Artikel

Sosbud

Muthiah Alhasany

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati

Keresahan Perempuan


OPINI | 04 February 2012 | 13:32 Dibaca: 80   Komentar: 0   Nihil

Sebagai perempuan yang hidup di negeri ini, saya merasa resah. Bagaimana tidak, sebab tidak ada yang bisa menjamin bahwa sebagai perempuan, saya akan memperoleh kehidupan yang aman dan sejahtera sebagaimana yang di-idealkan dalam UUD 1945. Dari waktu-waktu, selalu ada hal yang menambah ancaman terhadap kehidupan perempuan.

Untuk urusan kesejahteraan, perempuan dirisaukan oleh harga-harga sembako yang fluktuatif. Entah itu dengan alasan cuaca buruk, harga BBM yang naik atau permainan monopoli mafia perdagangan. Sehinggah asap dapur tidak bisa dijamin terus ngebul. Karena itu saya mencemaskan asupan gizi yang dikonsumsi oleh anak-anak. Kalau mereka kurang gizi, bagaimana menjadi generasi muda yang kuat dan cerdas?

Untuk urusan kesehatan, saya sangat phobia dengan harga-harga obat yang mahal dan biaya rumah sakit yang tinggi. Karena itu saya berusaha sedapat mungkin tetap sehat, tetapi apa daya bahan makanan yang beredar di pasaran sangat meragukan. Banyak yang sudah terbukti tidak layak untuk dimakan karena tercampur zat-zat yang berbahaya. Para pedagang yang hanya ingin meraup keuntungan, menggunakan berbagai cara untuk menekan biaya produksi meski harus membahayakan para konsumen.

Untuk urusan pendidikan, aduhai biayanya makin melambung setiap tahun. Jangankan merencanakan pendidikan tinggi untuk anak-anak, masuk ke Taman kanak-kanak (TK) saja membutuhkan biaya jutaan rupiah. Darimana uang untuk itu, jika ayah mereka hanyalah karyawan rendahan atau pedagang kecil? Pantas saja makin banyak anak-anak yang menjadi pengasong dan pengamen, karena penghasilan di jalanan lebih jelas daripada melalui pendidikan, yang belum tentu bisa dijalani.

Untuk urusan hukum, lebih tidak memihak perempuan. Salah satunya dilihat dari pengalaman perempuan-perempuan yang terpaksa bercerai. Banyak  perempuan bekerja menceraikan suaminya yang selingkuh dan menggunakan penghasilan istrinya untuk berfoya-foya. Eh, di pengadilan malah perempuan-perempuan itu dipaksa membagi harta bersama dengan alasan harta gono-gini. Ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga, suami bermoral bejat malah mendapat harta. Padahal perempuan harus saving untuk masa depan anak-anaknya. Kemudian jika perempuan mengalami pelecehan seksual, sampai tingkat perkosaan, hukumannya terlalu ringan. Sedangkan korban menderita lahir dan batin, trauma kejiwaan seumur hidup.

Untuk urusan keamanan, sangat menakutkan. Kalau pada tahun 80-an saya masih merasa aman berjalan-jalan dimalam hari. Sekarang, jangankan malam, pagi atau siang saja tidak menjamin bahwa tidak ada kejahatan yang mengancam perempuan. Di mana pun perempuan berada, ada saja yang mengincar keselamatan perempuan. Berbagai kasus telah terjadi. Maraknya perkosaan di angkot, terminal dan stasiun hingga pembunuhan yang dilakukan orang terdekat. Kerja aparat terasa lamban, entah karena terlalu banyak masalah yang ditangani atau karena mengincar kasus yang ‘basah’.

Nah, berdasarkan hal-hal di atas, apakah sebagai perempuan saya bisa merasa tenang? Keresahan ini semakin meningkat. Apalagi dengan korupsi yang merajalela, jelas menghisap uang negara yang seharusnya untuk menyejahterakan rakyat.  Saya resah. Sungguh, saya merasa semakin resah!

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: