Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Bidan Care

Bidan Romana Tari [bidancare] Sahabat bagi perempuan dan keluarga, saling memperkaya informasi kaum perempuan dibidang selengkapnya

Tradisi Ningkuk dan Sebambangan Sepasang Kekasih, Di Ogan Komering Ulu

REP | 15 February 2012 | 08:42 Dibaca: 2844   Komentar: 53   3

132927008199253256

Sebimbing Sehaluan.Pepatah ini yang menghadirkan  kenangan saya  tentang tradisi Ningkuk dan Sebambangan. Saya lahir dan dibesarkan di daerah Sumatera Selatan, tepatnya di Ogan Komering Ulu Timur, wilayah Buay madang.  Ada banyak ragam tradisi dan budaya yang menarik dari tiap -tiap suku Ogan Komering. Suku Ogan Komering terdiri dari banyak marga  antara lain Buay Madang, marga Pangku Sengkunyit, marga Semendawai, marga Buay Rayap dan sebagainya.

Gebyar Valentine kemarin mengingatkan saya tentang salah satu tradisi di daerah Ogan Komering Ulu ( OKU ) yakni  tradisi lama yang barangkali sekarang sudah mulai pudar. Yakni tradisi Ningkuk dikalangan pemuda dan pemudi. Ningkuk ini merupakan salah satu acara pertemuan pemuda pemudi sahabat kedua  calon mempelai  yang akan naik ke pelaminan dan  sarana untuk menyampaikan ungkapan cinta  maupun perasaan sayang diantara pemuda dan pemudi Ogan Komering Ulu.

Sebagai keturunan jawa, saya sangat akrab berteman dengan anak- anak suku komering asli, sahabat saya ketika itu antara lain Rohini dan Rohida. Rohini dan Rohida ini  sering  mengajak saya melihat acara Ningkukan. Kala itu kami masih belum remaja jadi tidak diijinkan mengikuti tradisi ini. Pada suatu ketika saat saya beranjak remaja dan kebetulan sedang liburan, kami mendapat undangan untuk datang Ningkukan di rumah salah satu tetangga. Undangan itu sebenarnya untuk adik laki- laki saya yang sudah diangkat anak oleh  Cek Masto, salah satu  keluarga suku asli Komering  lewat tradisi  damai  secara adat karena kecelakaan tabrakan sepeda motor.

Saat itulah saya mengikuti yang namanya tradisi Ningkuk ini. Di satu lokasi yang disediakan terdapat sekelompok pemuda  berhadapan dengan sekelompok pemudi. Lalu ada semacam  acara saling kirim surat atau pantun. Sambil mengisi waktu, beredar selendang diiringi tarian dan nyanyian. Pada saat musik atau nyanyian berhenti selendang yang diedarkan ikut berhenti, dan ada semacam hukuman menari bersama bagi yang saat itu memegang selendang.

Banyak  dari teman - teman saya mendapatkan pasangan atau kekasih dari tradisi Ningkuk ini. Tak terkecuali Rohini dan Rohida. Maka tak heran tradisi Ningkuk ini di era saya tahun 1970-1980-an masih sangat digemari para pemuda dan pemudi. Biasanya tradisi Ningkuk  ini dilaksanakan sebelum esoknya diadakan upacara Pernikahan adat Ogan Komering Ulu.

Nah selanjutnya adalah tradisi Sebambangan. Tradisi  Sebambangan ini sangat unik. Ada yang menyebutnya sebagai kawin lari, namun sebenarnya istilah ini kurang tepat. Pada dasarnya jika sudah terjadi sebambangan ini, orangtua merestui. Kendati ada sedikit hambatan biasanya adalah soal hubungan kekerabatan, atau soal usia dan kesiapan sepasang kekasih untuk hidup berkeluarga.

Sepasang pemuda dan pemudi yang bertemu pandang dan saling jatuh cinta saat tradisi Ningkuk, bila berlanjut dan saling cocok  lalu menjalin asmara. Nah Sebambangan adalah kelanjutan dari  jalinan cinta kedua sejoli yang ingin segera menikah.  Teman saya bernama Rohini juga melakukan Sebambangan ini sebelum menikah. Ketika itu saya dengar Rohini Sebambangan bersama pemuda yang dicintainya. Mereka sengaja melarikan diri ke rumah salah satu kerabat yang dianggap tua secara adat.

Pemuda yang mengajak Rohini Sebambangan ini meninggalkan secarik surat dan uang  yang ditemukan di saku baju ayah Rohini. Rumah Rohini berada di depan rumah kami. Tak dapat dihindarkan lagi kegaduhan karena kehilangan Rohini. Bahkan ibu Rohini sampai menangis. Namun sebenarnya keluarga sudah memaklumi bahwa Rohini dibawa kekasihnya Sebambangan. Beberapa hari kemudian datang utusan dari pihak keluarga si pemuda dan melamar Rohini.

Itulah sekelumit kisah pengalaman saya tentang Tradisi Ningkuk dan Sebambangan di Ogan Komering Ulu. Menarik sekali. Oya sekilas tentang Ningkuk dan Sebambangan dari salah satu sumber tentang tradisi Ningkuk, bahwa untuk perempuan ditempatkan di ruang yang disebut haluan dan untuk yang laki - laki ditempatkan di kakudan. Untuk tradisi Sebambangan ini sebenarnya ada beberapa peraturan namun tiap suku berbeda- beda. Pada umumnya Sebambangan dilakukan oleh kedua pasangan yang saling mencintai dan mohon restu kedua orangtua.

Bila ada yang menyalahi peraturan adat dalam ketentuan Sebambangan ini maka akan dikenakan denda adat. Menarik bahwa sebenarnya kedua orangtua  si pemudi sudah tahu harus menuju kemana mencarinya tetapi secara adat mereka seolah  seperti tidak tahu, dan harus mengadakan rundingan keluarga. Pada saat menunggu ini pihak keluarga pemuda akan datang dan terjadilah kesepakatan - kesepakatan sehubungan dengan rencana pernikahan.

Daerah Lampung dan termasuk Ogan Komering Ulu maupun Ogan Komering Ilir pada jaman saya remaja masih akrab dengan tradisi ini, seiring dengan kemajuan jaman  dan tingkat pendidikan maka tradisi Ningkuk dan Sebambangan mulai ditinggalkan. Terlebih lagi adanya perkawinan antar suku pendatang misalnya dari pulau Jawa, proses asimilasi ini  sedikit demi sedikit menimbulkan kurangnya perhatian pada tradisi asli suku Ogan Komering Ulu. Padahal tradisi ini Ningkuk dan Sebambangan unik sekali. Bisa dikatakan ini semacam Valentine tempoe doeloe. Andaikata bisa diabadikan menjadi semacam drama atau sendratari…saya yakin tak akan kalah menarik dengan kisah cinta Rama dan Sinta atau mungkin Romeo dan Juliet.

Ijinkan bidan sedikit berpantun, pengobat rindu kampung halaman;

Sungai ogan di Komering Timur
Bendungan Perjaya tempat berekreasi

Mari pertahankan  warisan budaya leluhur
Dengan sebagai kekayaan seni tradisi

Salam cinta Budaya Indonesia
Bidan Romana Tari

Foto diunduh dari : karimsh.multiply.com
Saran bacaan seputar budaya:

http://sosbud.kompasiana.com/2012/01/24/generasi-ngadha-pertahankan-budaya-leluhur-di-tanah-rantau/

http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2011/12/16/mirror-titisan-arwah-penari-gandrung-banyuwangi/

http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/10/02/mengenal-tradisi-budaya-nusantara-seputar-kehamilan/

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

Gratifikasi Natal dan Tahun Baru …

Mas Ukik | | 21 December 2014 | 10:01

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 10 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 11 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Natal, Skandal Sejarah Kelahiran Yesus …

Nararya | 12 jam lalu

Pintu Damai Tertutup, Menang Golkar Bali …

Erwin Alwazir | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: