
Pendidik yang gemar menulis, menyunting, dan menjadi reviewer buku. Kadang menjadi narasumber seminar pendidikan dan penulisan buku/ PTK. Kunjungi blog pribadi http://johanwahyudi.info/, HP 08562517895, dan email jwah1972@gmail.com.
Dibaca: 197
Komentar: 42
2 dari 2 Kompasianer menilai inspiratif

Banyak jenis profesi dapat dipilih untuk meningkatkan kualitas hidup. Bagi orang yang belum mendapatkan pekerjaan, ia tentu akan kebingungan memilih jenis profesi yang akan ditekuninya. Maka, ia pun berusaha memilah dan memilih jenis pekerjaan. Kadang ia berusaha melamar pekerjaan, tetapi sering pula ia tidak betah bekerja di tempat baru. Itu menjadi penanda bahwa dirinya belum menemukan jati diri. Wajarlah ia belum menetapkan pilihan.
Namun, tentunya itu tidak boleh dilakukan bagi orang yang sudah memiliki pekerjaan tetap. Meskipun sudah bekerja dan mendapatkan penghasilan, tidak salah pula ia berusaha menambah pundi-pundi tabungannya. Maka, banyak orang bekerja sampingan selain pekerjaan yang ditekuni saat ini. Karena bersifat sampingan, kadang pekerjaan itu tidak ditekuninya secara serius. Karena dikerjakan setengah hati, ia pun hanya mendapatkan hasil yang setengah-setengah. Maka, alangkah baiknya jika kita menekuni pekerjaan meskipun itu hanya bersifat sampingan.
Saat ini, saya berprofesi sebagai pendidik. Saya bertugas menggajarkan keilmuan kepada generasi anak bangsa agar tecerdaskan. Kelak ia diharapkan agar dapat menjadi generasi yang tanggap dan tangguh. Jika generasi itu tercipta, tentunya bangsa kita pun menjadi bangsa yang kuat. Oleh karena itu pula, tak henti-hentinya saya berusaha belajar dan belajar agar selalu dapat meng-update keilmuan sembari menyampaikannya kepada khalayak, termasuk di sini: kompasiana.
Meskipun sudah memiliki pekerjaan relative mapan, saya masih merasa lapar dengan pekerjaan. Saya berusaha mencari pekerjaan di samping pekerjaan pokok. Saya pernah menjadi pedagang kayu, pengusaha mebel, dan pengajar atau tentor bimbingan belajar. Namun, saya meninggalkan semua pekerjaan itu. Jujur saja, saya merasa kurang sreg dengan jenis pekerjaannya.
Tentunya terkesan teramat lucu, pendidik kok bekerja sampingan sebagai pedagang kayu. Setiap hari saya harus melayani pembeli sehingga saya sering meninggalkan peserta didikku. Terkesan sangat tidak relevan, pendidik kok menjadi pedagang mebel. Saya sering meninggalkan tugas demi melayani beragam proyek karena saya harus berbisnis dengan pejabat. Terkesan terlalu memaksanakan diri, pendidik kok menjadi tentor bimbingan belajar yang mengajar hingga tengah malam. Saya teramat kasihan dengan anak-istri karena saya selalu pulang ketika semua sudah tertidur.

Atas dasar pilihan hidup, saya pun berusaha mencari pekerjaan sampingan. Karena menjadi pengajar bahasa Indonesia, saya pun melirik profesi sebagai penulis. Maka, saya memantapkan pilihan hidup itu sejak 2006. Dimulai menjadi penulis modul, saya pun mengikrarkan diri untuk menekuni profesi baru: menjadi penulis buku. Dan kini, puluhan buku telah berhasil tertorehkan dan teterbitkan. Dari profesi inilah, saya mendapatkan semua keinginanku. Nyaris semua kenikmatan dunia sudah terbeli. Semua karunia besar yang harus disyukuri.
Ada beberapa kenikmatan yang terasakan setelah saya menjadi penulis buku. Saya mencatat tiga kenikmatan besar yang harus disyukuri. Ketiganya adalah: Pertama, kenikmatan materi. Dari buku-buku itu, saya mendapatkan royalty yang teramat besar. Pada awalnya saya menjual putus atas semua naskahku. Namun, cukup lama saya meninggalkan metode itu. Saya mulai memilih jalur royalty karena metode royalty teramat menguntungkan penulis. Dari royalty itulah, saya dapat membeli beragam keinginan: mobil, tanah, rumah, deposito, dan sekolah lagi.
Kedua, kenikmatan sahabat. Pada awalnya, saya belum mengenal kompasiana. Saya mulai mengenal kompasiana pada 2009 lewat Omjay. Selanjutnya, saya berusaha belajar menulis di sini. Tak disangka, tulisanku sering mendapat sambutan. Dan yang teramat menggembirakan adalah persahabatan. Saat ini, saya telah memiliki 1763 sahabat. Jelas sahabat yang teramat berarti bagiku. Oleh karena itu, saya selalu berusaha menyapa meskipun saya pun sering khilaf karena keterbatasan fasilitas.
Di kampungku, sungguh sinyal teramat lemah meskipun saya memiliki dua jenis modem selain empat HP jadul. Demi menyapa sahabat itu pula, saya terpaksa dan memaksakan diri untuk berlama-lama di kantor karena memiliki fasilitas hot spot. Kadang saya pun berlama-lama menulis di warung internet di selatan rumah. Dan jika saya sudah mengasyikkan diri di kedua tempat itu, saya sering lupa pulang. Dan itu pun terjadi siang ini. Kantor begitu sepi meskipun saya masih asyik menuliskan ini.

Ketiga, kesahajaan. Penulis itu adalah pendakwah atau misionaris. Banyak cara dapat digunakan untuk menyampaikan niatan. Kadang orang menggunakan kemampuan berbicara. Maka, terciptalah mubaligh atau dai. Mereka berdakwah secara lisan untuk menebarkan kebaikan. Namun, penulis teramat berbeda. Ia menebarkan kebaikan dengan tulisan. Melalui tulisan, ia berusaha berbagi dengan pembaca. Kadang antarpenulis terjadi saling berdiskusi, saling menginspirasi, dan juga berbagi. Sungguh situasi itu teramat membahagiakan diri dan orang lain.
Jika penulis sudah berkemampuan menjaga niatan itu, ia pun dikenal sebagai penulis yang bersahaja. Ia tidak akan menyombongkan diri seraya menganggap tulisannya adalah terbaik dan tulisan orang lain adalah sampah. Kemampuan penulis tentu berbeda-beda karena itu penulis perlu belajar mengenal potensi diri dan kelebihan orang lain. Dengan kesadarannya itulah, penulis itu memiliki kharismatik. Kelak predikat penulis bersahaja akan disandangnya.
—
Kemarin petang (Jumat, 3 Februari 2012), saya dibuat tercengang dan juga teramat digembirakan. Saya tak pernah menduga bahwa Tuhan begitu bermurah hati dengan melimpahkan beragam karunia-Nya. Sungguh nikmat itu perlu disyukuri sehingga saya pun menuliskannya di sini. Tiada niatan untuk riya alias pamer dan atau menyombongkan diri karena saya hanyalah manusia desa yang hidup di tengah kampong. Semata tulisan ini bertujuan untuk menggugah motivasi bagi sahabat yang berkenan.
Kemarin petang itu, kampungku diguyur hujan lebat hingga malamnya. Saya memiliki kebiasaan untuk menunaikan sholat maghrib ke masjid bersama dengan kedua anakku. Karena hujan tak kunjung reda, akhirnya saya memutuskan untuk mengajak anak dan istri guna sholat berjamaah di rumah. Saya menjadi imam, ketiga anakku di samping, dan istriku di belakangnya. Sholat maghrib tertunaikan.
Usai sholat, saya dan anak-anak pun mengaji. Itu adalah kebiasaan keluargaku. Setelah maghrib, televisi harus mati dan tidak boleh dinyalakan hingga tidur kecuali esoknya libur. Tidak lama kami mengaji karena itu bertujuan untuk mendisiplinkan diri. Saya perlu mengenalkan kitab suci dan mengajarkannya kepada anggota keluarga.

Sesudah mengaji itulah, istriku keluar rumah. Istriku bergegas menuju kamar sebelah. Saya tidak mengetahui niatannya. Tak lama kemudian, istriku kembali ke kamar kami. Di tangannya, istriku menggenggam sepucuk surat. Langsung saja istriku menyerahkan surat itu kepadaku. Dan saya pun bergegas pula membuka dan membacanya. Begitu terbuka dan terbaca, saya tersenyum simpul seraya berujar, “Alhamdulillah, kita dapat rezeki lagi, Ma.’ Baca nih suratnya!” Surat pun berpindah tangan.
Ya, surat itu berasal dari penerbitku. Beberapa waktu silam, saya pernah mengirimkan sebuah naskah buku yang berjudul Menjadi Penyair. Setelah naskah terkirim, saya diminta menunggu balasannya. Memang begitulah pola manajemen penerbitku. Semua naskah tidak langsung diterbitkan karena harus dinilaikan terlebih dahulu. Sama sekali saya tak menyangka bahwa naskahku lolos penilaian lagi dan naskahku mulai diterbitkan. Naskah itu melengkapi tiga naskahku yang lolos penilaian pada 2011 kemarin.
Puji syukur kepada Engkau Ya Allah, atas semua limpahan rezeki-Mu. Semoga saya dapat berbagi rezeki yang Kauberikan kepada sahabat dan handai taulan. Melalui tulisan ini pula, saya berusaha berbagi pengalaman agar kelak muncul penulis-penulis jempolan. Sungguh tulisan kompasianer memiliki kualitas yang teramat bagus. Kelak saya berdoa dan berharap agar tulisan-tulisan itu dapat dibukukan. Mari kita belajar menulis buku untuk meningkatkan kualitas hidup!
Teriring salam,