
Dibaca: 107
Komentar: 0
Nihil
Pada acaranya (Don’t tell my mother) yang terakhir saya tonton di National Geographic Channel, Diego Bunuel menyajikan sketsa mengenai polisi susila di Aceh, kemudian masjid waria di Yogya, lalu nasib anak-anak orang utan di Kalbar, dan akhirnya kopi luwak di Jawa Timur.
Aceh
Satuan khusus pemda Banda Aceh yang menyebut dirinya Polisi Susila, melakukan patroli dan razia tiap malam di sekitar Banda Aceh. Obyek razia: segala sesuatu yang tidak sesuai dengan syariah Islam. Obyek ini dapat dipersempit menjadi: Laki-laki dan perempuan bukan suami istri yang berdua-duaan dan minuman keras.
Selagi menuju lokasi razia, ada motor lewat yang ditunggangi seorang lelaki muda memboncengkan seorang wanita muda berjilbab. Diego bertanya kepada salah seorang anggota polisi susila yang masih muda:
“Lihat itu. Sepasang muda-mudi berboncengan sepeda motor. Laki-laki dan perempuan hampir saling berpelukan. Tidakkah itu dilarang agama Islam?”
Pemuda polisi susila itu menjawab:” Ya, itu tidak boleh. Tapi kita tidak mengganggu mereka karena mereka cuma lewat, dan mungkin suami-istri”.
Di lokasi razia polisi susila ini menangkap beberapa prempuan yang dituduh melanggar syariah. Seorang perempuan kelihatan berpakaian seksi, sedangkan seorang lagi berjilbab. Tak ada laki-laki yang ditangkap.
Selanjutnya rombongan polisi menyatroni warung tenda yang dikelola beberapa anak muda. Di bawah tenda terdapat beberapa meja plastik dengan masing-masing dua kursi. Tampaknya memang disiapkan untuk berdua-duaan. Tetapi saat itu tak ada pengunjungnya.
Polisi susila menggeledah gerobak dagangan mereka, dan menemukan kemasan kertas minuman keras, di dalamnya ada botol, tetapi kosong. Ini sudah cukup alasan bagi polisi susila untuk menangkap tiga anak muda pengelola warung itu. Ada keributan sedikit, karena anak-anak muda itu melawan dengan kata-kata. Diego memberikan narasi bahwa anak-anak ini kehilangan orang tua mereka karena tsunami, dan sekarang mencoba mencari nafkah dengan warungnya. Botol minuman keras kosong yang ditemukan dalam gerobak menyeret anak-anak ini ke tahanan.
Narasi Diego menyiratkan ia sulit memahami logika dan prosedur yang digunakan oleh tim polisi susila. Ia menyebut komandan polisi susila yang memang besar badannya dan berkumis sebagai “man of god”, seseorang yang paling tahu apa yang tak boleh dilakukan orang-orang di Aceh. Man of god itu dengan serius memberi tahu Diego:”Minuman keras merusak moral bangsa”.
Dalam salah satu tayangan CNN, polisi susila di Kabul, Afganistan, terlihat menyabetkan tongkat kepada seorang perempuan yang memakai celana Jeans. Menurut man of god, seperti itulah yang akan dialami oleh para perempuan dan anak-anak muda ini nanti di muka umum.
Yogyakarta
Sketsa dimulai dengan adegan Diego sedang potong rambut. Yang memotong rambutnya kelihatan seperti seorang perempuan paruh baya yang berjilbab. Tetapi sebenarnya penata rambut itu seorang waria. Acara potong rambut ini sore, dan belum selesai ketika terdengar suara adzan. Acara potong rambut ditunda, karena penata rambut itu menerangkan salon akan berubah menjadi masjid untuk salat magrib.
Kamera menyorot seseorang melepaskan papan nama salon, dan papan nama berubah menjadi “Masjid Waria ….”.
Selesai salat Diego mengobrol dengan jamaah yang hampir semuanya waria, yang tadi salat di saf belakang dengan mengenakan mukena. Imamnya laki-laki, begitu pula empat orang di saf tepat di belakang imam.
Sambil menunjuk gambar masjid al-Haram di dinding, Diego bertanya:” Ini Makkah. Apakah ada yang berniat pergi ke sana untuk berhaji?”
Hampir semua menyatakan kepingin, bila ada rizki.
“Tapi anda akan pergi sebagai perempuan atau laki-laki?” tanya Diego.
Yang menjawab adalah penata rambut paruh baya:”Kami boleh berangkat dengan menyatakan diri sebagai perempuan, tinggal mengikuti muhrim”.
Diego manggut-manggut, dan beralih kepada imam yang lelaki tulen:”Anda mengimami para waria ini tanpa mempersoalkan mereka. Padahal Islam menganggap mereka ini menyimpang. Bagaimana menurut anda?”
Sang imam menjawab:”Memang status yang diakui agama adalah laki-laki atau perempuan, sesuai dengan jenis kelamin fisiknya. Tetapi mereka ini ternyata tidak dapat berperilaku dan berpikir sebagai laki-laki, sekalipun fisiknya laki-laki. Padahal mereka kepingin juga menjalankan syariah sebagaimana perempuan sungguhan. Saya kira harus ada yang mengakomodasi niat baik mereka dalam hal ibadah ini. Kalau tidak, nanti mereka malah sesat”.
Habis salat, para waria ini mengaji.
Kalimantan Barat
Awalnya gambar-gambar yang disajikan adalah hutan yang gundul, tambang batubara terbuka, dan kebun kelapa sawit. Kemudian gambar seekor bayi orang utan yang digendong seorang perempuan muda kulit putih, kita sebut saja Inez. Inez adalah seorang relawan yang bekerja pada sebuah lembaga (asing) konservasi orang utan.
Bayi orang utan itu kurus. Menurut Inez beratnya cuma sepertiga dari seharusnya. Bayi itu diserahkan kepada lembaga oleh seseorang yang mengaku menemukannya di pinggir jalan, sekalipun menurut Inez sebenarnya bayi itu sudah dipelihara beberapa bulan oleh sebuah keluarga. Takut terkena hukuman ketika tahu memelihara orang utan dilarang, bayi diserahkan kepada lembaga.
Inez menjelaskan bahwa anak orang utan akan terus bersama induknya selama tujuh atau delapan tahun. Seperti manusia, anak orang utan harus belajar dulu untuk bisa hidup mandiri. Jadi kalau ada anak orang utan sendirian, artinya induknya ada yang membunuh. Dalam hal di Kalimantan, pembunuhnya adalah para pembabat hutan, yang akan memanfaatkan hutan untuk tambang atau kebun sawit.
Diego dan Inez kemudian mengunjungi sebuah pusat kegiatan pertambangan yang menurut informasi memelihara dua anak orang utan. Inez ingin mengambil anak-anak orang utan itu untuk dipelihara di lembaganya, agar nanti bisa diliarkan kembali.
Dalam pertemuan, sorang pejabat pertambangan mengaku membeli dua ekor anak orang utan itu dari penduduk. Kalau tidak, katanya, anak-anak orang utan itu akan dibunuh karena dianggap hama. Inez sama sekali tidak terkesan dengan keterangan ini, karena katanya:” Membeli anak orang utan dari penduduk adalah melanggar hukum, karena memperjual belikan orang utan dilarang. Selain itu, karena anak orang utan dianggap ada nilai ekonomisnya, akan makin banyak induk orang utan yang dibunuh oleh penduduk lokal, dengan maksud menjual anaknya”.
Inez malah mencurigai perusahaan tambang ini yang membunuh induk orang utan.
Jawa Timur
Diego berjalan bersama seseorang yang disebutnya pemburu di sebuah kebun kopi. Sang pemburu ternyata pemburu tahi luak.
Tahi luak ternyata 90% biji kopi. Dan luak buang air besar ditempat bersih dan terbuka, misalnya di atas batuan yang datar. Diego mengambil satu dari dua gumpalan biji kopi tahi luak dan menciumnya. Katanya ada baunya sedikit.
Sekarang luwak dibudidayakan, diberi makan biji kopi. Kotorannya menjadi sangat berharga.
Tahi luwak dicuci berkali-kali dengan air, lalu dijemur. Setelah kering biji kopi disangrai, lalu ditumbuk. Kopi luwak berharga dua juta rupiah per kilogram.
Diego bukan peminum kopi. Ketika disuguhi seduhan kopi luwak ia tak dapat menolak. “Ini barang mahal”, katanya. Ia bilang enak sambil manggut-manggut.
Gambar: kopiluwakindonesia.info