Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ria Mega Sari

http://hangie-bakpaw.blogspot.com http://riamegasari.blogspot.com

Dangdut Cabul dan Saweran

OPINI | 18 January 2012 | 21:21 Dibaca: 1153   Komentar: 2   2

Saya baru benar-benar tau hal tersebut ternyata telah membudaya di Negeri ini, Negeri yang katanya sarat budaya sopan-santun nan bersahaja. Kata siapa? Tidak penting siapa yang mengatakan, tetapi citra itu berakar pada pemahaman saya dan kecintaan pada Negeri ini, pada budaya leluhur ini, pada norma kewanitaan tanah air ini. Dari mana saya ingin membicarakan tentang keresahan saya mengenai ini? Yah, dangdut cabul dan budaya cabul didalamnya. Semuanya adalah soal uang dan hiburan. Penanda yang paling dasar dan kasar.

Memang semua yang ada sekarang berawal dari sejarah yang kemudian membumi dan menjadi ciri serta meluas yang ternyata diterima dengan gamblang. Persoalannya adalah pemilahan setiap yang harusnya berkembang atau dirubah, peradapan toh sudah sangat maju, banyak indikasi yang dapat memberi pemahaman pada kita mana yang baik atau tidak. Saya tentu tidak begitu perduli pada bapak-bapak bangka yang menikmati dengan otak alamiah ketika melihat suguhan yang memompa darah kelelakian, atau pemuda-pemudi yang tidak jauh rasa dengan bapak-bapak itu, sebatas penghiburan. Hanya saya menyayangkan dan miris melihat anak-anak yang seharusnya diberi wawasan positif tentang budaya dan norma malah menjadi bulan-bulanan tontonan yang tidak ingin saya sebut murahan, karena pada dasarnya saya memandang hal tersebut (dangdut cabul) dari sudut pandang seni. Seni yang punya pengetahuan luas dan apresiasi bertingkat, kembali pada yang memahami hal tersebut. Dan siapa yang seharusnya menjadi tokoh penyampai kebaikan yang akan membentuk anak-anak itu? Tentu saja kita yang telah lebih dulu terbentuk. Dan marilah berpikir dalam pengetahuan yang lebih baik untuk hal ini.

Saya memang penikmat seni jalanan dan seni dengan pemahaman yang merakyat, yang berakar dari tradisi dan catatan sejarah, yang dapat diterjemahkan dalam tatanan dan cerminan yang paling dekat dengan kehidupan. Kehidupan jelata dan paling dasar. Itulah alasan mengapa saya menonton sebuah pertunjukan panggung dangdut disuatu desa kecamatan, ketika itu saya sedang ada pekerjaan di desa Muara Wis yang mayoritas adalah penduduk kutai. Suku ibu ini membuat saya tidak asing berada ditempat itu, ada kesederhanaan yang menjadi candu untuk definisi kehidupan yang bebas pada saya. Kembali soal pertunjukan dangdut tersebut, titik permasalahan yang menjadi perdebatan didalam saya adalah anak-anak yang dibiarkan mengkonsumsi mentah-mentah tanpa bekal pengertian yang lengkap dan belum pada orientasinya, dan tenggelamnya kesenian leluhur dengan wawasan sejarah dan nilai-nilai kehidupan yang utuh dan penuh. Benar, dangdut dan saweran adalah seni tradisi juga tercatat pula oleh sejarah, tetapi menjadi rancu ketika konteks dan wawasannya dicampur dengan kepentingan cabul yang mengatas-namakan urusan perut. Uang dan hiburan. Seni memang nyaris tanpa batas, jika berbicara soal seni. Hanya saja harus punya tatanan nilai dan tempat. Dan titik yang membuat saya awas pada hal ini adalah, pembiaran pada anak-anak yang memahaminya dengan alam pikiran yang belum rampung dan kewanitaan yang diakal-akali oleh pihak yang menggelar mereka tanpa pembekalan nilai yang khusus, dan sekali lagi bukan pada uang urusan perut dan hiburan, tetapi pemikiran yang seharusnya dapat dibentuk dan membentuk. Jangan menilai penghiburan untuk masyarakat kita dalam pemaknaan cabul, ini perendahan terhadap norma kemanusiaan dan keberadaan Tuhan.

Dangdut cabul seperti apa yang sebenarnya saya bahas? Dangdut adalah jenis musik yang memasyarakat mengikuti perkembangan waktu, konteks yang saya pahami. Penyanyi dangdut sudah pasti harus mempunyai suara yang dapat menyampaikan warna musik itu sendiri, lepas dari kepentingan uang atau kebanggaan apapun. Sesuatu yang dapat didengar dengan mudah dan dilihat apik. Proses penyampaian yang bersahaja dan semestinya dapat menjadi alat pembawa perubahan kepada peradaban yang lebih baik. Dan cabul karena selain dengan berpakaian minim tetapi juga goyangan-goyangan erotik ala striptis jalanan, nyaris tak mempunyai adab kesopanan dan itu jelas sengaja menjadi bagian top point dalam pertunjukan tersebut, baiklah ada negosiasi untuk yang dapat menempatkan suatu pemahaman akan hal itu, tapi bagi anak-anak SD, SMP, SMA yang masih dibawah umur 17? Hal itu terlalu jelas dipertontonkan, doktrin erotisme dengan kelalaian kesadaran para pembentuk regenerasi. Ini sudah pasti berpengaruh pada mental dan moral. Tela’ah mana yang bisa menerangkan hal ini? Ini bentuk keprihatinan saya.

@cendana 18 Januari 2012

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengubah Hujan Batu Menjadi Emas di Negeri …

Sekar Sari Indah Ca... | | 19 December 2014 | 17:02

Dilema Sekolah Swasta …

Ramdhan Hamdani | | 19 December 2014 | 18:42

(Maaf) Ngupil Pun Ada Etikanya …

Find Leilla | | 19 December 2014 | 14:04

Sang Penabuh Kabar …

Muhammad Armand | | 19 December 2014 | 10:18

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35


TRENDING ARTICLES

Mau Lihat Orang Jepang Panik Antri Bensin? …

Weedy Koshino | 5 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 6 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 6 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 8 jam lalu

Media Online, “Pelahap Isu Hoax” …

Ajinatha | 9 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: