
Perempuan. Duapuluhsekian. Suka keliling kota sambil membawa peta.
Dibaca: 488
Komentar: 83
1 dari 3 Kompasianer menilai menarik
Ilustrasi-Keraton Yogyakarta/Admin (Shutterstock)
Jika suatu saat Anda bertanya pada seorang kerabat di Jogja tentang rencana hendak berlibur ke mana atau habis liburan di mana dan dia menjawab “Mau piknik ke Paris” atau “Abis liburan di Paris nih”, jangan terburu-buru kagum dulu! Belum tentu Paris yang dia maksud adalah ibu kota Perancis, namun hanya nama pantai populer di pesisir selatan Jogja sana, yaitu Pantai Parangtritis yang disingkat menjadi Paris.
Begitupula jika suatu saat Anda mendengar seorang tukang becak berucap hendak narik becak ke Pakistan. Jangan buru-buru men-judge tukang becak itu seorang pembohong dan tukang omong kosong sambil berucap “Ah gojek koe pak, masak ngayuh becak sampe Pakistan?”. Siapa tahu ucapan pak becak itu benar adanya. Dia hendak narik becak ke Pakistan alias pasar kidul stasiun atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah Sarkem alias pasar kembang.
Entah kenapa orang Jogja itu hobi sekali membuat singkatan. Banyak nama daerah, jalan, dan kampus disingkat sesuka hati hingga terkadang menciptakan nama baru yang membuat kening berkerut atau bahkan tersenyum gondok. Mungkin memang dasarnya suka gojek dan tidak suka hal-hal yang serius, sehingga apapun dibuat bercandaan, plesetan dan guyon yang khas Jogja banget.
Jogja terkenal sebagai kota pelajar di mana terdapat banyak perguruan tinggi baik ternama maupun tidak. Sebut saja UGM, UNY, UMY, UII, Sadhar, Atmajaya, dll. Meski sudah memiliki singkatannya masing-masing, anak-anak Jogja sering menyebut nama kampusnya dengan singkatan yang aneh-aneh. Selain Universitas Gadjah Mada, UGM kadang dijabarkan menjadi Universitas Gejayan Menggok untuk menyebut Sanata Dharma (Kampus Sadhar terletak di sebelah Jalan gejayan) atau Universitas Gamping Mengidul untuk menyebut UMY yang terletak di sebelah selatan Gamping. Sedangkan UNY kadang menjadi UPI (Universitas Padahal IKIP) atau UNYIL (UNY IKIP Lama). Universitas Wangsa Manggala yang disingkat UNWAMA sering diplesetkan menjadi Universitas Wuadohe Masya Allah karena terletak di jalan Wates yang jauh dari kota. Sedangkan AKPRIND konon merupakan singkatan dari Akademi Pria Idaman akibat sebagian besar mahasiswa di kampus itu adalah pria.
Jika singkatan kampus hanya diketahui oleh kalangan tertentu, singkatan nama jalan menjadi hal yang diketahui oleh masyarakat luas. Misalnya Jakal untuk menyebut Jalan Kaliurang, Jamal untuk menyebut Jalan Magelang, Japar untuk menyebut Jalan Parangtritis, Jago untuk Jalan Godean, hingga Jamban untuk menyebut Jalan mBantul. Sedangkan nama tempat yang disingkat antara lain Monjali untuk menyebut Monumen Jogja Kembali, Kobar untuk menyebut Kota Baru, atau Concat untuk menyebut Condong Catur.
Andaikata suatu saat Anda datang ke Jogja dan bertanya kepada orang “Hendak pergi ke kemana?” kemudian orang itu menjawab “Jancik!” jangan buru-buru tersinggung. Orang itu tidak sedang misuh’i Anda, melainkan dia hendak pergi ke Jalan Cik Di Tiro. Begitupula halnya jika Anda bertanya “SMA 1 Jogja tu ada di mana ya?” kemudian saya menjawab ”Jancok!” jangan marah! Karena itu untuk menyebut Jalan Cokroaminoto. Eh tapi untuk 2 yang terakhir ini hanya populer di kalangan saya dan kawan-kawan Canting saja ding! hehe.
Eh katanya orang jakarta juga ikut-ikutan Jogja nyingkat-nyingkat nama ya? Tuh bandara Sukarno Hatta disingkat jadi Soeta! Untung orang Jogja nggak nyingkat nama bandaranya. Masak udah bagus-bagus bernama Bandar Udara Adisutjipto disingkat menjadi Bundas*? :)
*Bundas dalam bahasa Jawa berarti babak belur dan lebam