Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Achmad Siddik

Perawat Komunitas Pohon Inspirasi yang cinta pada Yang Mencipta Pohon. Ingin menghembus sejuknya inspirasi, merentang selengkapnya

Negeri Penuh dengan Orang Kesurupan

OPINI | 31 January 2012 | 19:29 Dibaca: 418   Komentar: 8   1

1328039219510037465

Waspadah, Orang Kesurupan di Sekitar kita (dok. pribadi)

Tahukah Anda apa itu kesurupan?

Menurut Wikipedia Kesurupan adalah sebuah fenomena disaat seseorang berada di luar kendali dari pikirannya sendiri. Beberapa kalangan mengganggap kesurupan disebabkan oleh kekuatan gaib yang merasuk ke dalam jiwa seseorang.

Mau cari definisi lain dari sumber lain? Saya yakin definisi Wikipedia sudah sangat mudah dipahami dan diiyakan oleh banyak orang. Orang yang kesurupan oleh makhluk ghaib biasanya ditandai dengan hilangnnya kendali pikiran dan berperilaku di luar kebiasaannya. Banyak kasus orang kesurupan tidak sadarkan diri. Ada yang berteriak histeris, menghentak-hentakkan tubuhnya, matanya memutih, bicara dengan nada dan konten yang tidak biasanya. Orang kesurupan bisa ada yang pulih cepat, ada pula yang pengaruh ghaib bertahan lama, hingga aktifitas hidupnya tidak berjalan normal. Intinya, kesurupan itu membuat seseorang berlaku tidak normal, seperti kebanyakan orang.

Menyembuhkan kesurupan semacam itu tidak sulit. Banyak cara dan terapi. Yang terpenting dari pribadi sendiri, agar selalu menguatkan iman dan selalu dekat dengan-Nya.

Orang kesurupan itu tak peduli sekitar. Kesurupan tak pandang nasib orang lain. Dia sudah berubah perilaku dan tidak lagi ingat siapa dirinya. Kesurupan telah membawa seseorang tidak punya rasa malu. Dirinya ada dalam penguasaan syetan. Syetan yang selalu membisikkan kejahatan.

Adakah orang kesurupan di Negeri ini.

Lihatlah para pejabat yang kesurupan. Mereka rakus dan tamak menggasak uang rakyat tanpa ampun, tanpa peduli dan tanpa rasa malu.

Tengoklah hakim yang kesurupan. Mereka memanipulasi putusan, tak lagi bisa membedakan antara sandal jepit dan uang miliaran, hukumannya sama. Tak ingat lagi tersangka masih anak-anak atau nenek-nenek, semua disikat habis demi “pesanan” hukuman.

Lihatlah juga pada orang yang tawuran, mereka tak sadar bahwa Ibu mereka tak pernah mengajarkan kekerasan di rumah. Mereka tidak ingat lagi dengan pengguna jalan dan orang yang berjualan. Semua dirusaknya demi memuaskan amarah syetan.

Bagaimana dengan aparat yang menembaki rakyat.? Mereka seperti tidak melihat sosok manusia yang punya anak dan istri di rumahnya, yang dengan ringannya menarik pelatuk senapan pada kerumunan. Mereka seperti hilang akal dan tak punya belas kasih.

Lalu dengan Ibu yang tega membunuh bayinya? Kemana akal mereka? Mereka telah kesurupan hingga lupa amanah dari Tuhan dan hak hidup seorang manusia.

Bagaimana dengan suami atau istri yang selingkuh? Mereka seolah tertarik ke dunia gelap dan lupa pada amanahnya sebagai istri atau suami sebgai pencetak generasi unggul dan harus memberi contoh yang baik pada keluarga dan masyarakat.

Juga orang-orang yang kesurupan di jalanan. Mereka tak lagi punya peduli pada pengendara lain. Rambu lalulintas tak lagi terlihat jelas dan orang yang lemah dihantam tanpa ampun.

Mereka yang kesurupan seperti itu memang tak kejang-kejang tubuhnya, tidak berteriak histeris, tidak menarik-narik rambut, melotot matanya dan gangguan fisik. Mereka sadar secara fisik namun tidak sadar hatinya. Hatinya keras karena dikuasai kekuatan syetan. Bisa saja mereka melantunkan ayat-ayat Tuhan di bibirnya padahal mereka menodai agama. Bisa saja mereka memotivasi orang yang lemah, padahal dirinya sendiri bermasalah berat. Mereka juga bisa memberi teladan baik di hadapan orang banyak, padahal dibelakang layar merencanakan kebusukan yang menyengsarakan orang banyak.

Mereka tak cukup dibaca-bacakan doa pengusir jin, karena mereka justru menjelma jadi jin saat itu. Terkadang mereka lebih fasih berdoa dari orang banyak, namun doanya sebatas lehernya tidak sampai ke hatinya.

Mereka tak hanya butuh doa, tapi perlu disadarkan. Mereka perlu disadarkan dengan hukuman yang seadil-adilnya dan tegas hingga ’syetan’ di dalam dirinya keluar dan tidak kembali lagi.

Ya, Negeri ini masih banyak orang kesurupan. Semoga pemimpin negeri ini segera bisa menyadari bila suatu  hari nanti diri mereka kesurupan.

Salam sadar :)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 4 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 6 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 8 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 11 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 7 jam lalu

Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Me Time (Bukan) Waktunya Makan Mie! …

Hanisha Nugraha | 7 jam lalu

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | 7 jam lalu

Semoga Raffi-Gigi Tidak Lupa Hal Ini Setelah …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: