Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Iskandar Zulkarnain

coba berbagi pada sesama, pemilik blog http://iskandarzulkarnain.com/

Singa VS Jaguar

OPINI | 05 February 2012 | 06:45 Dibaca: 704   Komentar: 0   0

1328377237106112625

Singa………..pura sebagai macan Asia

Sudah lazim pada masyarakat zaman dahulu di Indonesia, memakai nama hewan sebagai nama pribadi atau nama keluarga/marga, ingat saja Pateh terkenal di Majapahit bernama Gajah Mada, tokoh yang akrab dengan sejarah kita… Lembu Sora, Mahesa Jenar, Mahesa artinya Lembu, Marga di Sumatra Utara ada yang bernama Sinaga, Marga di Sumatra Barat ada yang bernama sikumbang. Pada awal tahun delapan Puluhan, tokoh muhammadiyah yang cukup disegani bernama Kasman Singodimejo, sahabat Rasul yang terkenal dengan keberanian dan kepiawaian ilmunya, yang akhirnya menjadi khalifah keempat di periode khulafaur Rasyidin, terkenal sebagai Imam Ali, nama Asli beliau adalah Haidar yang berarti singa, di siria ada pemimpin yang disegani baik di Timur Tengah maupun di luar Timur Tengah, beliau bernama Hafedz asaad, asaad artinya Harimau, yang masih hangat pada masa kini Dipo Alam, Dipo artinya Gajah

13283773491218413586

sang haidar……..singa

Sore ini, saya kedatangan teman akrab, kami ngobrol kesana-kemari, ketika teman ini tahu bahwa saya memberi nama anak semata wayang dengan nama Singa, maka teman yang terkenal suka berkelakar dan sangat kritis terhadap hal yang aneh-aneh, mempertanyakan soal nama itu, maka dengan nada dan disesuaikan dengan pola pikir teman ini, saya coba menjelaskannya sebagai berikut; Ketika orang mulai “punya”, maka biasanya mereka memiliki Kijang, ketika lebih maju lagi, pemilikan ini berubah menjadi kuda, lebih maju maka mereka memiliki Harimau (Tiger) dan puncak kepemilikan itu…Jaguar, dan seluruh kepemilikan ini, barang-barang pabrikan yang bisa dibeli dan jumlahnya unlimited, maka wajarlah ketika saya memiliki sesuatu yang sangat berharga, tak ada pabriknya dan jumlahnya limited, maka saya beri nama singa… mendapat jawaban yang seakan ilmiah dan runut, teman tadi tertawa ngakak dan bisa menerima logika berpikir saya.

13283774621865393585

Ali Bin Abi Thalib……..sang haidar

Padahal sesungguhnya maksud yang paling dalam pada pemikiran saya, agar kelak anak semata wayang ini, memiliki sifat-sifat yang mulia sebagaimana para pendahulunya yang memiliki nama yang sama dengan anak saya tersebut.

Masih tentang teman tadi, ketika dia hendak pulang, dengan sangat serius dia mengatakan pada saya, bahkan Negara di Asia Tenggara yang paling makmur itu, nama Negaranya diawali dengan Singa, saya terbengong saja, dalam hati saya mengakui kepiawaian teman ini dalam menohok logika berpikir saya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kabar Burung tentang Bandung: Superhero …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 14:15

Ikhlas, Kunci Ibu Bisa Bahagia …

Sekar Sari Indah Ca... | | 20 December 2014 | 13:33

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35

Mazagran: Lahir dari Perang, Lalu …

Kopi Keliling | | 20 December 2014 | 13:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 7 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 8 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 9 jam lalu

Hati Lembut Jokowi Atas Manuver Ical …

Mas Wahyu | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: