Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Hilmia Wardani

Kompasianer amatir & nikonian

Wanita dan Jurusan Berkelamin

OPINI | 15 December 2011 | 13:29 Dibaca: 417   Komentar: 3   0

Wanita selalu diidentikkan dengan kelembutan, kelemahan, dan kasih sayang. Bukan hanya itu, dokma masyarakat pun menyebut pekerjaan wanita hanya cukup berkutat pada dapur, sumur, dan kasur.  Pola pikir yang demikian memunculkan persepsi bahwa wanita tidak perlu menempuh pendidikan sampai jenjang yang tertinggi. Semua akan percuma karena nantinya tidak bisa digunakan secara maksimal dalam kehidupan rumah tangga.

Persepsi masyarakat tentang peran wanita yang sangat sempit  memunculkan gerakan emansipasi. Gerakan ini memperjuangkan hak-hak kaum wanita yang selama ini tergerus oleh kolotnya persepsi masyarakat. Hak-hak yang diperjuangkan meliputi hak memperoleh pendidikan, hak untuk bekerja selayaknya pria, dan lain-lain.

Gerakan emansipasi dalam meningkatkan pendidikan wanita memberikan hasil yang luar biasa. Dapat dilihat di kampus-kampus, banyak wanita yang menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktor. Belum lagi mahasiswi-mahasiswi yang mampu meraih prestasi cemerlang. Namun perjuangan ini belum cukup untuk merubah pola pikir masyarakat tentang jurusan yang ditempuh oleh wanita. Beberapa jurusan dianggap cocok diambil oleh laki-laki saja atau wanita saja. Jurusan teknik misalnya dianggap sebagai salah satu jurusan yang dipandang sebelah mata jika ditekuni oleh seorang wanita.

Jurusan teknik sangat identik dengan laki-laki. Teknik yang kebanyakan mencangkup otomotif, mesin, dan listrik dipandang kurang sesuai jika dipegang oleh perempuan. Pekerjaan yang berat seperti mengelas atau berlumuran oli saat memperbaiki mesin sangat tidak cocok dengan karakter wanita. Pandangan seperti ini sangat mengganggu gerak wanita yang tidak ingin dikotak-kotakkan dalam pekerjaan.

Hal yang sama juga terjadi pada jurusan tata boga. Pekerjaan memasak yang menjadi pekerjaan utama seorang wanita dianggap tidak cocok dengan pria. Bahkan ada pula yang menganggap jika ada pria yang melakukan pekerjaan wanita maka dia akan dianggap banci. Sebutan-sebutan seperti ini sangat mengganggu perkembangan karir pendidikan seseorang. Hanya karena disebut banci, seorang siswa yang berbakat memasak malah mengabaikan kemampuannya.

Pandangan tentang jurusan berkelamin harus diubah. Persepsi ini hanya akan menggerus kemampuan seseorang. Seorang wanita yang sebenarnya berbakat dalam mengotak-atik mesin harus merelakan diri untuk berkecimpung dalam dunia memasak. Seperti halnya lelaki yang berbakat merias malah terjun ke jurusan otomotif. Jika yang terjadi  seperti ini, Indonesia hanya akan terpuruk karena generasi mudanya malah menekuni bidang di luar kemampuannya.

Tidak ada jurusan yang berkelamin. Semua jurusan adalah sama. Tidak ada jurusan yang hanya boleh ditekuni oleh wanita saja atau pria saja. Banyak wanita dan pria yang sukses dalam bidang yang dianggap melenceng dari jenis kelamin mereka. Kita ambil contoh Allida Alexandra Nurluthvia, pembalap perempuan Indonesia.

Allida Alexandra Nurluthvia atau yang akrab dianggil Andra adalah satu-satunya pembalap perempuan Indonesia di kelas gokart maupun mobil formula. Wanita ini lahir di Jakarta, 23 Mei 1988. Sebagai satu-satunya pembalap wanita, dia tidak patah patah semangat. Malahan, dia membuktikan bahwa seorang pembalap tidak hanya dilakoni oleh seorang laki-laki. Pada tahun 2005, dia menyabet gelar Juara Umum Formula Campus di Cina. Selain itu, dia juga dinobatkan sebagai Duta Pariwisata 2010 oleh Kementrian Budaya. Kesuksesan seorang Andra adalah bukti  bahwa persepsi masyarakat tentang pembalap merupakan pekerjaan laki-laki adalah salah.

Wanita adalah partner bagi pria. Peran inilah yang membuat wanita harus berpendidikan agar bisa mendukung calon suaminya. Tidak masalah dia mengambil jurusan apapun. Sekali lagi, semua jurusan adalah sama. Yang terpenting adalah dia bisa memaksimalkan potensinya demi kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Hidup wanita Indonesia!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Manajemen Mudik …

Farida Chandra | | 25 July 2014 | 14:25

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 9 jam lalu

Kunjungan Clinton ke Aceh, Misi Kemanusiaan …

Rafli Hasan | 13 jam lalu

Demokrasi ala SBY Jadi Perhatian Pakar Dunia …

Solehuddin Dori | 13 jam lalu

Kebijakan Obama yang Bikin Ciut Nyali Orang …

Andi Firmansyah | 14 jam lalu

Mengapa Harus Jokowi yang Terpilih? …

Ryan Perdana | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: