
linda - TEMPO dan GATRA menempa saya untuk selalu jeli, kritis, menulis dengan jujur, dan bekerja keras. Hasilnya? Saya tidak tahu karena yang menilai tentu orang lain. Di KOMPASIANA ini saya sangat menghormati nama pemberian orang tua saya sehingga tidak perlu saya ganti dan palsukan, apalagi memalsukan wajah pada identitas diri. Blog pribadi saya, www.lindadjalil.com --- bila iseng, silakan mampir.
Dibaca: 405
Komentar: 5
1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif
Aku menyeret dipan Jepara panjang. Di bawah pohon jeruk Bali di tepi kolam renang halaman belakang rumahku. Kuhitung cermat buah yang sedang mekar. Tahun lalu, lebih dari 180 buah jeruk Bali muncul dengan indahnya. Manis, dalamnya merah, dan aku bagikan ke berbagai teman, tetangga dan sanak saudara. Jeruk sebesar bola basket itu, di supermarket bisa seharga Rp 45 ribu sebuah.
Aku menarik nafas panjang. Telapak kaki masuk ke air kolam renang. Aku menyapa pohon jeruk Baliku. Ngobrol seenaknya. Beberapa jam lagi tahun sudah berganti. Akankah jeruk Bali berbuah sampai 180 lagi? Akankah hidupku tetap terjaga? Anakku, keluargaku, bahkan kreatifitasku? Aku menatap langit biru. Tuhan ada di atas, menurut banyak orang. Sesungguhnya, Tuhan juga ada di hati. Ada di antara gesekan dedaunan pohon jeruk Bali sekalipun.
Jeruk Bali yang sedang berbuah, kuajak ngobrol macam-macam. Sampai pula aku bercerita tentang Kompasiana. Kukatakan kepadanya, tempat ini sejak awal sudah menjadi tempat berbicara lewat karya. Kadang seru, kadang menyedihkan dan menjadi ajang komentar hina dina. Urusan fakta diungkap, sebagian orang menganggap itu gosip dan berita palsu. Padahal, tak sampai setengah hari, cerita yang aku tulis terbukti benar seribu persen, dari penjelasan sumber yang berhasil wartawan Ibukota wawancara. Urusan surat kaleng, meski sudah tak ada pak pos berkeliaran ramai lagi, toh tetap ada meski bentuknya berbeda. Nama palsu, akun palsu, tidakkah itu sama dengan surat kaleng? Menghantam orang dengan tulisan komentar, tanpa berani secara kesatria menyebut nama, berkali-kali aku terima. Bahkan, seorang ibu muda, manis, punya anak balita, dengan tutur kata yang manis pula menyapaku, memohon maaf atas selipan katanya yang melancong ke mana-mana, tetapi di depan publik ia terus menghina. Lucunya, saat melontarkan sindiran, ia belum sempat mengganti identitas dirinya menjadi ‘yang palsu’…. sehingga masih sempat terbaca. Yaaaa. itulah hidup. Ada benderang ada buram. Ada yang seada-adanya bertutur kata, ada yang manis tapi ternyata ular berbisa. Belum lagi, seseorang yang sudah kuketahui aslinya, menyerangku dengan membuat jelas-jelas judul postingannya namaku. Hahaha..orang itu punya berbagai nama. Bila merasa komentarnya diabaikan bahkan dihapus, maka sengaja ia memposting sendiri agar lebih leluasa, seleluasa ia memakai nama yang jauh dari nama aslinya.
Jeruk Bali, enaknya kamu tumbuh nyaman rindang bahagia. Tempatmu selalu di sini-sini saja. Meneduhkan pepohonan lain dan ikut merasakan gemericik air bergerak mengikuti tubuh orang berenang di bawahmu. Tahun Baru sudah akan muncul lagi. Pohon semakin tua namun semakin rindang. Kulitmu ada yang mengelupas tapi kekokohan akarmu makin menjadi-jadi. Bagai kokohnya pendirian manusia. A harus A. B katakanlah B. Janganlah berpura-pura merana dan mengumpulkan sejumlah dana dengan dalih keprihatinan, padahal untuk sesuatu hal yang bersukaria. Janganlah pula menghina tempat periuk nasimu berada dengan melecehkan si empunya, padahal makan minummu masih di tempat yang sama.
Aku tak berani berharap banyak. Dan tidak berani pula meminta kepada Ilahi yang berat-berat. Aku hanya ingin ketentraman hati, dijauhi dari hal-hal yang menyakitkan, baik itu sakit tubuh maupun penyakit hati. Sesegera mungkin dijauhi pula dari pertemanan yang busuk hati. Aku ingin sejenak seperti pohon jeruk Bali. Berproduksi dengan berlimpah, untuk kepentingan orang banyak, membahagiakan orang, dan membuat hati senang. Tanpa iri. Tanpa dengki. Terima kasih, pohon jeruk Baliku. Meski hanya sekejap, aku sudah bisa mengobrol denganmu, menjelang lembaran tahun yang baru. Jangan lupa, minimal 180 buah lagi ya? Itu kan namanya, membuat hati orang lain senang… tidakkah demikian?