Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Rufidz Maulina

pelajar yang menjadikan tulisan sebagai pencerahan ^_^

Anak Tukang Sol Sepatu Juara Olimpiade Matematika Internasional

REP | 24 December 2011 | 19:33 Dibaca: 3500   Komentar: 5   1

Kusempatkan tadi malam menonton acara tv kesayangan Kick Andy yang tayang tiap hari jum’at malam di metro tv. Mungkin aku sudah kehilangan dua puluh menit atau bahkan setengah jam dari jadwal tayang karena kesibukan dengan facebook dan semacamnya (hehe). Seorang remaja terlihat duduk bangga dengan potongan khas tentara dan seragam biru yang melengkapi kesahajaannya. Pak Andy bertanya,

“prestasi apa saja yang pernah Anda peroleh di tingkat internasional?”

Saya bergeming dan langsung bisa menebak bahwa anak tersebut adalah anak Taruna Nusantara, dan tebakan saya benar. Namun saya belum sebegitu heran hingga ternganga-nganga karena memang sekolah tersebut telah menjadi sekolahnya anak-anak olimpiade internasional.

“tahun 2009..,bla-bla…..saya mendapat perunggu, perak, dan emas pada tahun 2009 untuk OSN di Jakarta…bla-bla…” dan seterusnya dan seterusnya..

Bukan suatu keheranan bila remaja ber-IQ 163 ini menjadi juara dimana-mana dalam bidang matematika baik itu tingkat nasional dan internasional. IQ setingkat itu bisa dikatakan cerdas bahkan jenius. Namun yang mengherankan sekaligus menjadi suatu cambuk bagi kita adalah ia sebagai anak dari kalangan yang sangat sederhana, seorang tukang sol sepatu. Subhanallah..lengkaplah sudah keheranan saya.

“lalu bagaimana orang tua Anda bisa menyekolahkan Anda di SMA Taruna Nusantara yang terkenal sangat mahal itu?” Tanya Pak Andy.

“itu juga berkat dari OSN Matematika 2009 lalu, karena saya mendapat Emas, sebuah lembaga lalu mendaftarkan saya untuk bersekolah di Taruna tanpa biaya..”

“tanpa biaya??” Tanya Pak Andy heran. Semua hadirin yang ketika itu disorot beberapa wajahnya juga heran. Khas suasana bergeming sekaligus takjub yang bisa kuperhatikan dari layar kaca.

“ya, sampai lulus..” jawabnya polos.

Tepuk tangan riuh bergema di studio metro-tv tersebut. Terlihat sorot mata dari beberapa orang mengatakan kekaguman yang luar biasa. Sebelumnya dihadirkan tayangan betapa ayahnya yang hanya seorang tukang sol sepatu membiayai 2 anaknya, dengan kehidupan yang mungkin bisa kita bayangkan mengingat keberadaan tukang sol sepatu dimana-mana selalu sama. Sederhana. Profil ibunya yang tak disorot menunjukkan kepada khalayak bahwa ibunya tidak bekerja, hanya ayah yang bekerja dan satu adiknya yang juga bersekolah..

Subhanallah.,begitu indah rencana Allah dibalik keserdahanaan dan kesahajaan seseorang. Mungkin bagi kita dengan mudah mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang biasa karena sang anak tersebut, yang disebut-sebut mempunyai IQ 163 itu bisa memenangkan olimpiade matematika karena bersekolah di sekolah yang notabene adalah sekolahnya para juara. Namun, jika Anda punya anggapan demikian, hapuslah.,karena bukan IQ yang tinggi yang menjadi patokan, namun ketekunan luar biasa dari sang juara inilah yang mendorongnya hingga mampu berprestaasi di kancah dunia, menunjukkan bahwa dunia harus tahu, anak tukang sol sepatu yang upahnya hanya 20-30 ribu perminggu bisa berprestasi.

Saat diwawancarai oleh Pak Andy, ia mengatakan bahwa ia telah mendapatkan medali pertamanya saat ia duduk di Sekolah Dasar, mewakili Indonesia dalam sebuah olimpiade Matematika tingkat internasional. Subhanallah.,dan tiap tahun ia mendapatkan medali dalam bidang matematika terhitung sejak tahun 2008 baik itu di tingkat nasional dan internasional. Itu berkat ketekunan yang luar biasa dan kegigihan yang diatas rata-rata. Coba bayangkan,..sudah jenius, tekun pula. Subhanallah..

Lalu Pak Andy bertanya dengan disaksikan oleh mata penonton di studio yang tak henti-hentinya takjub melihat kepribadiannya yang begitu bersahaja dan berwibawa.

“apakah kamu tidak malu, mempunyai orang tua yang pekerjaannya hanya tukang sol sepatu?”

“Tidak..” tegasnya dengan sedikit senyum. “saya tidak pernah malu, saya justru bangga..”

Riuh tepuk tangan kembali membahana..

#########

Betapa Allah Maha Adil, tak jarang kita menjumpai kasus yang sama, seorang yang mempunyai keterbatasan mempunyai sebuah kelebihan. Seorang yang cacat bisa berprestasi di dunia olahraga, menjalani kehidupan yang serba normal dan cerita-cerita yang lain yang biasa kita dengar tentang kesuksesan berawaldari keterbatasan dan kegigihan, namun tidakkah kita tahu bahwa itu sebenarnya sudah merupakan rumus Allah yang diperuntukkan untuk manusia, baik itu beriman atau kafir. Allah telah menggariskan.,dibalik pengorbanan, kesusahan dan kesempitan terdapat kuasa dan anugerah Allah yang tak diduga-duga. Cerita di atas mungkin sedikit menginspirasi kita, bahwa kemiskinan bukan alas an untuk menjadi miskin selamanya dan susah selamanya. Di dunia yang tidak pernah sempurna ini bukan kekayaan yang menjamin kebahagiaan dan kesuksesan. Kelak semuanya akan berubah, yang gigih dan yang tahan terhadap cobaan adalah yang menang.

Allah Maha Adil..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 11 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 8 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Ditunggu Kehadiran Buku Berkualiatas Untuk …

Thamrin Dahlan | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: