Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Hilmia Wardani

Kompasianer amatir & nikonian

Wanita dan Jurusan Berkelamin

OPINI | 15 December 2011 | 13:29 Dibaca: 422   Komentar: 3   0

Wanita selalu diidentikkan dengan kelembutan, kelemahan, dan kasih sayang. Bukan hanya itu, dokma masyarakat pun menyebut pekerjaan wanita hanya cukup berkutat pada dapur, sumur, dan kasur.  Pola pikir yang demikian memunculkan persepsi bahwa wanita tidak perlu menempuh pendidikan sampai jenjang yang tertinggi. Semua akan percuma karena nantinya tidak bisa digunakan secara maksimal dalam kehidupan rumah tangga.

Persepsi masyarakat tentang peran wanita yang sangat sempit  memunculkan gerakan emansipasi. Gerakan ini memperjuangkan hak-hak kaum wanita yang selama ini tergerus oleh kolotnya persepsi masyarakat. Hak-hak yang diperjuangkan meliputi hak memperoleh pendidikan, hak untuk bekerja selayaknya pria, dan lain-lain.

Gerakan emansipasi dalam meningkatkan pendidikan wanita memberikan hasil yang luar biasa. Dapat dilihat di kampus-kampus, banyak wanita yang menempuh pendidikan hingga meraih gelar doktor. Belum lagi mahasiswi-mahasiswi yang mampu meraih prestasi cemerlang. Namun perjuangan ini belum cukup untuk merubah pola pikir masyarakat tentang jurusan yang ditempuh oleh wanita. Beberapa jurusan dianggap cocok diambil oleh laki-laki saja atau wanita saja. Jurusan teknik misalnya dianggap sebagai salah satu jurusan yang dipandang sebelah mata jika ditekuni oleh seorang wanita.

Jurusan teknik sangat identik dengan laki-laki. Teknik yang kebanyakan mencangkup otomotif, mesin, dan listrik dipandang kurang sesuai jika dipegang oleh perempuan. Pekerjaan yang berat seperti mengelas atau berlumuran oli saat memperbaiki mesin sangat tidak cocok dengan karakter wanita. Pandangan seperti ini sangat mengganggu gerak wanita yang tidak ingin dikotak-kotakkan dalam pekerjaan.

Hal yang sama juga terjadi pada jurusan tata boga. Pekerjaan memasak yang menjadi pekerjaan utama seorang wanita dianggap tidak cocok dengan pria. Bahkan ada pula yang menganggap jika ada pria yang melakukan pekerjaan wanita maka dia akan dianggap banci. Sebutan-sebutan seperti ini sangat mengganggu perkembangan karir pendidikan seseorang. Hanya karena disebut banci, seorang siswa yang berbakat memasak malah mengabaikan kemampuannya.

Pandangan tentang jurusan berkelamin harus diubah. Persepsi ini hanya akan menggerus kemampuan seseorang. Seorang wanita yang sebenarnya berbakat dalam mengotak-atik mesin harus merelakan diri untuk berkecimpung dalam dunia memasak. Seperti halnya lelaki yang berbakat merias malah terjun ke jurusan otomotif. Jika yang terjadi  seperti ini, Indonesia hanya akan terpuruk karena generasi mudanya malah menekuni bidang di luar kemampuannya.

Tidak ada jurusan yang berkelamin. Semua jurusan adalah sama. Tidak ada jurusan yang hanya boleh ditekuni oleh wanita saja atau pria saja. Banyak wanita dan pria yang sukses dalam bidang yang dianggap melenceng dari jenis kelamin mereka. Kita ambil contoh Allida Alexandra Nurluthvia, pembalap perempuan Indonesia.

Allida Alexandra Nurluthvia atau yang akrab dianggil Andra adalah satu-satunya pembalap perempuan Indonesia di kelas gokart maupun mobil formula. Wanita ini lahir di Jakarta, 23 Mei 1988. Sebagai satu-satunya pembalap wanita, dia tidak patah patah semangat. Malahan, dia membuktikan bahwa seorang pembalap tidak hanya dilakoni oleh seorang laki-laki. Pada tahun 2005, dia menyabet gelar Juara Umum Formula Campus di Cina. Selain itu, dia juga dinobatkan sebagai Duta Pariwisata 2010 oleh Kementrian Budaya. Kesuksesan seorang Andra adalah bukti  bahwa persepsi masyarakat tentang pembalap merupakan pekerjaan laki-laki adalah salah.

Wanita adalah partner bagi pria. Peran inilah yang membuat wanita harus berpendidikan agar bisa mendukung calon suaminya. Tidak masalah dia mengambil jurusan apapun. Sekali lagi, semua jurusan adalah sama. Yang terpenting adalah dia bisa memaksimalkan potensinya demi kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Hidup wanita Indonesia!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saudi Arabia dan Pembantu Rumah Tangga …

Mariam Umm | | 28 January 2015 | 23:59

100 Hari Jokowi-JK, Kompasiana, dan Ruang …

Subronto Aji | | 29 January 2015 | 01:22

Belajar Lewat Tagar …

Sam Leinad | | 28 January 2015 | 23:24

Air Asia = Low Cost Casualities? …

Iwan Permadi | | 29 January 2015 | 00:29

Resolusi Hijau, Mengelola Sampah Pribadi …

Dean | | 28 January 2015 | 21:57


TRENDING ARTICLES

Buya Syafii Maarif, Sekarang The Real …

Hendi Setiawan | 4 jam lalu

Benny K. Harman, Hasto, dan Siluman Politik …

Susy Haryawan | 5 jam lalu

Tanggapan “Kartu Abraham di Tangan Jusuf …

Imam Kodri | 5 jam lalu

Menko Tedjo Gagal Faham …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Presidennya Jokowi, Kenapa Marahnya ke …

Rahmat Sahid | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: