Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ari Rizal

Saya seorang wartawan.

Undangan

OPINI | 08 January 2012 | 21:50 Dibaca: 143   Komentar: 3   0

GARA-gara undangan, konflik berkepanjangan terjadi dalam episode FTv yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta nasional. Dikisahkan, seorang warga menggelar hajatan di rumahnya. Karena orang terpandang, si empunya hajatan menebar banyak undangan. Untuk membedakan tamu-tamunya, undangan pun dibagi, ada yang berwana merah, ada yang berwana kuning. Dari sini, konflik melebar.

Mereka yang menerima undangan warna merah protes. Merasa terhina, karena undangan warna merah sengaja dibuat untuk mereka yang miskin, orang biasa. Sementara, undangan warna kuning bagi mereka yang kaya, terpandang.

Kisah FTv itu mengingatkan saya kejadian beberapa waktu lalu. Saya pernah menerima undangan yang sama. Undangannya sederhana, dari kertas yang tipis, jelaslah murah harganya. Pada hajatan yang sama, kolega menerima undangan dengan bentuk yang lebih baik, tebal, bermotif, dari kertas yang tentunya lebih mahal. Dalam hati, jengkel juga. ” Lah…mau ngundang, kok malah nyakitin…!”

Soal membeda-bedakan orang atas status, kekayaan, gelar dan segala macam atribut sudah menjadi tabiat manusia. Wajah feodal itu terlihat benar pada acara hajatan, seremonial, kondangan atau baralek, istilah orang Minangnya. Dari mewah atau tidaknya alek itu, sudah tergambar apakah si emnpunya hajatan orang kaya atau orang biasa. Dan lebih ironis lagi, ternyata nilai manusia hanya seharga sebuah undangan yang terbuat dari kertas. Ada orang kecil, maka undangannya kecil pula, ada orang besar, undangannya besar pula.

Si empunya hajatan bisa jadi memakai logikanya sendiri. Undangan kecil, memang pantas untuk orang kecil. Ia mengira, kalau orang kecil, maka amplopnya juga kecil. Jadi, hitung-hitungan modal dan pendapatnnya nyambung. Ada juga kawan yang berlogika, ya sudahlah….mending masih diundang. Coba kalau tak diundang, berarti lebih menghinakan lagi.

Logika kawan itu sama dengan logika yang dibangun salah satu tokoh dari FTv di televisi swasta itu. Tokoh ini menerima undangan warna kuning. Namun, ia tak merasa undangan warna kuning itu sebagai sebuah penghormatan yang berbeda terhadap dirinya. Logika tokoh itu, benar juga si empunya hajatan membedakan tamunya atas orang miskin dan orang kaya. Bayangkan, kalau orang kaya nyampur dengan orang miskin, orang kayanya akan merasa risih, orang miskinnya akan merasa rendah diri. Jadi, sesuatu itu harus ditempatkan pada tempatnya.

Bisa jadi si empunya hajatan berpandangan diskriminatif terhadap tamu-tamunya, namun si penerima undangan yang merasa didiskriminasikan menjadi tidak jauh berbeda nilainya dengan si empunya hajatan. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Rasulullah SAW pernah dihujat, dimaki, dihina, diludahi oleh seorang pemuda. Namun, Rasulullah tak pernah membalasnya karena kalau membalas, berarti ia tak ada bedanya dengan si pemuda itu. Riwayat ini tentu saja dalam konteks pendidikan personal, dalam kehidupan sosial, apa pun bentuknya membeda-bedakan manusia itu adalah bentuk diskriminasi.

Soal undang-mengundang itu hanyalah persoalan ber-muamalah. Hukum-hukum ber-mualamah itu memang bisa diperdebatkan. Titik temunya tidak ada, kalau masing-masing orang bersikeras pada satu sisi pandangnya. Orang yang memberi undangan bermaksud mendiskriminasikan orang-orang yang diundangnya, ia tidak lebih baik dari orang-orang yang dibedakannya itu. Orang yang merasa didiskriminasikan atas undangan yang diterimanya, ia juga tak lebih baik dari orang yang mengundangnya.

Lalu, di mana titik temunya? Realitasnya manusia itu memang berbeda. Jadi, kalau ada manusia yang mencoba membeda-bedakan manusia lainnya, itu hukum alam. Karena manusia berbeda itulah, maka hukum persamaan diciptakan. Karena manusia itu cendrung membuat berbedaan-perbedaan, makanya manusia yang terbaik itu adalah yang selalu mencari persamaan. Dan menjadi manusia terbaik itu adalah soal pilihan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Live Streaming dan Selfie Berhadiah di …

Yayat | | 21 November 2014 | 20:43

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 13 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 13 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 15 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Review “Supernova: Gelombang” : Kisah …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Guru Destiani, Menulis dan Menginspirasi …

Adian Saputra | 8 jam lalu

Karya Arek ITATS: Game Tooth Kid “Sang …

Xserver Indonesia | 8 jam lalu

Dua Ribu Rasa …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Guru Menulis Berdiri, Siswa Menulis Berlari …

Muhammad Irsani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: