Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Severus Trianto

mengembalikan kata pada dunia

FPI, John Kei dan Grand Design untuk Dunia Per-premanan di Jakarta

OPINI | 18 February 2012 | 13:01 Dibaca: 39453   Komentar: 142   47

Kekalahan telak Intermilan dari Bologna membuat saya tidak bisa tidur. Daripada bolak-balik badan tidak jelas, saya mampir saja ke Kompas.com. Berita penangkapan John Kei menyambut kehadiran saya di halaman utama hariann edisi online ini. Terbit rasa ingin tahu di hati: siapa gerangan John Kei ini sampai berita penangkapannya terpampang di halaman depan harian terbesar di Asia Tenggara? Memang, dalam berita itu disebutkan bahwa John Kei adalah ketua himpunan pemuda asal Ambon. Dia ditangkap di salah satu hotel di Pulomas setelah sebutir peluru melukai kakinya. Kok tokoh pemuda ditembak?

Didorong rasa ingin tahu, saya ketik namanya di mesin pencari Google: John Kei. Ada banyak usulan situs yang keluar tetapi dilihat dari judulnya sepertinya tidak ada hubungannya dengan  tokoh yang ditembak polisi itu. Tidak ada rotan akarpun jadi, batin saya. Kalau artikel tidak muncul, klik saja gambarnya. Dan memang, ada beberapa foto wajah yang serupa dengan foto John Kei yang terpampang di Kompas.com. Salah satu foto yang saya pilih menuntun saya untuk memasuki sebuah perbendaharaan informasi tidak saja tentang John Kei tetapi tentang konteksnya yang lebih luas: dunia per-premanan di Jakarta. Ada dua artikel menarik yang ditulis dua orang wartawan Jakarta Post menyangkut dunia bawah tanah Jakarta.

Artikel pertama yang saya baca berjudul: Jakarta prominent mass organization and ethnic groups, yang saya terjemahkan menjadi Ormas-ormas dan Kelompok-kelompok Etnis Penguasa Jakarta… Seperti judulnya, artikel ini memuat profil kelompok-kelompok preman yang berkuasa di Jakarta (http://www.thejakartapost.com/news/2009/08/28/jakarta-prominent-mass-organization-and-ethnic-groups.html). Beberapa kelompok preman sudah pernah saya dengar namanya seperti Pemuda Pancasila dan Forum Betawi Rempug. Tetapi beberapa nama sama sekali baru bagi saya seperti: Laskar Jayakarta, Kelompok Haji Lulung dan kelompok-kelompok anak muda dari Maluku dan Indonesia Timur (dengan tiga pemimpinnya yang terkenal seperti Hercules, Sangaji dan John Kei). Dan saya tidak terkejut bahwa Front Pembela Islam juga digolongkan di jajaran kelompok para preman ini. Bagi saya,  artikel ini seperti sebuah ensiklopedi saku tentang dunia per-premanan di Jakarta. Di sana dapat dibaca tidak saja sejarah setiap kelompok preman tetapi juga bidang usaha dan wilayah kekuasaannya. Salah satu contoh: kelompok Haji Lulung adalah penguasa Tanah Abang. Keamanan dan penanganan sampah di pusat belanja tekstil terbesar di Asia Tenggara ini ditangani oleh kelompok Haji Lulung ini, setelah kelompok ini, atas restu Sutiyoso yang kala itu menjabat Gubernur Jakarta, menggusur Hercules cs . Dari contoh ini dapat ditarik dua butir menarik.

Pertama: dunia per-premanan bukanlah dunia swasta yang lahir secara spontan tetapi sebuah ‘lahan garapan’ para pejabat tinggi pemerintahan (lihat campur tangan Gubenur DKI yang mantan ABRI itu) khususnya POLRI. Beberapa kelompok preman direstui oleh POLRI. Beberapa lagi bahkan sengaja dibidani oleh kesatuan polisi, seperti FPI yang pecahan Pamswakarsa itu (dan pendiri serta pemimpin Laskar Jayakarta adalah mantan pejabat tinggi polisi). Alasan perestuan dan pembentukannya adalah untuk membantu pihak polisi dalam menjaga keamanan sampai tingkat akar rumput. Dalam kenyataannya, yang disebut keamanan adalah kegiatan menarik iuran dari para pengusaha, khususnya pengusaha dunia hiburan.

Kedua: setiap preman punya wilayah kekuasaan dan pelan namun pasti, wilayah Jakarta ini akan dikuasai para preman kelahiran Betawi. Hercules cs yang datang dari Indonesia Timur sudah disingkirkan dan diganti oleh kelompok Haji Lulung yang menampung orang-orang Betawi untuk menguasai Tanah Abang. Laskar Jayakarta, yang menguasai pusat hiburan malam sepanjang jalan Hayam Wuruk, Gajah Mada, Mangga Besar dan pusat bisnis Glodok dimpimpin oleh mereka yang datang dari FBR dan Forkabi (membaca wilayah jajahan Laskar Jayakarta ini, saya tersenyum sendiri karena jadi tahu apa sebab FPI tidak berani menggrebek diskotek dan pusat hiburan malam di bilangan Jakarta Barat ini).

Upaya sistematis untuk membatasi pembagian kue wilayah Jakarta hanya untuk para preman kelahiran Jakarta dijabarkan lebih lanjut dalam artikel kedua dari harian yang sama (http://www.thejakartapost.com/news/2009/08/28/betawi-big-boys-rule-jakarta-underworld.html). Artikel ini dibuka dengan kisah pengakuan kelompok Sangaji atas kedaulatan Haji Lulung. Setelah dunia persilatan Jakarta lama dikuasai kelompok dari Maluku, berhembuslah angin perubahan yang menguntungkan orang-orang kelahiran Jakarta yang bersedia bekerja sebagai preman. Perubahan ini dapat dilacak dari terbunuhnya Basri Sangaji, salah satu pemimpin preman dari Ambon, pada tahun 2004. Diduga kuat, pelakunya adalah saingannya, kelompok John Kei. Perseteruan di antara orang-orang Maluku membuka peluang bagi kehadiran jago-jago Betawi sendiri. Pada tahun yang sama, Laskar Jayakarta mulai menjalari wilayah Jakarta Barat. Berikutnya, tahun 2006, kelompok Hercules diturunkan dari tahta. Dan tahun 2007, mantan Kepala POLRI, Jenderal Adang Daradjatun, memanfaatkan Laskar Jayakarta untuk membantunya memuluskan karir politiknya untuk menjadi Gubernur DKI. Walau sang Jenderal gagal di bursa pemilihan Gubernur, laskar Jayakarta tetap berkibar. Mengapa orang Betawi jadi primadona? Alasan pertama: para pengusaha merasa lebih aman ‘dilindungi’ oleh orang-orang asli Jakarta. Alasan kedua: tampaknya para pejabat tinggi sudah bosan dengan perseteruan antar geng Maluku yang kerap kali berpuncak pada kekerasan yang jauh lebih luas seperti tragedi Ketapang tahun 1998 dan Ambon tahun 1999-2002.

Seusai membaca kedua artikel ini, saya mengelus dada sendiri. Dengan sedih, saya, yang kelahiran Jakarta, melihat bagaimana para pejabat tinggi pemerintahan, yang mengaku diri pengayom masyarakat, membiarkan bahkan menciptakan sendiri kelompok-kelompok milisi semacam itu di tengah masyarakat. Mestinya, penggunaan senjata dan kekerasan demi keamanan masyarakat adalah hak eksklusif POLRI dan ABRI. Demi keuntungan sesaat, mereka ini sudah memecah belah rakyat.

Nb. Apakah penembakan dan penangkapan John Kei dan maraknya kasus FPI termasuk ‘Agenda Besar’ untuk menyingkirkan preman-preman yang bandel? Apa pun permainannya, rakyat kecil yang dirugikan.

Ville-Lumière, 18 Februari 2012

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 1 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 2 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 4 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 10 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Kesaksian Terakhir …

Arimbi Bimoseno | 8 jam lalu

Topik 121 : Persalinan Pervaginam Pd Bekas …

Budiman Japar | 8 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Transjakarta: Busnya Karatan, Mental …

Gunawan Eswe | 8 jam lalu

Kematian Tanpa Permisi …

Anita Desi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: