Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Astokodatu

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat, (Mantan karyawan, mantan swastawan, selengkapnya

Berbagi Pendapat: Agama & Budaya

OPINI | 14 February 2012 | 16:06 Dibaca: 716   Komentar: 2   2

Prakata.

Berbagi atau sharing adalah ‘menyampaikan dan memberi’ dengan rasa penghargaan dan penghormatan dalam kesetaraan. Berbagi berbeda dengan indoktrinasi (kalau gagasan.pendapat) atau bahkan bukan seperti provokasi atau menginfiltrasikan gagasan. Kita tidan bicara tentang barang, dan bukan sebagai sogok atau gratifikasi. Berbagi dan sharing pendapat mengharapkan kedewasaan antar pribadi. Berbagi adalah komunikasi positip tulus jujur dan penuh perhargaan satu sama lain khususnya sebatas pemahaman. Tindak lanjut dari pemahaman adalah urusan lain, tidak harus dikaitkan dengan ‘sharing’ itu sendiri.

Contoh kasus.

Kasus controversial seperti perayaan agama dan budaya yang sering didebatkan tidak perlu dijadikan alasan ketertutupan atau permusuhan dan menghentikan komunikasi. Patut disayangkan apabila hari Raya yang memiliki sifat agama dan disucikan oleh umat yang bersangkutan justru menjadi hari-hari permusuhan dan menakutkan. Patut disyukuri dan perlu disosialiasikan bahwa banyak (belum semua) pejabat dapat dan bersedia membedakan perilaku “merayakan perayaan hari” – besar keagamaan yang berbeda dengan perilaku “melakukan upacara agama” yang didasarkan pada imannya.

Contoh kasus toleransi dan kearifan tinggi yang pernah saya berikan sebagai kesaksian bahwa Ajaran Sosial Gereja Katholik yang terdiri dari sekitar 15 dokumen tebal tentang sikap-sikap social Gereja menghadapi perkembangan social dan teknologi dunia dijadikan bahan studi oleh kelompok diluar umat yang bersangkutan. Boleh dibaca ulang pula bahwa sudah dua tahun ini di bulan Ramadhan ditulis karya-tulis renungan nilai2 universal seri Ramadhan oleh seorang bukan Muslim dan mendapat tanggapan yang memadai.

Mungkin juga merupakan contoh kasus yang positip bahwa dirumah penulis telah belasan tahun tinggal menghuni beberapa anak-anak kost titipan keluarga berbeda agama dan hidup rukun saling mendukung dalam melaksanan hidup keagamaannya. Masih ditambah mereka dari pelbagai latar belakang keluarga yang berbeda agama dan suku.

Opini perlu di sharingkan disini dalam hal-hal tersebut ini:

  1. Agama selalu di kemas dalam budaya tertentu.
  2. Dalam satu agama pun sejarah membuktikan ada pertentangan karena beda budaya. Budaya sendiri biasa membuat perbedaan.
  3. Tetap boleh dilihat perbedaan mana sisi agama mana sisi budayanya.
  4. Perlu dicermati mana pemahaman dan mana tindakan dan perilaku yang khas, inti, mana yang asesori saja.
  5. Perlu selalu diwaspadai beda-bedanya suatu sikap dan tindakan itu dari oknum atau kelompok atau seluruh kategori umatnya…..

Dengan lima pokok pikiran tersebut dimuka kiranya bisa menambah aspirasi pembaca memandang satu kontroversi yang sering terjadi ditengah keanekaragaman kita. Dan dengan ‘berbagi pendapat’ sebenarnya kita dapat menciptakan system komunikasi yang kondusif seperti di Kompasiana ini untuk kerukunan nasional yang tentu akan memperkokoh NKRI.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | | 25 October 2014 | 23:43

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | | 26 October 2014 | 00:06

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri, Polycarpus, BIN dan Persepsi Salah …

Ninoy N Karundeng | | 26 October 2014 | 08:45

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



Subscribe and Follow Kompasiana: