
Creative consultant, videographer, photographer, illustrator, comic artist
Dibaca: 125
Komentar: 0
Nihil
Sepakbola dan politik, konon keduanya tidak bisa dipisahkan. Mari tidak usah membahas sejarah hubungan sepakbola dan politik. Tapi akan lebih menarik melihat keduanya sebagai sebuah format tim, semangat, strategi, dan usaha mencapai sebuah kemenangan.
Klub = Partai
Kita coba melihat sebuah perumpamaan antara klub sepakbola dengan sebuah partai. Sebuah klub sepakbola merupakan sebuah organisasi lengkap dengan aparatur-aparatur di dalamnya. Disana ada manager. pemain dan pelatih. Begitu juga bagaimana sebuah klub memiliki supporter yang sangan loyal.
Di dalam organisasi partai, nama partai tentu akan tergantung dari nama tokoh-tokoh politiknya. Dalam hal klub sepakbola, nama pelatih dan pemain top adalah nama-nama tokoh politik yang dijagokan oleh masyarakat. Seorang pemain top macam Christiano Ronaldo, atau Messi, tentu menjadi daya tarik bagi penggemar sepakbola. Namun ketertarikan atas nama besar ini membuat dua kategori besar dalam sebuah klub, yaitu: pendukung pemain dan pendukung klub.
Misalnya pendukungĀ Christiano Ronaldo yang akan selalu membela tim apa pun asal dibela oleh Ronaldo. Berbeda dengan pendukung club, mereka akan tetap bertahan dengan klub kecintaannya, terlepas siapa pun pemain dan pelatih yang keluar masuk klubnya.
Mempelajari hal tersebut, maka jika sebuah partai bisa seperti klub sepakbola maka, partai tersebut tidak terikat siapa tokohnya. Ketika tokoh itu hilang maka partai akan tetap mempunyai massa pendukung (supporter). Jika mengambil contoh partai di Indonesia, ada beberapa partai yang tetap memiliki massa terlepas siapa tokoh yang ada di dalamnya, misalnya PPP (Partai Persatuan Pembangunan) atau Golkar. Sebagai sebuah “tim sepakbola” klub Golkar mampu bertahan saat tokoh dan pemain-pemain andalannya keluar masuk silih berganti dari satu klub ke klub lain. Berbeda dengan klub PDIP misalnya, pendukung fanatiknya masih melihat sangĀ top player Megawati dibanding dengan kehebatan klubnya. Pendukung fanatik PDIP tidak mampu melihat klub ini dari sisi pelatih dan pemain-pemain lini lainnya. Untuk tokoh politiknya, mereka adalah pemain-pemain. Ada pemain yang cuma cari uang, ada pemain yang mencari pamor, ada pemain yang mencari relasi, dan seterusnya. Itulah sepak terjang sebuah klub sepakbola dan partai politik.
Namun ada juga sebuah partai yang meledak karena nama tokohnya. Kebesaran nama tokoh dan sepakterjangnya pun menjadi daya tarik buat massa. Kisah ini terjadi saat Susilo Bambang Yudhoyono membuat klub sendiri bernama Partai Demokrat. Nilai “pemain besar” ini menjadi daya tarik dan daya jual supporter pertandingan (pemilu) karena saat itu tidak ada klub-klub yang menjanjikan. Anehnya, karakter seperti ini tidak terjadi di sebuah klub sepakbola.
Klub sepakbola merupakan sebuah organisasi yang dipupuk dan dibangun secara serius dan berkesinambungan. Pemain dan pelatih yang ada di klub terdidik dan termotivasi untuk saling membangun dan membesarkan klub. Keluar masuknya pemain dan pelatih merupakan hal penting namun nama besar dan ideologi klub jauh berada di depan untuk dijaga dan dibela. Loyalitas ini yang akhirnya menjaring dan menjaga kekompakan supporter klub. Istilah ideologi menjadi penting bagi seorang pendukung sepakbola. Kalah dan menang menjadi sebuah hal biasa dalam sebuah pertandingan. Bagi supporter klub, identitas diri jauh lebih penting dari sebuah kemenangan saja.
Koalisi dan Sportivitas
Semangat pendukung fanatik sepakbola mampu membawa identitas menjadi sebuah ideologi. Mereka rela melakukan banyak usaha dan pengorbanan demi hadir dalam sebuah pertandingan klub kesayangannya. Debat dan argumentasi menjadi tidak penting, karena bagi mereka loyalitas tinggi menjadi hal utama. Rasa percaya yang diberikan kepada klub, pelatih, dan pemain, jauh lebih penting. Jika pemilik, pelatih, dan pemain klub tahu sebesar itu dukungan supporter-nya maka mereka akan kerja keras menampilkan sebuah permainan dan pertandingan terbaik yang mereka punya.
Koalisi sangat umum dalam kancah partai politik, akan tetapi dalam dunia sepakbola koalisi menjadi ambigu. Antara nampak dan tidak tampak. Perseteruan pertandingan memunculkan sebuah strategi di luar pertandingan, transfer jual beli pemain, dan pinjam pemain, tidak bisa dinilai sebagai sebuah langkah atau sikap koalisi. Yang nampak hanya semangat meruntuhkan tim besar yang menjadi juara musim tiap tahun. Misalnya klub Manchester United, sebagai sebuah tim besar yang sering menang, menumbulkan semacam semangat berkoalisi tidak tampak dari supporter-supporter klub menengah yang berharap bisa menjegal tim besar tersebut. Koalisi dan oposisi bukan hal penting bagi sebuah klub sepakbola. Bagi klub, pertandingan adalah sebuah pencapaian tertinggi untuk sebuah kemengan dan hasil dari kemenangan itu dicapai dengan cara yang sportif.
Kebanggaan dari sebuah klub saat menang dalam pertandingan adalah nilai sportivitas. Klub besar sangat bertanggung jawab dan menjujung tinggi nilai sportivitas. Semangat ini seringkali ditumbuhkan oleh sebuah klub kepada para pendukung fanatiknya. Kericuhan dan kekacauan itu lumrah ada dan itu di luar kendali klub. Akan tetapi semangat sportivitas tidak pernah bosan untuk terus digaungkan sebelum dan sesudah pertandingan. Disini lah letak perbedaan yang sangat signifikan antara sepakbola dan politik, yaitu semangat sportivitas. Dalam politik, menjadi sportif itu hal yang sangat tabu, sulit, dan berat. Menerima kekalahan adalah sebuah sikap hina dan jatuh miskin. Bagi klub sepakbola, kekalahan adalah proses dalam perjuangan pemenangan, sportivitas adalah cara dan upaya dari pemenangan itu. Buat apa menang jika dicapai dengan cara yang tidak sportif? Di dalam permainan hal tersebut jelas disebut curang atau tidak fair. Dalam politik, curang, tidak fair, atau lobby-lobby adalah alamiah.
Menang, Kalah, dan Piala Dunia
Berjuang demi sebuah kemenangan menjadi nilai bertingkat. Menang untuk tingkat tarkam, kecamatan, propinsi hingga tingkat nasional dan internasional, tentu membutuhkan semangat sportivitas yang berbeda. Makin tinggi sebuah pertandingan maka makin besar nilai keahlian, kerjasama, kerja keras dan sportivitas. Dalam dunia politik pencapaian tertinggi dari sebuah kemenangan adalah membangun Indonesia yang utuh ke kancah dunia. Bayangkan jika pemilu Indonesia itu adalah upaya menembus sepakbola Indonesia ke kancah Piala Dunia. Tidak ada lagi pendukung fanatik klub yang membawa atribut dan slogan klub kesayangannya, semua teriak untuk satu nama, nama Indonesia.
Partai politik nampaknya masih sulit dan enggan melakukan itu. Kemajuan Indonesia dinilai oleh mereka hanya bisa tercapai jika partainya berkuasa. Tidak perlu bekerjasama dengan partai lain. Koalisi hanya sekedar basa-basi dan jadi ajang unjuk kekuatan saja. Oposisi pun tidak memberikan kontribusi signifikan. Akhirnya, tiap masa jabatan pemerintahan terasa sekali hawa partai lebih dominan dibanding hawa persatuan Indonesianya.
Seorang tokoh partai yang kalah, tidak akan punya tempat untuk berkontribusi atas pembangunan negeri. Begitu pun sebaliknya, saat partai yang menang mengajak tokoh politik lain pun belum tentu mau untuk bergabung. Jangan kan bersalaman, untuk bertemu muka pun tidak mau. Ini sebuah sikap dan contoh yang sangat kontras dari sebuah nilai sportivitas di politik dan sepakbola.
Musim Pertandingan Akan Tiba
Musim pertandingan adalah masa-masa menjelang pemilu. Semua klub partai akan menyiapkan strategi terbaiknya, tokoh-tokoh politik akan mengambil ancang-ancang untuk tampil di depan publik dengan kepiawaiannya menggocek kata-kata dan program partai. Para penggemar klub bersiap untuk menantikan pertandingan akbar.
Tahun 2012 sampai 2014 adalah masa yang kondusif untuk sepakbola dan politik. Indonesia akan memasuki masa kampanye besar-besaran. Partai-partai akan bertanding lewat perseteruan politik. Bersamaan dengan itu, dunia sepakbola pun sedang dimeriahkan dengan banyak pertandingan besar. Sebut saja Piala Eropa, Olympiade, dan Piala Dunia. Berjuta-juta mata penduduk Indonesia akan menatap serius ke pertandingan-pertandingan nanti. Hebatnya, bagi politisi Indonesia ajang-ajang sepakbola tersebut bukan tidak mungkin dijadikan “kendaraan” berkampanye mereka. Perhatikan saja bagaimana serunya partai-partai dan tokoh politik mencampuri ranah PSSI dan hak siar Piala Dunia. Ini tanda bahawa antara sepakbola dan politik Indonesia masih sangat kental hubungannya. Siapa yang berjaya di sepakbola, dialah yang menguasai pamornya.
Dalam politik Indonesia, SBY sudah tidak akan masuk bursa pemain andalan untuk pemenangan. Posisi kosong ini akan menjadi posisi idaman dan favorit bagi semua klub partai. Jegal-menjegal pasti akan terjadi, namun apakah penjegalan itu bisa dilakukan dengan sportif? Jika tidak fair dan syarat kesalahan, siapa yang kena penalty? Siapa wasit dari pertandingan ini? Beranikah wasit tegas dalam pertandingan?
Kita sebagai pendukung dan penikmat sepakbola, tentu tidak akan boleh lengah. Pertandingan akan segera dimulai. Mari kita nikmati pertandingan.. Mari kita pantau..!
Selamat Bertanding…