Artikel

Sosbud

Philip Ayus

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

menjaga kewarasan lewat tulisan.

Zamrud Khatulistiwa


OPINI | 22 February 2012 | 17:41 Dibaca: 46   Komentar: 4   Nihil

Adanya berbagai kasus kejahatan seperti korupsi, pembunuhan, dan pemerkosaan pasti akan mempengaruhi–besar maupun kecil–cara kita memandang negeri ini. Apalagi jika kita sendiri adalah salah satu korban atau keluarga korban tindak kejahatan, baik secara fisik maupun mental. Jika anda pernah merasa terancam ataupun terintimidasi oleh pemalak di atas bus kota, metromini, ataupun kopaja, anda sejatinya adalah korban.

Saya melihat perkembangan yang mengkhawatirkan terhadap cara pandang kita terhadap bangsa ini. Sebagian sudah mengambil sikap pesimis terhadap masa depan Indonesia, sebagian lagi menjadi apatis, alias acuh tak acuh terhadap kondisi bangsa. Semakin sedikit orang yang benar-benar peduli dengan bangsa ini. Akibatnya, tak sedikit yang melarikan diri kepada hedonisme dan fanatisme, yang dirasa bisa melegakan hati.

Kita tak bisa berjalan tegak, jika kita tak tahu di tanah seperti apa kita berpijak. Kondisi sekeliling yang membingungkan bisa mencerabut pemikiran kita dari hal-hal mendasar yang kita butuhkan untuk berjalan, dan itulah yang seringkali terjadi. Ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Kita harus belajar untuk mengingat terus, negeri seperti apakah yang buminya kita pijak ini.

Saya sangat setuju dengan lagu “Nusantara” yang dinyanyikan oleh Koes Plus. Saya sepakat, bahwa tanah kita adalah tanah surga. Meski mungkin sedang berada di dalam gelap, kita tak boleh lupa bahwa selalu ada terang, dan bahwa terang itu selalu mengalahkan kegelapan. Meski tanah surga ini sedang disandera oleh calon-calon penghuni neraka, kita tak boleh lupa, bahwa bagaimanapun juga, Nusantara adalah anugerah Tuhan bagi kita.

Hal-hal itulah yang harus selalu kita ingat ketika kita menjalani masa hidup kita sebagai bagian dari negeri ini. Kita adalah para pemukim tanah surga, dan dengan paradigma ini, kita selayaknya mendiami tanah ini dengan sikap yang selayaknya sebagaimana penghuni surga bersikap. Hanya dengan “sikap surgawi” itu, kita dapat benar-benar mewujudkan Indonesia yang “gemah ripah loh jinawi, ayem tentrem karta raharja,” yang makmur dan damai.

Kawan, negeri kita adalah Zamrud Khatulistiwa yang membentang sepanjang Nusantara. Tak hanya kekayaan alamnya yang melimpah, kekayaan budaya dan bahasa kita pun tak tertandingi oleh bangsa manapun di seluruh dunia. Hal inilah yang kadang membuat saya heran, mengapa orang lebih memilih berlibur ke luar negeri daripada ke negeri sendiri yang seumur hidup takkan habis terjelajahi.

Ah, semoga saya berkesempatan untuk mengelilingi Zamrud Khatulistiwa ini dan menikmati segala keragaman alam dan budaya yang dilimpahkan Tuhan atasnya. Bagaimana dengan anda? Tuhan beserta kita semua!

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: