Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Cechgentong

Alah Bisa Karena Biasa Malu Bertanya Sesat Di Jalan Sesat Di Jalan Malu-maluin Besar Kemaluan Tidak Bisa Jalan Pilihan selengkapnya

Kisah Prabu Geusan Ulun dan Nyi Mas Ratu Harisbaya (I)

OPINI | 16 December 2011 | 03:34 Dibaca: 597   Komentar: 6   1

Tulisan ini dibuat berdasarkan cerita Uyut yang dikenal dengan budaya tutur atau tutur tinular. Tutur tinular adalah kebiasaan orang tua jaman dahulu bercerita tentang sebuah  peristiwa sejarah, dongeng dan legenda sebagai pengantar tidur, pengisi waktu kosong, pelepas lelah dan sebagainya kepada anak-anaknya. Kemudian secara turun temurun cerita tersebut diceritakan kembali kepada anak cucunya secara berkesinambungan.

Memang tidak mudah untuk mengembalikan dan melestarikan budaya tutur ini. Untuk itu diperlukan sebuah terobosan baru yang lebih atraktif agar anak-anak menyukainya dan perlu penutur yang menguasai cerita serta mampu membaca suasana dengan baik. Berikut adalah contoh tutur tinular yang menceritakan tentang Babad Cirebon dan Sumedang Larang yang belum banyak orang khususnya orang Sunda pernah mendengar ceritanya.

Pada abad ke 15, kerajaan Sumedang Larang diperintah oleh Prabu Geusan Ulun yang selalu didampingi oleh 4 orang patihnya yaitu  Konang Hapa, Terong Peot,  Sanghyang Hawu dan Jaya Perkasa sebagai panglima perangnya. Suatu hari  Prabu Geusan Ulun melakukan lawatan ke kerajaan Demak untuk bertemu dengan Raden Fatah sekaligus bertemu dengan Sunan Kalijaga. Dalam perjalanan tersebut Prabu Geusan Ulun ditemani oleh 4 orang patihnya dan beberapa orang prajurit.

Tepat di dalam hutan dekat pinggiran pusat kota kerajaan Cirebon, Prabu Geusan Ulun menyuruh rombingannya untuk istirahat terlebih dahulu. Baru saja istirahat sebentar, Prabu Geusan Ulun dikejutkan oleh suara nyanyian yang  berisi puji-pujian kepada Yang Maha Kuasa atau dikenal dengan kidung tentang kebesaran Allah SWT. Setelah beberapa saat mencari sumber suara tersebut, Prabu Geusan Ulun berhasil menemukan sumber suara. Ternyata yang menyanyikan kidung tersebut adalah seorang wanita cantik yang sedang duduk di pinggir sungai. Prabu Geusan Ulun segera menghampiri wanita cantik tersebut.

” Assalamualaikum  Wr. Wb. “

” Wa alaikumussalam Wr.Wb. ” (tampak wanita tersebut kaget setelah mendengarkan salam dari seorang pria yang berada di belakangnya)

” Maafkan saya mengganggu kesenangan anda dalam bernyanyi “

” Hah ! Oh ya tidak apa-apa, saya maafkan. Saya hanya kaget saja mendengar sapaan  Tuan “

” Sekali lagi saya mohon maaf “

” Ya ya ya saya mengerti “

” Sungguh berani  Tuan Puteri tinggal sendirian di hutan yang penuh dengan binatang buas. Itulah yang membuat saya penasaran sehingga mendatangi Tuan Puteri “

” Saya memang tinggal sendiri di hutan ini “

” Hah tinggal sendiri ? Dimanakah orang tuamu ? Dan tinggal dimanakah Tuan Puteri.

” Orang tua saya sudah meninggal dunia dan memang saya sengaja tinggal sendirian atas perintah guru saya. Tempat tinggal saya di sebelah sana dan hanya beberapa meter saja dari sini. “

” Oh begitu, siapakah gerangan yang menyuruh Tuan Puteri untuk tinggal sendirian di tempat seperti ini dan kenapa harus sendirian “

” Saya disuruh oleh guru saya untuk melakukan tafakuran di dalam hutan ini dan guru saya juga sudah menyediakan pemondokan buat saya melakukan tafakuran “

” Kalau boleh tahu siapakan guru Tuan Puteri ? “

” Ohhh beliau adalah Sunan Gunung Jati, Raja Cirebon. “

” Ohhh Sunan Gunung Jati. Beliau juga guru saya karena beliaulah maka saya dan semua rakyat saya  memeluk agama Islam “

” Maaf, Tuan ini berasal dari mana ? Kok menyebut rakyat. Apakah Tuan seorang…. “

” Ya saya seorang Raja dari Kerajaan Sumedang Larang dan mereka itu adalah rombongan yang mengiringi saya ke kerajaan Demak “

” Kerajaan Demak, Tuan ? Oh maaf baginda. “

” Ya memangnya kenapa ? Tapi tunggu dulu siapakah gerangan Tuan Puteri sebenarnya ? Kalau dilihat dari pakaian dan penampilan, pasti tuan puteri keturunan bangsawan “

” Memang saya masih keturunan bangsawan dari kerajaan Demak, Nama saya adalah Haris Baya “

” Haris Baya ? Berarti Tuan Puteri adalah adik dari Raden Fatah “

” Ya benar memang saya adalah adik Raden Fatah yang memang sedang mendalami ilmu agama Islam kepada Sunan Gunung Jati atas saran Sunan Kalijaga. Kalau Tuan ?

” Nama saya adalah Prabu Geusan Ulun, Raja Sumedang Larang “

Langsung Haris Baya memohon maaf atas kelancangan sikapnya dan memberikan penghormatan kepada Prabu Geusan Ulun.

” Maaf Baginda, kalau memang ingin istirahat maka lebih baik istirahat di pondokan saya. Mari saya antar “

” Terima kasih atas kebaikan Tuan Puteri “

Segeralah rombongan Prabu Geusan Ulun menuju pemondokan Haris Baya untuk istirahat. Disamping itu hari mulai senja sehingga tidak memungkinkan untuk meneruskan perjalanan.

Selama 2 hari Prabu Geusan Ulun dan rombongan beristirahat di pemondokan Haris Baya. Seiring waktu, ketampanan wajah, kesantunan  berbicara,  wawasan yang luas dan cerdas berpikir, ilmu agama dan kanuragan yang tinggi membuat Haris Baya kepincut dan jatuh cinta kepada Prabu Geusan Ulun.  Karena sudah tidak mampu menahan gejolak cintanya akhirnya Haris Baya mengungkapkan perasaannya menjelang keberangkatan Prabu Geusan Ulun untuk melanjutkan perjalanannya ke kerajaan Demak.

” Terima kasih Tuan Puteri atas pelayanan dan pemberian ijin kepada kami untuk istirahat di pondokan Tuan Puteri “

” Ya terima kasih juga kepada Baginda yang berkenan untuk tinggal di pondokan saya yang sangat sangat sederhana ini. Tapi Baginda …. “

” Ada apakah Tuan Puteri “

” Malu hati ini untuk berbicara terus terang kepada Baginda “

” Ada apa sebenarnya Tuan Puteri.  Kelihatannya ada sesuatu yang terpendam di hati Tuan Puteri. Silahkan Tuan Puteri untuk berterus terang. Apakah ada diantara kami yang bersikap kurang ajar kepada Tuan Puteri “

” Oh tidak Baginda . Malah saya senang kedatangan Baginda dan rombongan di tempat saya. ”

” Terus apakah gerangan yang membuat Tuan Puteri sepertinya sulit untuk berbicara. “

” Sebelumnya saya memohon Baginda untuk tidak marah atas kelancangan bicara saya ini “

” Saya tidak akan marah dan siap mendengarkan keganjalan Tuan Puteri “

” Begini Baginda. Sejak awal bertemu Baginda, sebetulnya saya merasa telah jatuh hati kepada Baginda, Dari semalam saya tidak bisa tidur  dan selalu memikirkan Baginda. “

Prabu Geusan Ulun hanya tersenyum

” Ohhh itu yang mengganjal perasaan kamu Haris Baya. Terus terang saya juga merasakan perasaan yang sama kepada Tuan Puteri. Selain cantik, Tuan Puteri pintar, cerdas dan sopan kepada tamu yang datang. “

” Berarti Baginda mempunyai perasaan yang sama dengan saya “

” Ya, Tuan Puteri “

Langsung Haris Baya segera mencium tangan Prabu Geusan Ulun dan ingin memeluk pujaan hatinya. Tetapi Prabu Geusan Ulun mencegahnya.

” Maafkan saya Haris Baya, jangan lakukan itu karena kita belum mempunyai ikatan suami isteri dan kau bukan mahromku. Lagi pula kurang baik dilihat oleh orang lain “

” Tapi Baginda, saya sangat cinta kepada Baginda “

” Ya sayapun juga cinta kepadamu, Haris Baya. Tapi Ingat ! Tujuanmu berada disini dan tidak dalam waktu lama lagi kitapun bisa ketemu lagi.  Bersabarlah setelah saya kembali dari Kerajaan Demak maka saya akan menjemput dan meminta restu dari Sunan Gunung Jati…. Gurumu untuk meminangmu “

” Maafkan saya Baginda tapi saya benar-benar…. “

” Sudahlah, cobalah engkau bersabar ….. “

” Baiklah, tapi sebagai bukti kesetiaan saya kepada Baginda maka disaksikan langit dan bumi, demi Allah dan demi Rasulullah SAW maka saya bersumpah bahwa saya siap menunggu kedatangan Baginda dan hanya akan menikah dengan satu orang pria yang saya cintai yaitu Baginda yang mulia Prabu Geusan Ulun “

” Istighfarlah, hai Haris Baya. Mohon ampun  dan bertobatlah kepada Nya. Segera cabut sumpahmu karena bisa membahayakan dirimu “

” Tidak Baginda, saya tidak akan pernah mencintai dan menikah dengan pria lain kecuali dengan Baginda yang mulia Prabu Geusan Ulun “

” Astaghfirullah al azhim, kalau memang itu keinginanmu aku tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya Allah SWT yang tahu apakah gerangan yang terjadi di kemudian hari. “

Setelah pamit dengan Haris Baya maka Prabu Geusan Ulun dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Demak.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah Bantuan Sangat Mendesak yang …

Siwi Sang | | 18 December 2014 | 09:08

Seniman, antara Profesi dalam Angan dan …

Christian Kelvianto | | 18 December 2014 | 00:46

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59

Membangun Bangsa dari Pabrik Fillet Patin …

Indar Wijaya | | 18 December 2014 | 08:53

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Seleb yang Satu Ini Sepertinya Belum Layak …

Adjat R. Sudradjat | 4 jam lalu

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | 5 jam lalu

Menyoal Boleh Tidaknya Ucapkan “Selamat …

Dihar Dakir | 6 jam lalu

Presiden Jokowi Mesti Kita Nasehati …

Thamrin Sonata | 8 jam lalu

Pilot Cantik, Menawan, dan Berhijab …

Axtea 99 | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: