Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Agung Sugiarto

Manusia yang ingin terus belajar...

Kerja Bakti Kok Diabsen?

OPINI | 08 January 2012 | 13:06 Dibaca: 159   Komentar: 1   0

Kerja bakti kok diabsen? Ada-ada saja, ah. Percaya tidak percaya, ini benar adanya. Tadi pagi (8/1/12), di tengah rintik gerimis sehabis bekerja bakti membersihkan jalan dan got di lingkungan rumah, saya bersama ketua RT dan dua tetangga mengobrol ringan.

Di tengah obrolan, ketua RT saya mengatakan bahwa sebenarnya ada instruksi dari ketua RW untuk mengabsen warga yang ikut bekerja bakti dengan cara setiap orang yang datang menandatangani form yang telah disediakan. Dijelaskannya juga bahwa instruksi dari RW itu adalah instruksi langsung dari lurah.

Terang saja, begitu mendengarnya, saya dan tetangga langsung iseng menyeletuk.

“Kayak anak sekolah aja pake diabsen segala Bu (ketua RT saya ibu-ibu)”, kata saya.

“Kalau kita diabsen, trus ketua RW-nya diabsen juga gak ya?”, seorang tetangga menimpali.

“Ah, itu Pak Lurah bercanda kali. Masa iya, kerja bakti aja harus diabsen”, tambah tetangga yang lain.

Ketua RT hanya menjawab singkat, “iya, ada-ada aja instruksinya”

Itulah mengapa, tanpa bermaksud “melawan” instruksi tersebut, ketua RT saya enggan mengambil

form-nya. Dia juga merasa, sama juga seperti saya dan warga lain, instruksi itu boleh dibilang “aneh”.

Lah, kerja bakti aja kok diabsen.

Maksud dan tujuannya apa toh?

Apa warga yang kerja bakti mau dibayar, jadinya harus diabsen?

Apa bakal ada pemilihan warga terbaik yang suka bekerja bakti?

Apa warga yang enggak kerja bakti akan dipanggil RW atau lurah, lalu dinasehati agar tidak mengulangi lagi perbuatannya?

Apa yang tidak kerja bakti akan diblacklist dan dipersusah saat membuat KTP atau dokumen lainnya di kelurahan?

Tadinya, saya mau menanyakan langsung maksud pengabsenan itu kepada ketua RT, tapi karena dia juga tak antusias dan tak menanggapi intruksi itu, saya rasa pasti jawabannya memang tidak “masuk akal”. Saya urungkan niat bertanya. Begitupun dengan tetangga yang lain, tak ada yang menanyakannya. Jadilah, obrolan tentang pengabsenan itu berhenti sampai disitu, tergantikan tema obrolan lain. Dan, sampai kami bubar pulang ke rumah masing-masing tak lagi diungkit-ungkit masalah pengabsenan itu.

Pastinya, menurut saya, apapun jawaban dan alasannya, adanya pengabsenan saat kerja bakti terlalu berlebihan. Bagi saya, kerja bakti itu lebih sebagai salah satu sarana (selain arisan, pengajian, atau kendurian) untuk para warga saling bersilahtuhrahmi. Mungkin, karena kesibukan bekerja di hari-hari lain, mereka tak sempat bertemu, menyapa, atau bahkan belum saling mengenal tetangganya sendiri. Saat kerja baktilah, hal itu bisa dilakukan. Untuk urusan bersih-bersihnya, itu urusan nomor dua bagi saya (Tapi harus bersih juga loh, ntar kalau enggak, dimarahin ketua RT… :)).

Memang, tak dimungkiri ada juga warga yang “cuek”, jarang atau bahkan tidak pernah datang saat ada kerja bakti. Ada saja alasan yang berikannya untuk itu. Namun, jumlah warga yang seperti ini biasanya tak banyak, hanya satu dua orang. Itu semua bergantung kesadaran masing-masing. Hak mereka juga, mau datang ok, mau enggak….biarlah tetangga dan Ketua RT yang menilainya :).

Maka, tak perlulah harus ada pemaksaan untuk bekerja bakti, apalagi sampai harus diabsen segala.

Lebay ah….

Salam….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: