
Dibaca: 336
Komentar: 5
Nihil
Muak, marah dan sedih..itu perasaan yang menggelora di hati saya pagi ini. Di KRL menuju Jakarta, saya membaca sebuah berita di koran tentang pembantaian massal petani di Lampung. Biadab…
Sesampainya di kantor saya mencoba browsing video mengenai pembantaian itu…Saya tak tega melihat kebiadaban itu, hingga saya memutuskan untuk tidak menuruskan melihat video pembantaian keji itu..
Dikabarkan sebanyak 30 warga dan ratusan lainnya terluka. Sebagian dari mereka adalah petani. Di harian Media Indonesia dituliskan bahwa peristiwa itu berawal dari perluasan lahan PT. Silva Inhutani. Perusahaan itu diduga telah menyerobot lahan milik warga untuk ditanami Kelapa Sawit dan Karet.
Perusahaan pun mengusir warga dengan bantuan aparat dan pamswakarsa. Dan akhirnya terjadilah pembunuhan massal itu. Celakanya, menurut mantan anggota DPR Saurip Kadi, yang mendampingi warga, “Perluasan perkebunan yang merambah ke lahan milik warga tidak hanya ada di satu tempat saja,” ujarnya, seperti di tulis oleh Media Indonesia (15/12).
Nah, apakah ini merupakan sebuah kejahatan korporasi?
Keserakahan korporasi di negeri ini memang menjadi-jadi. Tak jarang keserakahan korporasi itu menimbulkan korban di pihak warga masyarakat. Sementara negara yang harusnya melindungi warganya justru seperti bersujud di hadapan berhala baru yang bernama korporasi…
Kemana KOMNAS HAM? Kemana perginya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)?
Eksistensi atau keberadaan negara menjadi penting ketika negara mampu melindungi keselamatan warganya. Jika negara sudah tidak mampu melindungi keselamatan warganya, dan justru memilih bersujud pada kepentingan korporasi, maka sesungguhnya keberadaan negara menjadi tidak lagi penting!