
Bidan Romana Tari [bidancare] Sahabat bagi perempuan dan keluarga, saling memperkaya informasi kaum perempuan dibidang kesehatan dan pengalaman sehari - hari dalam hidup, Mari hidup sehat dan kreatif dalam hidup bersama bidancare
Dibaca: 150
Komentar: 29
3 dari 3 Kompasianer menilai inspiratif

Setiap kali kulihat foto Dio, aku terharu. Terlebih menjelang hari Valentine. Moment hari kasih sayang membuat aku teringat saat ia masih sekolah dasar, aku memarahinya. Dio putraku yang nomer dua. Ia pendiam tidak banyak bicara, tetapi sering memperhatikan hal - hal kecil dalam kehidupanku sebagai mamanya. Jujur saja kesibukanku sebagai bidan kadang tidak terlalu menganggap perhatian - perhatian kecil dari anakku sebagai hal yang luarbiasa.
Hingga suatu hari aku baru menyadari bahwa aku lebih mudah mengadili Dio daripada menanyakan apa alasan dia melakukan hal itu. “Kisah Undian Valentine Untuk Mama” ini menjadi catatan terindah dalam hidupku sebagai mama yang dicintai anaknya.
Kenangan berawal ketika suatu hari Dio pulang sekolah. Aku memeriksa isi tasnya, menanyakan PR dan semua kegiatan di sekolah. Betapa kagetnya aku saat mendapati isi tas Dio.
“Dio, ini apa nak?”
“Kertas undian mama”
“Ya ampun Dioooooooooooo…!!!!!, sejak kapan mama mengajari kamu beli undian? Oh, pantas saja selama ini kamu sering minta tambahan uang jajan, jadi ini yang kamu beli, kertas -kertas undian?” tanyaku.
” Iya mama…Dio….emmmm…anu mama..” Jawab Dio. Ia menunduk.
“Tidak usah banyak alasan Dio, mama tidak suka anak mama masih kecil sudah mulai berjudi, main undian segala, mau jadi apa nanti kamu Dio?”
Dio hanya diam. Air mata terlihat mengambang di pelupuk matanya. Alangkah geramnya aku dengan kelakuan Dio. Dio pantas mendapat teguran keras ini. Jika suamiku tahu pasti juga tidak senang dengan kelakuan Dio membeli undian. Meski hanya sebuah kertas undian selembar 100 rupiah, aku sebagai mamanya menjadi cemas. Aku takut anakku mudah dipengaruhi. Semua pikiran buruk melintas di benakku. Saat itu juga Dio ku panggil ke kamar, lalu ku beritahu baik - baik.
” Dio, mama bukan marah, cuma mama tidak senang Dio membuang - buang uang untuk membeli kertas undian penipuan seperti itu, jangan ulangi lagi ya Dio. Kali ini mama maafkan”
” Iya mama, tapi sebenarnya….anu mama…Dio…Dio cuma ingin membuat mama senang kalau Dio dapat hadiah undian”
” Hadiah apa? itu penipuan saja Dio”
“Mama…janji ya, mama jangan marah dulu. Begini ma, Dio kasihan lihat HP mama sering drop dan kadang rusak. Kadang mama sulit menghubungi papa dan teman kerja mama. Padahal Dio tahu HP itu penting buat mama kerja juga buat telpon papa untuk jemput. Nah undian itu ada hadiah HP nya. Jadi tiap hari Dio beli undian untuk mama. Dio ingin beri kejutan hadiah HP buat mama. Kata penjualnya undian akan diumumkan nanti pas hari Valentine. Kalau Dio rajin beli kupon undian, kata penjualnya bisa kemungkinan dapat hadiah semakin besar, begitu kata penjualnya” jawab Dio sambil mengeluarkan setumpuk kertas undian yang disimpannya selama ini.
Aku terharu mendengar pengakuan Dio. Aduh Dio….betapa besar perhatianmu nak pada mama. Mama tidak menyangka kamu memperhatikan semua yang terjadi pada mama. Dengan keluguanmu kamu berusaha membahagiakan mama. Aku menangis dan memeluknya erat. Saat ini juga tidak ada alasan lain untuk tidak berkata..
” Maafkan mama Dio, terimakasih cintamu buat mama nak. Mama bisa hidup tanpa HP tapi tidak bisa tanpa kamu Dio. Mama sayang Dio. Nak, jangan lagi beli kertas undian ya sayang. Mama tidak butuh hadiah apapun darimu, mama butuh Dio sayang mama. Sekolah yang rajin dan nanti kalau sudah besar Dio bekerja, itu sudah hadiah buat mama dan papa” Aku memeluk Dio sangat erat dan kuusap rambutnya.
Seperti dikisahkan oleh bidan Toety dan ditulis oleh bidancare./ Romana Tari.
Salam hangat
Romana Tari.