita dapat menyerap lebih banyak ilmu maupun wacana yang dapat memperkaya diri kita. Yes, of course. Memang benar. Tugas penerjemahan dan presentasi salah satu bab dari sebuah buku kearsipan full-english ternyata membuat pemahaman saya tentang keterkaitan ilmu kearsipan dengan ilmu perpustakaan menjadi lebih bertambah. Fredric M. Miller dalam Arranging and Describing Archives and Manuscripts yang diterbitkan oleh SAA atau perkumpulan masyarakat arsiparis Amerika di salah satu babnya menjelaskan bahwa ideologi kearsipan terbagi dalam kearsipan ala Eropa dengan birokrasi perkantoran modern dan kearsipan ala Amerika dengan masyarakat sejarawan dan pustakawannya. Sebagian besar negara memang berusaha untuk mengadopsi sistem kearsipan ala Amerika yang telah mengkombinasikan sistem perpustakaan dengan sistem kearsipan ala Eropa yang pada awalnya mereka anggap tidak sesuai dengan kondisi Amerika saat itu. Di sinilah kemudian saya memahami bahwa tidak mengherankan manakala arsip dan perpustakaan di tingkat pemerintahan Indonesia kemudian tergabung dalam satu atap. Saya berhipotesis bahwa sistem kearsipan birokrasi Indonesia lebih mengadopsi sistem kearsipan ala Amerika yang telah dimodifikasi.

Lantas bagaimana dengan ilmu informasi? Senin lalu saya mendapatkan kulyah tentang perbandingan sistem kearsipan tradisional yang menggunakan metode life cycle of records dengan sistem kearsipan yang dihasilkan oleh ilmuwan Australia records continuum model. Dalam salah satu perbandingannya menyebutkan bahwa life cycle of records lebih menekankan pada fisik arsipnya, sedangkan dalam records continuum model menekankan tidak hanya fisik tetapi juga isi arsipnya karena hal ini pun terkait juga dengan prosedur penilaian ketika arsip akan disusutkan. Seperti yang diutarakan Dr. Mona Lohanda, M.Phil di seminar nasional kearsipan perguruan tinggi bahwa arsiparis tidak seharusnya terlalu berkutat pada pengelolaan fisik saja tetapi juga dalam manajemen informasinya.

karena memang tidak ada ilmu yang berdiri sendiri, tapi saling mendukung, saling mengisi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Terbang ke Sumbawa Bersama Mimpi …

Dhanang Dhave | | 26 January 2015 | 13:38

Modus Operandi Mafia Hukum …

Toni Pamabakng | | 26 January 2015 | 13:10

Menimbang Perlunya Hak Imunitas Bagi KPK …

Abd. Ghofar Al Amin | | 26 January 2015 | 17:39

E-Dolly: Sebuah Metamorfosa Geliat Bisnis …

M A Rosyid | | 26 January 2015 | 17:10

Selamat! Ini 6 Pemenang Kispray Antikuman …

Kompasiana | | 26 January 2015 | 18:44


TRENDING ARTICLES

Demokrat Untung PDI-P Buntung …

Susy Haryawan | 3 jam lalu

Mengapa KPK Diserang Awal Tahun 2015? …

Muthiah Alhasany | 4 jam lalu

KPK Akan Tangkap Megawati …

Mr Sae | 6 jam lalu

Tedjo Sindir Presiden Joko Widodo …

Muhammad Armand | 9 jam lalu

Istana Negara = Istana PDI Perjuangan …

Isson Khairul | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: