Artikel

Sosbud

Fandy Sido

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

masih amatir, bercita-cita jadi pionir. | Sebagian fiksi dan opini ada di www.bukufandy.com.

Ponsel Sudah Jadi Perhiasan?


HL | 21 December 2011 | 21:33 Dibaca: 198   Komentar: 33   1 dari 1 Kompasianer menilai aktual

Orang-orang memainkan ponsel di halte bus Trans Jogja,13/12/2011.

Orang-orang memainkan ponsel di halte bus Trans Jogja,13/12/2011.

Terasa tidak? Gejala-gejalanya mulai kelihatan sebetulnya. Dulu ada pepatah yang akhirnya menjadi himbauan aktivitas publik. Bunyinya, “Hindari mengenakan perhiasanĀ  berlebihan.” Kata “perhiasan” tentunya merujuk pada segala benda yang dikenakan tubuh untuk diperlihatkan kepada lingkungan sekitar, biasanya bernilai ekonomis tinggi dan mengandung nilai gengsi. Dalam kekinian, mari tebak. Apakah ponsel sudah termasuk aktegori itu?

Ponsel sudah jadi perhiasan? Ah yang benar….

Pikirannya begini. Ponsel harganya relatif mahal untuk dengan enteng digenggam di bagian luar tubuh agar terlihat dan menambah gengsi. Gengsi dan telepon pintar atau (setidaknya) ponsel berharga mahal akan menimbulkan persepsi sosial spontan kepada pemiliknya. Melihat orang membawa-bawa ponsel mengkilap bermerek terbaru di tangan, bukannya dimasukkan ke dalam tas yang lebih aman atau saku pakaian menunjukkan gejala sosial bahwa sebagai instrumen, ponsel menjadi bagian dari pembentukan fesyen pemiliknya. Gengsi.

Tak jarang kita perhatikan bahkan warna karet pengaman telepon diselaraskan dengan warna pakaian pemiliknya. Kalau sudah begini, tak pandang gender. Hanya perbaikan citra sosial agar orang yang menggenggam nampak setidak-tidaknya cerdas, kelas menengah, atau memahami teknologi. Padahal, tak selamanya juga, bukan?

Memang bukan sesuatu negatif untuk direfleksikan ke dalam fenomena sosial. Meningkatnya teknologi informasi dalam perangkat genggam membuat ponsel pintar atau sedikit mahal dicari banyak orang. Apalagi, mudah sekali menciptakan branding yang melekat di mata masyarakat dengan memanfaatkan tren atau popularisme ketokohan. Sama halnya dengan gaya rambut khatulistiwa dan kerudung Maroko.

Ponsel terbukti telah menemukan tempatnya sendiri sebagai bagian dari gaya penampilan masyarakat urban. Di sudut-sudut tertentu, ponsel bahkan bisa menggeser popularitas perhiasan jenis lain yang dikenal sejak lama seperti gelang emas, kalung perak, atau cincin batu permata. Di abad ke-21 ini, ponsel mengalahkan kecemerlangan banyak jenis perhiasan konvensional.

Oleh karena itu, jangan dikira tak mengenakan satu bijih emas pun aman dari penjambret. Ponsel saat ini jadi “komoditas” potensial bagi kriminalitas jalanan. Boleh jadi pasar para pencopet dan penjambret sudah mengikuti kecanggihan zaman, dan ponsel terbaru termasuk di dalam pangsa pasar itu.

Hal ini hanya sedikti gambaran pergeseran perspektif sosial suatu produk yang lahir dari lumbung bisnis. Dalam kemajuannya, ponsel dibeli tidak lagi sebatas keperluan panggil dan mengakses internet melalui layar 3 inci, tetapi hingga dijadikan perhiasan di telapak tangan yang mengalahkan kilaunya kalung berlian.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: