
Telunjuk membimbing mata kepada rembulan, seperti kata-kata membimbing jiwa pada kebenaran. Tetapi telunjuk bukanlah rembulan dan kata-kata bukanlah kebenaran. Hidup adalah menyusun aksara menjadi makna.
Dibaca: 194
Komentar: 24
3 dari 4 Kompasianer menilai menarik
Kasih Ibu Bagai Sang Surya.
Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia….
Itulah sepotong lagu kanak-kanak tentang ibu, begitu sederhana namun juga begitu membumi nyata. Tak terasa jari tangan saya gemetar ketika akan menekan tombol shutter kamera saya. Anak-anak yang begitu polos, memegang setangkai mawar, sambil tersenyum mereka menyanyikan lagu sederhana itu dengan kejujuran suara yang tak dibuat-buat, mengungkapkan ungkapan cinta mereka kepada ibu mereka masing-masing. Sambil menyanyi tentu mereka membayangkan ibu mereka dalam hati. Sayapun pelan-pelan jadi ikut menyanyi sambil mengenang ibu saya sendiri, yang sudah mulai tua namun tetap bersemangat hidupnya walau dijalani di atas kursi roda. Rasanya ingin menjadi kanak-kanak lagi dan bergabung dengan anak-anak itu, memegang setangkai mawar dan menyerahkannya kepada ibu saya seusai lagu.
Setangkai Mawar untuk Ibu.
Acara di mana anak-anak bernyanyi inilah yang bagi saya pribadi sungguh paling berkesan. Acara ini adalah bagian dari acara perayaan Hari Ibu ke 83 dan Hari Ulang Tahun Dharma Wanita Persatuan KJRI Chicago ke-12. Acara yang dilaksanakan pada hari Sabtu 17 Desember 2011 ini bertempat di Wisma Konsul Jenderal RI Chicago di 614 Pine Lane, Winnetka, Illinois. Acara dimulai dengan Upacara peringatan Hari Ibu dan Upacara HUT Dharma Wanita Persatuan KJRI Chicago. Sambutan antara lain dibacakan oleh Ibu Winnie Bahanadewa serta Bapak Konsul Jenderal selaku Pembina Dharma Wanita Persatuan KJRI Chicago. Saya sendiri tidak bisa mengikuti upacara sejak awal karena terlambat datang. Saya harus naik kereta api selama hampir satu jam dan kemudian berjalan kaki dalam runtukkan salju selama 25 menit untuk mencapai wisma. Untung saya bersama seorang Kompasianer M. Hatta jadi perjalanan tidak terasa.
Penyerahan Potongan Kue Ulang Tahun Dharma Wanita kepada Ibu Lea Hartono dan Bapak Konsul Jenderal.
Sesudah upacara ada berbagai acara lomba. Lomba tumpeng dilakukan sebelum makan siang bersama. Sesudah dinilai tumpeng tersebut menjadi bagian dari santapan makan siang bersama yang tentunya menu Indonesia yang sangat nikmat. Acara makan siang bersama ini menjadi ajang saling sapa juga antar warga masyarakat Indonesia yang ada di Chicago dan sekitarnya. Hidangan makanan Indonesia ini juga setidaknya mengobati kerinduan kami terhadap tanah air, khususnya bagi saya dan Kompasianer M. Hatta yang sama-sama berstatus sebagai anak kost di Chicago.
Lomba Menulis Surat untuk Ibu dan Lomba Tumpeng.
Lomba lain yang diselenggarakan adalah lomba menulis surat untuk ibu yang diperuntukan bagi anak-anak yang berusia dibawah 10 tahun. Lomba yang tak kalah menarik dan unik adalah lomba mendadani pasangan dengan pakaian nasional. Lomba ini diperuntukkan bagi bapak-bapak. Bapak-bapak memilih kain dan kebaya yang cocok untuk pasangannya kemudian memakaikan pakaian nasional tersebut. Lomba ini sangat menarik karena tak jarang bapak-bapak kelihatan canggung dan bingung yang disambut gelak tawa dari penonton. Lomba yang terakhir adalah lomba karaoke. Mengintip dari foto-foto yang ada lomba inipun sangat meriah. Sayang kami tidak bisa mengikuti acara sampai pembagian hadiah karena jadwal kereta untuk kembali ke kota.
Lomba Padu Padan Pakaian Nasional
Selamat Hari Ibu…
Kompasianer M. Hatta, Kawan Seperjalanan dalam Salju.