Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Kusuma Wardhani

merenung, adventure,baca, love cooking chocolate cake,chocolate...hot chocolate..

Dangdut Erotis…Bahaya!

OPINI | 15 January 2012 | 03:06 Dibaca: 515   Komentar: 2   0

Saya tertawa sendiri melihat tayangan local televisi Indonesia yang menampilkan atraksi dangdut heboh ala trio perempuan Indonesia. Cerdik juga sih, mengunakan nama hewan tertentu untuk menunjukkan gaya dangdut panggung mereka yang “ganas” seronok dengan lirik-lirik yang “nyerempet” dan tentu saja memancing hasrat kaum adam. Tapi trio-trio dangdut begini ternyata tidak cuma satu di Indonesia, ada belasan dan rata-rata mereka memang punya metode “berjualan” yang serupa.

Dangdut sebagai hiburan masyarakat kebanyakan saat ini mengalami mutasi gen, dimulai dari lagu-lagu melayu mendayu, kemudian diperkaya oleh gendang India, dan kini unsure pop dan rock juga mewarnai dunia perdangdutan di Indonesia sementara dari unsure goyangan, mungkin Inul lah yang pertama kali memberikan sensasi yang berbeda dari dangdut sebelumnya. Namun akhir-akhir ini, ada fenomena yang membuat miris perasaan saya.

Di pesisir utara pulau Jawa, maupun di beberapa tempat di Sumatera, muncul dangdut-dangdut yang lebih mempertontonkan erotisme daripada mempertunjukkan dangdut sebagai karya seni yang sopan dan memiliki etika. Keberadaan kelompok dangdut erotis ini sangatlah banyak, penyanyi wanita yang rata-rata cantik dan berbodi bagus, memang dipakai sebagai bahan jualan mereka. Tapi adakah korelasi antara lirik lagu, kemolekan tubuh dan goyangan yang sangat erotis dengan misi yang akan dicapai dari sebuah pertunjukan, kecuali uang dan uang. Seperti kita ketahui, bahwa pertunjukan dangdut erotis ini mewabah di pelosok pedesaan, yang disana tidak ada batasan usia dalam menontonnya.

Bisa dipastikan, kalau semua kalangan baik anak-anak, remaja dan yang tua akan mudah untuk menonton, toh tidak ada sensor yang melarang keberadaan mereka sebagai penonton. Saya hanya berpikir, apa yang ada di benak penonton anak-anak yang belum mengerti, dan penonton remaja yang sangat rentan jiwanya usai menonton pertunjukan semacam ini. Undang-undang pornografi mungkin masih terus digodok, dan masih terus menjadi perdebatan dibalik kepentingan hak asasi manusia. Tapi satu hal yang menurut saya penting, janganlah mengorbankan jiwa-jiwa bersih dari generasi bangsa ini dengan sentilan pornografi yang masuk kedalam urat kehidupan masyarakat, termasuk dari musik dangdut erotis.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Ga Pengen Gundul? Rawat Rambutmu??? …

Kang Isrodin | | 29 November 2014 | 12:00

Sentilan-sentilun SBY dan Jokowi …

Gunawan | | 29 November 2014 | 09:00

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Festival Payung Indonesia Pertama, …

Indria Salim | | 29 November 2014 | 13:31

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jangan Tekan Ahok Lagi …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Ibu Vicky Prasetyo Ancam Telanjang di …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Pak Jokowi, Dimanakah Kini “Politik …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 11 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kekhawatiran Masyarakat Terhadap Bahaya Susu …

Hikmawati . | 8 jam lalu

Seperti Apa Mas Kawin di Zaman Rasulullah …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Kontraversi Aborsi …

Jahrianti Nur Tahir | 8 jam lalu

Remang-remang Kunang-kunang …

Harry Ramdhani | 9 jam lalu

Panggung Rising Star Indonesia Gagal …

Pietro Netti | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: