Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Didik Yandiawan

Alam semesta adalah guru terbaik saya. Kunjungi saya di: http://www.didikyandiawan.com

Falsafah Siri’ na Pacce

OPINI | 29 February 2012 | 10:16 Dibaca: 843   Komentar: 2   1

13305105451725736509

Guru Bahasa Daerah (Bugis) saya ketika bersekolah di SD Negeri 3 Sinjai, Ibu Muliyati, pernah menyampaikan pesan kepada murid-murid beliau. Saat itu saya masih berusia tujuh tahun, tepatnya masih duduk di kelas dua. Dalam menyampaikan pesan, ibu guru yang akrab kami sapa dengan panggilan Bu Muli’ selalu menyelipkannya bersama cerita pendek untuk kami. Saya tidak mampu mengingat dengan detail seluruh cerita beliau ketika itu, cerita tentang kehidupan leluhur Bugis-Makassar sebagai pelaut dan petualang tangguh. Saya hanya mengingat kata-kata siri’ na pacce berulang kali disebutkan oleh beliau. Dengan pengetahuan yang masih terbatas, saya hanya mengetahui arti katanya saja: rasa malu dan solidaritas.

Belakangan, setelah saya beranjak remaja saya akrab dengan kata siri’ na pacce tersebut. Di beberapa kesempatan berdiskusi dengan sahabat-sahabat masa kecil saya, kerap kali tema ini mengemuka. Bagi masyarakat Bugis-Makassar, kampung halaman tempat saya lahir dan dibesarkan, kata tersebut adalah falsafah hidup yang dipegang teguh dan diperjuangkan sepanjang hayat. Saya mendapat banyak pelajaran berharga dari para tokoh masyarakat yang disegani di lingkungan masyarakat. Tanpa harus menyebut nama, saya bisa melihat sekaligus mempelajari keseharian masyarakat di lingkungan kami yang masih menjunjung tinggi adat dan agama sebagai dua pilar yang bersinergi sebagai penjaga peradaban masyarakat.
Mari kita telaah filosofi ini satu demi satu. Kata siri’ secara harfiah artinya rasa malu. Bila diartikan lebih mendalam, siri’ (rasa malu) dalam falsafah budaya masyarakat Bugis-Makassar dijabarkan ke dalam dua makna universal, yaitu:
  1. Senantiasa menjaga kehormatan dan martabat diri, keluarga, dan masyarakat. Dalam konteks ini, perjuangan untuk menegakkan harga diri dari segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan menjadi harga mati bagi masyarakat Bugis-Makassar yang menganut falsafah tersebut. Jika dihinakan tanpa dasar yang jelas, maka seseorang harus mengembalikan harga dirinya sebagai penebus rasa malu akibat diperlakukan secara tidak manusiawi.
  2. Senantiasa ulet, tangguh, dan bersemangat untuk mencapai tujuan dengan berlandaskan nilai agama. Dalam konteks ini, masyarakat Bugis-Makassar yang menganut falsafah tersebut selalu berusaha dengan sepenuh hati dan pantang menyerah demi mencapai tujuannya. Dalam mencapai tujuan itu, nilai kejujuran dan watak ksatria menjadi penopang utamanya.
Dua makna siri’ tersebut menjadi penjaga kehormatan yang utama bagi masyarakat Bugis-Makassar. Sama sekali tidak terkandung sedikitpun unsur anarkis dan kekerasan di dalam mempertahankan falsafah ini. Hal ini dikarenakan falsafah siri’ ini dititiskan oleh para leluhur yang ditujukan untuk kesetaraan perlakuan dalam berbagai lapisan masyarakat dan dalam berbagai sendi kehidupan bermasyarakat. Praktis, tidak ada pembeda antargolongan masyarakat, dari kalangan raja, cendekia, ulama, pedagang, dan pekerja. Sebab porsi siri’ selalu dikedepankan sebagai wujud respek antargolongan, saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Bersatu menuju kemajuan peradaban yang memuliakan kemanusian yang ditopang oleh menjaga salah satu hak asasi manusia: menjaga kehormatan dan harga diri manusia yang dimanifestasikan dengan menjaga rasa malu.

Kata pacce sebagai pengiring yang tak terpisah maknanya dengan falsafah siri’ mengandung makna solidaritas. Dengan menganut empat prinsip utama manusia unggul dalam tatanan masyarakat Bugis-Makassar, yaitu jujur (lempu), tegas (getteng), berani (warani), dan cerdas (macca), falsafah pacce diwujudkan dalam beberapa wujud solidaritas. Solidaritas tersebut berwujud cinta kasih, menumbuhkan empati terhadap siapapun yang mengalami kesusahan, dan tanggung jawab untuk tetap teguh pendirian pada cita-cita mulia sekaligus berani menghadapi tantangan dan hambatan yang akan timbul di kemudian hari.

Siri’ na pacce pada hakikatnya adalah kesadaran emosional untuk menanamkan budi pekerti yang sesuai tatanan alami bumi dan kodrat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Tunduk, patuh, malu, dan bertanggung jawab terhadap misi pengembaraan yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta selama diberkahi hidup. Pada akhirnya, dengan mengamalkan falsafah siri’ na pacce setiap lapisan masyarakat dapat meneruskan nilai luhur di dalam kesehariannya. Pemimpin akan menjadi sosok yang tegas, berwibawa, dan dipercaya masyarakatnya. Masyarakat akan menjadi sosok pekerja keras, optimis, ulet, dan dapat membawa negaranya menuju kedigdayaan. Cendekia dan pemuka agama akan menjadi sosok yang pandai, jujur, adil, netral, dan menjaga kemaslahatan pemimpin dan masyarakatnya.

Seandainya saja setiap manusia memegang teguh prinsip ini, masa depan generasi terbaik akan lebih benderang. Kemajuan peradaban yang madani tidak hanya terwujud dalam lingkup lokal, melainkan dalam lingkup nasional. Seperti cita-cita dalam nilai-nilai kebangsaan kita, mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Optimis? Saya optimis!

+Didik Yandiawan+

tulisan ini dapat dibaca di blog saya: www.blog-didik.blogspot.com dan www.saya.didikyandiawan.com

sumber gambar: http://www.about26.co.cc/2011/03/seluk-beluk-baju-bodo.html

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 6 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 7 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 11 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: