
Dibaca: 48
Komentar: 0
Nihil
Tahun ini setelah sempat diberhentikan penempatannya untuk sementara waktu, jabatan Pembantu Rumah Tangga (PRT) asal Indonesia akan kembali memasuki pasar kerja di negara Malaysia. Penghentian sementara penempatan TKI PRT tersebut kabarnya sempat membuat rumah tangga /keluarga di Malaysia limbung, karena kesulitan mencari tenaga kerja untuk menempati jabatan tersebut. Sebagaimana diketahui penghentian pengiriman sementara tersebut sebenarnya merupakan respon dari adanya perlakuan buruk majikan Malaysia terhadap PRT asal Indonesia.
Sumber masalah dari perlakuan buruk tersebut tentunya tidak murni disebabkab oleh salah satu pihak saja, karena tentunya bertepuk tidaklah mungkin sebelah tangan. Selain karena memang masih lemahnya perlindungan terhadap TKI secara umum pasca penempatan, sebenarnya bisa saja masalahnya bersumber dari soal sumber daya manusianya sendiri – dimana PRT tidak memiliki keterampilan/kecakapan didalam tugas. Atau memang karena majikan menganggap rendah PRT sehingga memungkinkannya untuk bertindak sewenang-wenang , akibatnya PRT tidak mendapatkan hak-hak nya.
Tapi kalau kita sedikit mau melihat kedalam, sebenarnya perlakuan terhadap PRT diluar negeri tidaklah terlalu jauh berbeda atau lebih baik kondisinya dengan di dalam rumah tangga / keluarga dalam negeri Indonesia sendiri.
Potret dunia kerja PRT yang tertutup dari mata public ini, gambarannya secara terbuka sebenarnya dapat dilihat dipusat-pusat perbelanjaan ataupun rumah makan.
Lihat saja di pusat perbelanjaan kebutuhan harian seperti disupermarket. Bagaimana sebuah keluarga memperlakukan PRTnya pada saat berbelanja. Selain disibukkan tentengan belanjaan, ataupun troly, terkadang PRT secara bersamaan masih harus disibukkan mengurusi anak majikan, sementara sang majikan – suami istri – dengan santainya berjalan di depannya tanpa peduli.
Atau saat berada dirumah makan, PRT hanya dibiarkan menelan ludah sambil mengasuh anak majikan. Sementara itu majikan sedang lahap menyantap makanan. Belum lagi dari segi upah, para PRT yang bisa dikatakan bekerja hampir sepanjang hari ini, dari hulu kehilir, mulai dari urusan dapur sampai mengasuh anak, mesti rela menerima nasib, digaji jauh dibawah upah minimum.
Jadi rasanya kurang pas kalo kita hanya mengutuki dan berharap ada perubahan terhadap perlakuan tidak manusiawi yang diterima PRT di luar negeri. Sebagai sebuah masyarakat, kita punya pekerjaan rumah dalam memposisikan dan memperlakukan PRT lebih manusiawi lagi dalam keluarga dan masyarakat secara keseluruhan.