Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Rahmadan Syah

Masyarakat awam yang mencari keridhoan Allah SWT

Menjadi Buruh Pabrik: Penggadaian Akidah, Keluarga, dan Ekspresi?

REP | 06 January 2012 | 16:21 Dibaca: 160   Komentar: 6   0

belum genap sebulan saya menjadi buruh di salah satu pabrik di daerah saya. inilah pengalaman pertama saya menjadi buruh pabrik dengan usia yang tidak muda lagi yakni 30-an. saya tidak mengerti kenapa saya tidak diterima karena biasanya pabrik hanya menerima anak-anak muda yang baru lulus SMA, bahkan pekerja wanita yang telah menikah diminta untuk berhenti. tidak tanggung-tanggung saya langsung ditempatkan dibagian operator mesin padahal saya bukan berlatang belakang teknik mesin atau mengerti mesin sama sekali, but ok.. i take n try it.. nothing imposible in this world. pilihan menjadi buruh pabrik menjadi pilihan terakhir saya ketika usaha kecil-kecilan saya mengalami kemandekan jika tidak dibilang mati suri. sedang anak istri butuh susu dan makan.

sebagai perokok aktif menjurus berat, hari pertama kerja saya sudah harus membuat pernyataan ma’af kepada manajemen pabrik karena tanpa sengaja saya mengantongi sebatang rokok yang seyogyanya akan saya hisap sebelum masuk ke kawasan pabrik, tapi karena sesak ingin buang air kecil dan di sekitar pabrik tidak ada toilet maka saya masuk ke pabrik untuk buang air kecil, tapi apa nyana rokok yang terselip di kantong lupa saya tinggal, tertangkap satpam di pintu masuk dan dilaporkan ke manajemen. menurut peraturan yang berlaku di pabrik saya seharusnya di pecat namun karena hari pertama saya diberi kelonggaran dan hanya membuat pernyataan maaf. selamat.

sebagai orang yang terbiasa bebas dan pengalaman kerja yang terbiasa di luar kantor, saya sedikit shock dengan keadaan kerja. peraturan-peraturan yang tentunya di buat untuk kenyamanan dan keselamatan kerja sedikit badan memberontak karena tak terbiasa. tidak boleh membawa rokok, tidak boleh membawa hp, dll..dll. membuat saya sedikit merasa di penjara selama jam kerja di tambah tembok tinggi mengelilingi kawasan pabrik.

namun yang sedikit membuat saya lemas adalah tidak adanya fasilitas ibadah di kawasan pabrik. terutama bagi umat islam yang notabene pekerja pabrik sebagian besar adalah umat islam, dan jam kerja mereka ada yang mulai jam 7.30 pagi sampai 7.30 malam. saya perhatikan buruh pabrik yang ada baik perempuan dan laki-laki meninggalkan sholat zuhur mereka, karena mereka memanfaatkan waktu istirahat yang 1 jam tersebut untuk benar-benar istirahat dan relax. lalu bagaimana yang melewati waktu-waktu sholat mereka di waktu isya, subuh, ashar dan magrib? apalagi hari jum’at yang seharus umat islam laki-laki wajib menjalankan ibadah sholat jum’at. kami para buruh hanya diberi waktu istirahat 1 jam dari jam 12 sampai jam 1 siang. sedangkan waktu sholat jum’at di daerah saya berakhir jam 13.20 wib.

saya bertanya apa harus saya menggadaikan akidah saya hanya untuk mendapatkan sekian perak rupiah sebagai buruh pabrik? shalat saya menjadi tidak lengkap 5 waktu lagi.

apakah pantas saya gadaikan waktu kebersamaan dengan istri dan anak saya yang sedah tumbuh kembang dan sedang lucu-lucunya hanya untuk beberapa rupiah sebagai buruh pabrik?

apakah pantas saya gadaikan kebebasan berekpresi saya hanya untuk sekedar menjadi buruh pabrik?

saya jadi berpikir sempit, apakah ini cara kaum kapitalis dan non muslim untuk membuat umat muslim di indonesia menjauhi agamanya? untuk menjadikan pribadi yang tidak bisa berekspresi dan kreatif? kaum miskin dan muda merupakan sasaran empuk dan mudah untuk perusakan akidah.

atau ini hanyalah takdir dan nasib yang digariskan kepada Sang Pencipta kepada kaum termarginal dan terhegemoni?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 11 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 13 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

PM Vanuatu Desak PBB Tuntaskan Dekolonisasi …

Arkilaus Baho | 7 jam lalu

Plus Minus Pilkada Langsung dan Melalui DPRD …

Ahmad Soleh | 7 jam lalu

Bantaran …

Tasch Taufan | 8 jam lalu

Indonesia Tangguh (Puisi untuk Presiden …

Partoba Pangaribuan | 8 jam lalu

UU Pilkada Batal Demi Hukum? …

Ipan Roy Sitepu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: