Artikel

Belajar dari Kehidupan Korban Letusan Gunung Merapi


REP | 13 December 2011 | 14:52 Dibaca: 51   Komentar: 0   Nihil

1323762727642310422Desember 2011, ini adalah salah satu bulan yang paling berkesan bagi saya. Pasalnya, di bulan ini saya mendapatkan kesempatan untuk datang ke Yogyakarta. Saya dapat undangan untuk mengikuti Konferensi Nasional Pengelolaan Resiko Bencana. Konferensi itu diadakan di Hunian Sementara korban letusan Gunung Merapi, tepatnya di Shelter Gondang 1, Dusun Gondang Pusung, Desa Wukisari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta…panjang kan… :)

Yang menarik dari konferensi ini adalah, peserta tidak diinapkan di hotel atau wisma. Peserta harus menginap di rumah-rumah hunian sementara korban letusan Gunung Merapi. Menarik, karena dengan berbaur dengan mereka saya jadi bisa belajar tentang kesabaran, keuletan, keberanian dan kejujuran dari mereka, para korban letusan Gunung Merapi.

Namun, ada sesuatu yang mengejutkan yang saya dengar dari salah satu korban letusan Gunung Merapi, yang tinggal di Hunian Sementara itu. Sedih rasaya mendengarnya. Dalam sebuah perbincangan, salah satu dari korban letusan Gunung Merapi mengatakan bahwa selama ini mereka hanya mendapatkan dua kali jatah hidup (jadup) dari pemerintah. “Padahal harusnya kita mendapatkannya setiap bulan selama satu tahun,” ujarnya.

Yang lebih miris lagi, adalah jumlah jadup itu ternyata sangat kecil. Untuk satu orang suami, satu anak dan satu istri, hanya mendapatkan jadup sebesar Rp. 450 ribu per bulan. “Udah kecil, tidak rutin per bulan lagi menerimanya,” ujarku dalam hati.

“Apakah Bapak mendapatkan pinjaman lunak dari Bank pemerintah sebagai modal untuk memulai hidup baru setelah bencana?” tanyaku kepada salah satu bapak, korban letusan Gunung Merapi. “Tidak,” jawabnya tegas, “Kami harus berusaha sendiri untuk tetap hidup”

Mendengar jawaban bapak itu, pikiran saya langsung menerawang ke berita-berita di Koran tentang pengusaha yang menerima keringanan pajak. Tentang pengusaha yang tersangkut Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Tentang pengusaha yang merengek-rengek, sambil mengancam agar upah buruh tidak dinaikan. “Pengusaha-pengusaha besar itu manja,” ujarku dalam hati,”Korban letusan Gunung Merapi ini lebih ulet daripada pengusaha-pengusaha itu,”

Kembali ke para korban letusan Gunung Merapi itu lagi. Karena tidak mendapat pinjaman lunak dan juga tidak mendapatkan jadup secara rutin, maka mereka terpakasa naik kembali ke tempat mereka di atas yang sudah rusak terkena letusan Gunung Merapi. Mereka naik ke atas untuk mencari rumput buat ternak mereka. Bahkan saat saya di ajak ke naik ke atas oleh salah seorang korban letusan Gunung Merapi, saya telah menjumpai warung makan di sana. Bahkan saya sempat membeli sandal jepit di warung itu.

“Sebenarnya di area ini adalah zona merah, mas,” jelasnya, “Sebetulnya kami dilarang untuk masuk zona ini, tapi ya bagaimana lagi, saya dan keluarga harus tetap melanjutkan kehidupan,”

Zona merah di Gunung Merapi menurut pemerintah adalah kawasan yang berbahaya bagi manusia. “Namun, bagi kami zona merah adalah kawasan yang menghambat ekonomi kami, rakyat jelata” ujarnya.

Yang membuat saya sedih lagi ketika mendengar kabar bahwa ternak warga korban letusan Gunung Merapi yang diganti pemerintah hanyalah sapi. ” Ternak milik warga selain sapi, seperti ayam, tidak mendapatkan pergantian,” ujarnya.

“Jadup untuk korban letusan Gunung Merapi kecil. Itu pun tidak setiap bulan diberikan,” ujarku dalam hati, 1323762689205039913“Sementara ternak yang mati selain sapi juga tidak diganti dan tidak ada pula pinjaman permodalan bagi mereka,”

Saya hanya bertanya, “Dimana negara?”

Ketika yang mengalami bencana pengusaha-pengusaha besar (akibat krisis finansial), negara menampakan wujudnya. Namun ketika yang mendapat bencana orang-orang kecil, negara pergi entah kemana…

Sekali lagi, saya mendapatkan pelajaran berharga dari korban letusan Gunung Merapi. Mereka tidak manja, tetap bekerja meskipun ditinggalkan oleh negara.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: