
Dibaca: 107
Komentar: 2
1 dari 1 Kompasianer menilai menarik
Tak mudah memang untuk membuat sebuah tulisan berbobot. Tak cukup dengan berlatih menulis di buku harian. Lebih dari itu, tulisan yang berkualitas merupakan cerminan dari luasnya wawasan sang penggores pena di samping kelihaiannya dalam merangkai kata. Untuk mendapatkan “deposito” ilmu di dalam memori otaknya, seorang yang benar - benar berniat untuk menjadi penulis mesti rajin - rajin membaca, melihat, dan mendengar. Setelah itu, hendaklah ia tiada bosan untuk terus menuangkan segala gagasan lewat goresan di atas kertas. Demikian seterusnya, hingga kelak menulis menjadi sebuah aktivitas yang tak dapat dipisahkan dari dirinya.
Berapa sih rentang waktu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang penulis profesional? Wallahu a’lam. Tak ada jawaban pasti. Bila kita simpulkan bahwa setiap orang mulai belajar menulis ketika duduk di bangku Sekolah Dasar, maka rentang waktunya dapat dihitung dari saat ia menginjak kelas 1 SD hingga kelak tulisannya diterbitkan oleh media berbayar. Namun, fakta membuktikan betapa sedikitnya tulisan seorang lulusan sarjana yang pernah dimuat media cetak. Dari 100 orang sarjana belum tentu dijumpai satu orang yang tulisannya pernah dimuat koran, tabloid, majalah, atau semisalnya. Tentu saja berbeda dengan seorang yang bercita - cita sebagai guru, dokter, teknisi, atau arsitek yang dapat ditargetkan sekian tahun guna merengkuh impiannya. Bila demikian kondisinya, sudah selayaknya para cendekiawan yang telah sukses menghasilkan puluhan judul buku mendapatkan apresiasi yang pantas sebagaimana kerja keras mereka dalam memeras otak dan menuangkan pemikiran lewat goresan pena.
Sayang seribu sayang. Di negeri tercinta ini, nasib para “seniman pena” tak seberuntung “seniman kata”. Mereka yang pandai mengolah kata atau bersilat lidah dalam bahasa lisan mendapatkan imbalan yang sangat mahal. Tak percaya? Tengoklah betapa menggiurkan penghasilan seorang Olga Syahputra, Sule, atau Tukul Arwana yang teramat lihai mengolah kata menjadi sebuah banyolan pengocok perut. Padahal, tak jarang segala yang meluncur dari mulut mereka merupakan kata - kata bernuansa jorok, menghina, merendahkan, atau sejumlah istilah yang tak pantas ditayangkan di layar kaca. Mungkin mereka memang cerminan dari perilaku keseharian masyarakat kita yang acapkali menganggap guyonan vulgar sebagai sesuatu yang wajar. Yah, mereka yang berbaju akademis pun ternyata tak lagi malu - malu saling bercanda ria dengan tema “kewanitaan” dan “kelelakian”. Tak heran, dengan kondisi demikian, kemunculan sejumlah pelawak yang mengekspose tema “bawah perut” sebagai topik lawakan justru mendapat apresiasi setinggi langit.
Di sisi lain, kelihaian mengolah kata juga digunakan oleh mereka yang kebelet untuk menduduki kursi empuk anggota dewan. Kelihaian berorasi dan mengobral janji telah mengantar mereka sebagai “tukang ngomong” bergaji puluhan juta.
Maka dari itu, akan kita lihat ketimpangan penghasilan yang amat lebar antara mereka yang lihai mengolah kata dengan para penggores pena yang setiap saat mencurahkan waktu dan pikiran demi sebuah karya besar. Siapa tak kenal Tatang S? Penulis komik di era 90-an tersebut, saat ini tak lagi diketahui jejaknya. Bandingkan dengan Titiek Puspa sang artis 3 jaman yang amat lihai merangkai kata lewat senandung lagu. betapa nasib keduanya sungguh jauh berbeda, ibarat langit dan bumi. Siapa pula tak kenal Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih. Namun, kita justru lebih familiar dengan para artis yang dulu memerankan tokoh - tokoh tersebut ketimbang sang penulis roman “Siti Nurbaya”. Nama - nama seperti Novia Kolopaking, Gusti Randa, dan HIM Damsyik sebagai pemeran tokoh utama jelas lebih mudah diingat ketimbang Marah Rusli, seorang dokter hewan yang telah menciptakan karakter Siti Nurbaya lewat buah penanya.
Alhasil, mereka yang bergelut dengan dunia “olah kata” entah itu di bidang penyiaran, entertainment, maupun politik lebih menjanjikan masa depan cerah daripada mereka yang sepenuh hati mencurahkan waktu serta tenaganya demi menghasilkan karya tulis. Bagaimana seorang Harry Van Jogja hingga hari ini masih setia menjalani rutinitasnya sebagai tukang becak meski dari tangannya telah lahir sebuah buku bertajuk “Becakway”. Sebaliknya, seorang Azis Gagap yang mendapatkan hokinya di dunia lawak sudah barang tentu tak mau lagi bergelut dengan aktivitas sebagai kuli bangunan seperti satu dasawarsa silam. Dari lubuk hatiku yang terdalam, muncul sebuah pertanyaan, kapankah para penggores pena di negeri ini dapat menerima imbalan sebesar mereka yang bergelut dengan jagad “silat lidah”? Mungkin kelak bila buku telah menjadi “makanan pokok” sebagian besar penduduk negeri ini.