Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Kalis Mardi Asih

Guru Bahasa Inggris yang Hobi Membaca Novel-novel Chicklit

Hanya Secuil tentang Trend Gerakan Pemuda

REP | 21 December 2011 | 16:12 Dibaca: 58   Komentar: 0   0

Beberapa malem yang lalu saya sempet sharing tentang summit- summit an (nggak ilmiah banget istilahnya). LOL. Maksud saya, saya mempertanyakan tentang trend yang berkembang belakangan ini di negeri kita tercinta, baik sih memang trend- nya. Yakni tentang paradigm PERUBAHAN yang diawali dari GERAKAN PEMUDA masa kini. Lalu kemudian mungkin kita telah lama mengenal : Indonesian Youth Conference, Future Leaders Summit, Intenational Youth Summit, dan bla-bla-bla wathever kegiatan yang dianggep keren kalo lo udah terseleksi buat ikutan itu summit. Awalnya, saya satu dari sekian orang yang hobi ngisi aplikasi macam- macam summit. Sering terseleksi, sering juga gagal sampe nangis guling- guling (Lirik FIMers, lirik Kak Trio). Yah, siapa sih yang tidak suka dengan proses tholabul ilmi, apalagi kemudian berjumpa dengan kawan- kawan dari seluruh negeri bahkan luar negeri serta berjumpa dengan pemateri- pemateri luar biasa sekaliber Anies Baswedan, Goris Mustaqim, dan para akademisi praktisi yang karya- karyanya terbukti menginspirasi.

Lalu, ada apa kemudian yang terjadi?

Ijinkan saya curhat. Uhuk. Galau itu berasal dari sebuah kegiatan yang saya ikuti di Puncak Bogor, tempo hari yang lalu, dengan tagline “Young Leaders Summit” on Changing Indonesia. Duileh keren bo namanya! Dan saya pun tidak sembarang ketika mengisi aplikasi. Saya masukkan input dan essay terbaik yang saya punya (uhuk) dengan harapan saya dapat saling bertukar pikiran dan mendapat masukan dari para pemuda terbaik dari seluruh negeri untuk project- project yang saya garap.

Rasa- rasanya, saya tidak perlu menceritakan lagi tentang schedule selama di Puncak Bogor itu, karena sebagian teman mungkin sudah tau. Atau kalau yang belum tau, saya link ke catatan teman saya yang lain kesini ya : http://sosbud.kompasiana.com/2011/12/07/young-leader-summit-2011-membesarkan-anak-macan/

Saya hanya ingin bercerita tentang Foundation yang menyelenggarakan sekaligus mendanai acara tersebut. Namanya Global Peace Festival Indonesia Foundation. Berkantor pusat di NewYork dengan pendiri orang Korea yang katanya membawa visi perdamaian.

Ada apa dengan GPF?

Dengarkan wahai para sahabat yang menganggap saya autis atau comel atau jahat di grup karena selalu protes saat di forum. Dengarkan. Oke, saya paham atas jargon “One Family Under God” yang kalian banggakan. Intinya kalian memahami itu sebagai perdamaian atau kerukunan yang harus ditegakkan meskipun kita beda agama, meskipun Tuhan kita Beda. Pada poin ini, saya SETUJU! Saya AJUUUU!

Tapi, saya ingin tahu, apakah kalian mendengarkan presentasi dari si Mister Aju dengan pilar dari GPF? Kira- kira poin nomer satu adalah INTERFAITH. Kemudian diberi penjelasan bahwa konsep interfaith adalah “recognize all as a truth”, pada poin ini, saya sedikit tersedak. Saya lebih suka dengan paham “lakum diinukum waliyadiiin”, untukmu agamamu, untukkku agamaku. Sebab agamaku benar untukku, begitupun agamamu yang pasti benar untukmu. Mungkin sampai sini, masih belum sepakat ya?

Baiklah, ada baiknya kita sedikit mengusut tentang para pembicara yang dihadirkan disana. Prof Musdah Mulia, yang terkenal dengan legalisasi homoseks dan lesbian, belakangan saya tahu dari dosen sosiologi saya, beliau ternyata yang menghalalkan bahwa perempuan diantara laki- laki berhak jadi imam, beliau menghalalkan nikah antara nashara- muslim dan dengan pernikahan apapun, yang jelas mereka berhak untuk menikah, konsep- konsep liberalism yang mengobrak- abrik syariat dengan mengatakan : sholat 5 waktu itu tidak ada di Alqur’an , yasudahlah.. kita sholat 3 waktu saja. Astaghfirullahal’adzim.

Saya percaya lo semua adalah leader. Leader yang katanya peduli terhadap Indonesia. Saya cuman mau bilang (sengaja saya nulis dalam bahasa yang ringan) kalo kita musti selektif dalam bergabung di suatu komunitas guys. Hati ini semakin miris pas denger ternyata di International Interfaith Youth Forum di Jogjakarta beberapa hari yang lalu, si mister Aju itu hadir lagi. Jelas ini bukan tidak direncanakan kan?

Saya sepakat, daripada menghujat, lebih baik kita berkarya, mengerjakan project masing- masing, menyalakan lilin. Tapi bagaimana kita menyalakan lilin jika api yang kau gunakan untuk menyalakan berasal dari tangan- tangan yang kurang tepat? Kenapa kau tidak menyalakan lilin bersama- sama dengan orang- orang yang lebih “tepat” ?

Ah, saya mau bilang apalagi, saya takut dituntut ke pengadilan karena mungkin hukum kita tidak melindungi hal- hal yang saya tuliskan, saya cuman mau bilang : bagaimana dengan event- event selanjutnya? Ah, nama mereka muncul lagi. Lalu?

Biarkan kami berjuang tanpa tepuk tangan.

Rasa- rasanya tidak perlu merasa paling keren kalo udah ikut- ikutan summit- summitan. Sebab nyatanya : mana karyamu? Apakah kamu sudah benar- benar memberi manfaat?

Ah rasa- rasanya saya harus lebih banyak diam dan mengamati, sambil menangis dalam hati melihat para pemuda yang dengan bangganya bilang habis ikut summit- summitan, tapi pas pulang ketika ditanya : gimana kemaren forumnya? Mereka hanya bisa jawab : Keren! Forumnya keren! Nyesel lo ga ikut?

So what??

Ah rasa- rasanya…

Harus belajar lebih rakus lagi, harus membaca lebih banyak lagi, harus istighfar lebih banyak lagi.

Penutup : katanya misi perdamaian, katanya menghormati agama, tapi kenapa ISLAM saya kamu obrak- abrik? Wahai muslim muslimah, mohon sadar kalo kalian lagi diobrak- abrik. Biarlah sebagian mengatakan bahwa saya berfikiran sempit, tidak open mind, terbatasi oleh dunia (pemikiran) saya yang kecil, namun biarlah, saya rasa itu lebih baik. Karena Tuhan saya adalah ALLAH , Bukan pemikiran- pemikiran manusia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 11 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 12 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 13 jam lalu

Bogor dan Bandung Bermasalah, Jakarta …

Felix | 13 jam lalu

Kejahatan di Jalan Raya, Picu Trauma …

Muhammad | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Pangeran Samudera …

Rahab Ganendra | 7 jam lalu

Menumbuhkan Budaya Malu antara Bersubsidi …

Van_nder | 8 jam lalu

“Ulah Meuli Munding …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Dari Cerita Rakyat Ikan Tapa Malenggang, …

Muhammad Aris | 8 jam lalu

Awalnya Peduli, Lama-lama Mencuri …

Dina Agustina | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: