Artikel

Sosbud

Agnes Hening Ratri

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Lakukanlah Sesuatu yang baik karena itu baik. Titik. Selebihnya bukan urusan kita (Pater Beek)

Menjaga Keharmonisan Tanah Dayak, Tolak FPI


REP | 11 February 2012 | 13:20 Dibaca: 1814   Komentar: 151   11 dari 11 Kompasianer menilai aktual

1328939850147946955Hari ini masyarakat adat Dayak di Kalimantan Tengah sedang melakukan tugasnya menjaga bangsa ini, menjaga tanah air dari ancaman kekerasan dan perpecahan. Mereka menolak kedatangan pimpinan Front Pembela Islam berkaitan dengan rencana pembentukan pimpinan daerah FPI di Palangkaraya.

Tentunya semua orang yang memiliki harapan untuk menjaga keberagaman, kemajemukan dan toleransi mendukung apa yang di putuskan oleh Dewan Adat Daerah dan Nasional Masyarakat Dayak. Sebuah pilihan berani telah dilakukan oleh masyarakat Dayak.

Jumat kemarin, 10 Februari ketika rapat sedang di gelar seorang teman mengirimkan pesan “Apakah ada masukan bagi kami, untuk menolak pembentukan FPI di tanah Dayak?” demikian pesan yang saya terima. Majelis adat dayak sedang mengadakan rapat besar untuk membuat keputusan yang menyangkut kehidupan masyarakat luas, khususnya Dayak. Sore harinya saya terima pesan bahwa keputusan rapat telah bulat Sabtu ini, 11 Februari masyarakat adat dayak sepakat menolak kehadiran FPI di Kalimantan Tengah.

Sejak pukul sembilan pagi BundaranBesar Palangkaraya, tepatnya di pusat kota telah dipenuhi oleh sekita dua puluh ribu masyarakat kalimantan tengah lintas suku, agama dan adat. Mereka telah sepakat untuk menjaga bumi Kalimantan Tengah dari perpecahan dan tindak kekerasan.

1328956570659556664Bahkan hingga siang ini bandara Tjilik Riwut masih dijaga oleh masyarakat adat lengkap dengan pakaian adat, mandau dan segala jenis senjata. Menurut salah satu pengurus adat, Perada, ini adalah keingian masyarakat untuk menjaga bumi Kalimantan Tengah. “Ini keputusan rapat masyarakat adat dayak, termasuk FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama), jadi keputusan ini lintas agama, bahkan beberapa masyarakat dari suku lain ikut mendukung penolakan FPI”. Bahkan atas keputusan rapat kemarin kita telah membentuk barisan pertahanan adat (keamanan) yang akan menjaga demang. Kalau di Bali seperti Pecalang” ungkap Parada.

Masyarakat Kalimantan Tengah menginginkan kedamaian, ketentraman tetap terjaga. Kehidupan harmonis yang menjaga adat dan budaya sebagai benteng pertahanan masyarat. Seperti diketahui berbagai upacara adat masih terus dipertahankan oleh masyarakat adat dayak, hal ini sebagai warisan leluhur dan penghargaan terhadap kehidupan. Perayaan-perayaan tersebut hingga kini terus dilakukan baik masyarakat penganut Kaharingan maupun agama lain.

Masyarakat Kalimantan Tengah tidak ingin terjebak dalam konflik yang diciptakan oleh kelompok yang tiba-tiba muncul. Sebuah kesadaran kolektif yang sulit untuk kita temukan hari ini, ditengah jebakan sentimen keagamaan yang membabi buta. Bahkan di tengah konflik horisontal yang seringkali disulut untuk kepentingan politik dan kepentingan-kepentingan lainnya.

Masyarakat Kalimantan Tengah memilih pendekatan budaya untuk menolak politik pecah belah dan tindak kekerasan. Sebagai tanah yang menjunjung tinggi kehidupan, keharmonisan sebagai salah satu petunjuk dari Ranying Hattala (Tuhan Yang Maha Esa) untuk menjaga keharmonisan dengan sesama dengan lingkungan yang tercermin dari kepercayaan masyarakat bahwa Kaharingan (kehidupan) itu harus tetap di hormati dan dijaga. Karena hanya dengan hal itu kita dapat menyelaraskan kehidupan, alam dan manusia, menghindari dari kekerasan dan pengrusakan.

Filosofi Ka Haringan (kehidupan) itu hari ini telah ditunjukkan oleh masyarakat Dayak. Karena mereka mencintai keharmonisan, keberagaman dan kehidupan maka mereka menolak kekerasan dan potensi kekerasan yang akan di bawa oleh kelompok anti toleransi.

Sayapun berharap jika kembali datang ke Kalimantan, semangat menjaga keharmonisan hidup itu terus bergema menular hingga ke propinsi lain. Keberanian masyarakat Dayak kali ini merupakan cermin bahwa mempertahankan integritas bangsa masih dimiliki oleh masyarakat adat. Seharusnya demikian ditengah riuh politik yang membuat kacau negeri ini, mari kita kembali pada budaya luhur asli negeri ini yang masih sangat luar biasa sanggup menjaga keutuhan bangsa.

“Amun Beken Itah, Eweh Hindai Mahaga Utus Itah, Isen Mulang” (Kalau bukan kita siapa lagi yang akan menghargai tanah air)

* Foto dari berbagai sumber

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: