
Menulis bukan untuk perlihatkan pada orang-orang bahwa saya lebih banyak tahu. Tapi, menulis adalah cara untuk perlihatkan pada diri sendiri atas banyak hal yang belum saya tahu
Dibaca: 840
Komentar: 43
2 dari 7 Kompasianer menilai inspiratif
Ilustrasi: Pasarkreasi.com
Sedikit tercekat, saat pagi sambil menikmati secangkir kopi, mendapati berita di salah satu pantai di Jawa Timur diketemukan kondom-kondom berserakan. Tentu saja, itu bukan kondom yang dihembus bocah-bocah karena belum tahu benda itu buat apa. Tapi justru karena kondom itu sudah dipergunakan seperti petunjuk yang ada di bungkus-bungkusnya. Bukan persoalan terlalu serius, mungkin, bagi sebagian orang. Tapi menjadi serius ketika fenomena itu dikaitkan dengan sejauh mana penghargaan terhadap perempuan, saya kira begitu.
Masih persis beriringan dengan selesainya saya baca berita itu di salah satu media. Jika tadi hanya tercekat, selanjutnya hanya bisa tercenung; 1. ini pertanda iklan kondom sudah sukses besar, 2. masyarakat sudah lebih hati-hati terhadap potensi penyakit kelamin, 3. sebagian masyarakat kian paham, pergunakan kondom tidak saja aman untuk kelaminnya sendiri, tetapi juga ia aman dengan tuntutan tanggung jawab.
Iya, ternyata dunia modern kian memanjakan manusia; dalam konteks ini adalah lelaki. Lantas, kondom lahir, diproduksi besar-besaran dan kemudian disebar diseluruh belahan dunia.
Cuma, di sini, saya berkeyakinan, penemu kondom dulunya bermaksud baik maka ia ciptakan kondom itu; agar bisa membantu pencegahan penyakit kelamin. Sayangnya, mungkin ini kelebihan manusia, sesuatu yang diciptakan untuk sebuah tujuan, kemudian dengan sendirinya bisa ditemukan tujuan-tujuan lainnya. Taruh misal, memilih memakai kondom agar kepuasan seks tercapai, dan perempuan yang disetubuhi tidak hamil.
Pilihan itu jelas pilihan sangat aman, teramat sangat aman. Toh, seperti itulah pola pikir yang kerap ada di tengah-tengah kita, dan mungkin juga menjadi pola pikir kita sendiri.
Fakta itu, meski tidak mutlak, nyaris bisa dipastikan dilakukan oleh pasangan-pasangan yang belum menikah. seks bebas dilakukan, kepuasan diperoleh, dan bisa lepas dari tuntutan tanggung jawab. Yang lelaki dengan enteng jejali kemaluannya pada kemaluan pasangannya. Hanya butuh sedikit bumbu rayuan, atau bahkan tanpa perlu rayuan sama sekali, dan itu pun terjadi.
Percaya atau tidak, yang lelaki akan cenderung leluasa untuk tertawa selepas itu. Sedangkan pasangannya, perempuan, pasti akan terbeban batin yang teramat sangat, entah mereka mengakuinya atau tidak. Alasannya sederhana, sebodoh apa pun perempuan, mereka tahu bahwa mereka hidup di tengah-tengah masyarakat yang masih menjunjung tinggi keperawanan yang menjadi simbol kesucian. Efek lebih lanjut, kelak mereka akan kesulitan mendapatkan jodoh, dicibir oleh masyarakat, dlsb. Efek buruk dari seks bebas itu cenderung hanya diterima perempuan saja.
Maka dari sana, saya jadi merenung-renung, persoalan itu bukan sekadar wilayah moral. Tetapi juga bersentuhan dengan wilayah; sejauh mana perempuan dihargai di negeri ini.
Jika saja pelajaran tentang cara menghargai itu cukup dipahami, saya yakin takkan ada lelaki yang bermain-main dengan kelamin. Karena jelas, kelamin itu ketika keliru dipergunakan, cenderung tidak hanya merusak keperawanan gadis-gadis lugu, tetapi merusak muka sekian generasi ke depan.
Parahnya memang, beberapa yang pernah mengalami kejadian serupa (diperawani) malah sesumbar di depan orang-orang:”Aku juga melepas keperawanan sebelum nikah, tetapi akhirnya ketemu juga jodohku.” Isyarat, seolah-olah masalah keperawanan yang terenggut bukan sebuah masalah yang besar. Tak ayal kian ramai saja gadis-gadis menyerahkan kegadisannya pada pasangan yang sama sekali belum diikat pernikahan. Mereka lupa, berapa banyak lelaki yang mau untuk menikahi perempuan yang sudah tidak perawan di negeri ini?
Makanya lagi dan lagi saya hanya ingin berkutat pada soal menghargai, penghargaan dengan kata dasar “harga.” Jangan lupa, satu sandal jepit pun bisa berkurang jauh harganya jika sudah dipakai.
Nah, akhirnya, kembali pada kita; entah orang tua yang memiliki anak, atau bahkan lelaki umumnya. Saya kira, tidak perlu menunggu Tuhan turunkan seorang Nabi dulu untuk mengajarkan. Tapi mari kita ajarkan diri sendiri untuk menghargai. Menghargai perempuan-perempuan di negeri ini. Apalagi merekalah yang kelak menjadi ibu untuk sebuah generasi. Semoga saja ke depan, rasa tidak tega bisa menyatu dengan semua kita; tidak tega meremehkan perempuan, tidak tega menghancurkan masa depan perempuan. (Follow: @zoelfick)
Also Published in: Protagoni and Kompas.com