Artikel

Yohannes Andre

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Love, Wisdom, And Compassion

Seseorang : Ini Prinsipku!


OPINI | 23 January 2012 | 12:35 Dibaca: 55   Komentar: 3   Nihil

Belum terlalu gelap sepertinya sore itu, buktinya lampu-lampu di tepi jalan toh masih belum menyala. Ada sebuah rumah kecil sedikit masuk ke gang tepatnya, tidak terlalu mewah maupun tak terlalu jelek rumah itu.

Entah karena apa, suara dari dalam rumah itu terdengar hingga keluar. Rupa-rupanya salah seorang berteriak dan selang tak beberapa lama ada suara lain yang membalas teriakan itu. Ada perdebatan yang sengit ternyata, dan itu soal prinsip.

Biasanya, kalau sudah masuk pada pembicaraan “ini prinsip saya” sepertinya suasana dialog yang penuh keakraban sudah menemui jalan buntu. Itu belum lagi kalau salah satu pihakĀ  atau lebih merasa berang. Marah-marah adalah pilihan yang paling relevan nampaknya, dan upaya-upaya yang mengarah pada sikap tidak mengharapkan orang lain dengan tindakan merugikan.

Banyak pergaulan di lingkup sosial yang acap kali gagal menemui jalan tengah, toleransi lenyap seperti ditelan bumi. Suami-istri bertengkar mempertahankan prinsip masing-masing, demonstran memaksakan prinsip dengan polisi, guru memaksakan prinsip kepada murid, dan masih banyak yang lain.

Seorang Profesor komputer bernama Shimon Shocken, pernah mengajak beberapa anak yang dilabeli “berbahaya” oleh masyarakat. Anak-anak yang notabene masih berstatus narapidana itu, setiap minggu diajak untuk bersepeda, dan seiring waktu, tumbuh dalam diri mereka sikap menghargai diri sendiri. Ketika dalam usahanya mengurangi keliaran mereka, dia mengatakan soal prinsip, “Ini visi saya, ini prinsip saya. Jika kalian tidak suka… tidak jadi soal, yang paling terpenting adalah kita harus berjanji pada masing-masing bahwa kita akan saling menghargai. Saya masih punya banyak prinsip.” Profesor itu memberi toleransi yang besar atas sebuah prinsip yang berbeda-beda.

Nah, pertanyaannya adalah bagaimana dengan kita? yang seringkali memaksakan prinsip kepada orang lain? masihkah kita mempunyai cukup toleransi atas banyaknya perbedaan? … dan lebih mau memahami?


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: