Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Nurul Fahmy

Selalu banyak mimpi...Berdomisili di Jambi. Suka membaca, tapi sedikit menulis...

Mencari Makna Motif pada Batik Jambi

OPINI | 12 December 2011 | 06:01 Dibaca: 3668   Komentar: 0   0

13236226851019562373Oleh Nurul Fahmy

Karakter dan kearifan lokal masyarakat Melayu Jambi dulu, tersimbolisasi dalam berbagai karya seni, salah satunya dalam motif batik Jambi.  Meski belum dilakukan kajian mendalam tentang makna filosofis berbagai motif, namun menurut budayawan Jambi Ja’far Rassuh, penggambaran motif tersebut merupakan representasi watak dan karakter masyarakat Melayu Jambi dengan tipikalnya yang sederhana, egaliter dan terbuka terhadap hal-hal lain di luarnya, meski cenderung lamban merespon perubahan.

Motif pokok pada batik Jambi sangat sederhana, tidak rumit dan cenderung konvensional. Mencirikan watak asli masyarakat Melayu Jambi. Jika ada motif batik Jambi yang rumit dan detailnya kompleks, maka bisa jadi itu adalah motif pengembangan baru yang muncul pada dekade 80-an.

Asianto Marsaid dalam bukunya Pesona Batik Jambi yang diterbitkan oleh Kantor Wilayah Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi pada 1998, berupaya menjabarkan makna filosofis dari lima motif pokok batik Jambi. Menurutnya, lima motif pokok yang diurainya itu termasuk motif kuno dan tertua yang pernah ada di Jambi. Lima motif itu meliputi Durian Pecah (?), Merak Ngeram (?), Kuao Berhias (?), Kapal Sanggat (?) dan Tampuk Manggis.

Motif Durian Pecah menggambarkan dua bagian kulit durian yang terbelah, namun masih bertaut pada pangkal tangkainya. Dua belah kulit itu memiliki arti pada masing-masing bagiannya. Belahan pertama merupakan pondasi iman dan taqwa. Bagian satunya lagi lebih bernuansa ilmu pengetahuan dan tehnologi. Makna yang disimpulkan oleh Asianto pada motif Durian Pecah itu ialah, pelaksanakan pekerjaan berlandaskan iman dan taqwa, serta ditopang oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi akan memberikan hasil yang baik bagi yang bersangkutan serta keluarga.

Penggambaran Merak Ngeram menunjukkan kasih sayang dan tanggung jawab. Motif Kuao Berhias yang menggambarkan seekor burung Kuao yang tengah bercermin sambil mengepakkan sayap-sayapnya dimaknai sebagai pengenalan diri. Dalam penjabarannya, Asianto menuliskan bahwa pada dasarnya burung Kuoa ini satu. Namun kembangan kepak dan bagian lain dari tubuh burung ini merupakan pantulan cermin, yang menggambarkan si burung seolah tengah berhias. Dengan bercermin dan instropeksi diri, maka dapat diketahui bagian-bagian tubuh; kelebihan dan kekurangannya, termasuk kekurangan yang bersifat bathiniah. Pada manusia, dengan mengenal diri sendiri diharapkan mampu menutupi dan atau menyempurnakan bagian-bagian yang kurang pantas. Termasuk dalam berinteraksi sosial dengan masyarakat sekitar.

Bentuk motif Tampuk Manggis menampilkan penampang buah manggis yang terbelah pada bagian tengahnya, menampakkan kulit luar, daging kulit, dan isi buah secara keseluruhan. Penggambaran ini bermakna kebaikan budi pekerti, dan kehalusan hati seseorang tidak dapat dilihat dari kulit luar saja.

Ada perbedaan mendasar pada motif Kapal Sanggat dengan penggambaran motif-motif lainnya. Jika melirik sekilas motif tersebut, maka terlihat sebuah keganjilan dan kelucuan yang dapat menimbulkan tanda tanya. Bagaimana tidak. Mengapa pula motif tersebut bergambarkan sebuah kapal yang nyanggat (Jambi: tersangkut), dengan lambungnya yang timbul terlihat lebih besar dari lunas (pendek dan gemuk)?. Mengapa tidak melukiskan sebuah kapal dalam posisi sempurna, berlayar atau bersandar, dengan kibaran panji-panji di tiangnya? Sebuah posisi yang menunjukkan kegagahan bangsa bahari yang hidup di pesisir sungai, atau pesisir laut.

Menurut Asianto, motif Kapal Sanggat mengisyaratkan keharusan untuk berhati-hati dalam menjalankan sesuatu pekerjaan. Tidak boleh lalai dalam melaksanakan tugas, selalu waspada dan paham aturan. Sebab, kelalaian dalam pekerjaan akan menyebabkan musibah dan malapetaka bagi orang yang bersangkutan, sepert kapal nyanggat.

***

Ja’far Rasuh yang intens meneliti ragam hias daerah Jambi menyatakan, kecuali Tampuk Manggis, empat dari lima motif yang disebutkan oleh Asianto Marsaid sebagai motif tertua dan kuno, tidak dapat dibuktikan secara empiris dan faktual. Sebab, empat motif yang disebutkan itu tidak menunjukkan ciri khas motif ragam hias daerah Jambi yang sederhana dan konvensional. Empat motif tersebut dinilai rumit, dan mempunyai komposisi gambar yang cukup sulit. Sama seperti motif pengembangan lain, yakni Kajang Lako, Batanghari, Angso Duo, dan Keris Siginjai.

Hingga kini, satu-satunya ciri khas motif batik Jambi yang dapat dipertanggungjawabkan orisinalitas keberbedaan penciptaannya adalah kesederhanaan bentuk dan kemandirian objek motif tersebut. Artinya, tidak seperti motif batik dari daerah lain yang cenderung berangkai dan membentuk kesatuan yang utuh serta berulang-ulang, motif batik Jambi berdiri sendiri (ceplok-ceplok), terlepas dari yang lainnya, tidak berangkai dan merangkai, sehingga banyak ruang kosong diantaranya. Pada batik Jambi kontemporer, ruang kosong itu biasanya diberi isian (ragam hiasan) yang berbentuk tabur titik, tabur bengkok, dan atau belah ketupat. Dan tak jarang pula ruang itu dibiarkan kosong, namun diberi sentuhan warna dasar terang; hijau, merah atau biru. Warna dasar terang juga merupakan ciri lain batik Jambi klasik dan kontemporer.

Dalam bukunya Ragam Hias Daerah Jambi (2008) Ja’far Rassuh menuliskan, sedikitnya terdapat sekitar 50 macam motif pada batik Jambi yang ditengarai merupakan motif lama dan pengembangan. Diantaranya adalah motif Daun Kangkung, Riang-riang, Kaca Piring, Pucuk Rebung, Bungo Durian, Melati, Bungo Jatuh, Bungo Cengkeh, Tabur Bengkok, Tabur Intan, Tabur Titik dan lain sebagainya.

Penamaan diberikan pada setiap satu bentuk motif. Dalam sebidang kain, biasanya terdapat beberapa motif yang dipadukan secara harmonis, dan diberi isian dengan komposisi yang seimbang. Tapi ada juga yang diletakkan secara acak, sehingga memunculkan kesan tersendiri bagi motif tersebut. Contoh karya batik yang mengedepankan harmonisasi antarmotif adalah batik karya Mahkamah yang berjudul Kasih Bunda. Motif pada batik tersebut didesain dari beberapa unsur, diantaranya tulisan Incung, dan motif Paruh Enggang kemudian diberi berbagai isian, sehingga menampakkan harmonisasi antarmotif.

Namun jika merunut sejarahnya, ragam motif batik Jambi sebenarnya lahir lebih kemudian dari ragam hias pada ukiran kayu. Ragam hias ukiran kayu lebih dulu ada dan berkembang di Jambi. Bahkan, ornamen ukiran kayu lebih memiliki makna jelas ketimbang batik. Penempatan atau penggunaan ukiran kayu pada bagian-bagian rumah atau masjid tua, diatur sedemikian rupa sesuai dengan bentuk, struktur dan fungsinya. Misal, ukiran kayu dengan ornamen berbentuk Keluk Paku Kacang Belimbing biasanya ditempatkan di pengapit tiang luar dan orong-orong dinding Masjid Agung Pondok Tinggi, atau sebagai tiang, mimbar, tangga, dan pagar di masjid-masjid dan rumah tua di Kerinci. Motif ukiran berbentuk Daun Pakis biasanya ditempatkan sebagai ventilasi di atas pintu. Begitu juga dengan motif-motif lainnya.

“Batik Jambi dengan motif apapun dapat dipakai kapan saja, oleh siapa saja, dan dimana saja. Tidak ada ketentuan yang mengaturnya. Hal ini berbeda dengan ornamen ukiran kayu. Penempatannya akan disesuaikan dengan bentuk, struktur dan fungsinya di bagian-bagian rumah atau masjid. Semua itu diatur oleh ketentuan adat yang berlaku dalam masyarakat dan mempunyai arti yang jelas. Seperti Keluk Paku Kacang Belimbing, bagi orang Kerinci memiliki makna anak dipangku kemenakan dibimbing. Artinya anak kandung menjadi tanggungan penuh, sedangkan kemenakan harus dibimbing,” terang Ja’far.

Maka itu, hingga kini belum dapat dipastikan motif apa saja yang merupakan motif tertua atau motif pokok dalam khasanah batik di Jambi. Sebab dapat dikatakan, sebagian besar motif batik Jambi mengadopsi bentuk dan nama ornamen pada ukiran kayu. Bahkan dalam sebuah literatur disebutkan, batik tertua yang pernah ditemukan di Jambi adalah milik seorang Belanda bernama HLC Peter (H.E.K Ezermenn ?) yang menjabat sebagai residen Jambi antara 1918 hingga 1925 di Kampung Tengah Seberang Jambi. Dalam catatan B.M Gosligs itu tidak disebutkan dengan rinci motif apa yang terdapat pada selendang batik milik orang Belanda itu, selain warna merah di atas dasar hitam kebiruan yang sangat indah.

Belakangan, dalam penerapannya penempatan motif pada batik tidak lagi disesuaikan dengan makna, fungsi atau kegunaannya seperti pada ukiran kayu. Makna berbagai motif telah mengalami pergeseran dan tergerus oleh kreativitas para pembatik. Bahkan, ragam motif yang diciptakan kini juga seolah mengangkangi kebiasaan, alur dan patut yang berlaku dalam masyarakat. Penciptaan motif banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang menjadi agama mayoritas masyarakat Melayu Jambi. Terbukti dengan banyaknya motif batik yang berujud satwa atau hewan dan mahluk hidup lainnya.

Padahal sejak Islam masuk ke Jambi sekitar abad ke 15, proses penciptaan ukiran pada kayu dan media lainnya cenderung menghindari bentuk satwa, tapi lebih kepada bentuk tumbuhan atau bunga-bungaan. Meski tidak disebutkan dengan terang, namun dari hampir 50 ornamen pada ukiran kayu yang diteliti Ja’far Rassuh dalam bukunya, tidak satupun yang bermotifkan satwa atau hewan. Diduga, tidak adanya motif berbentuk hewan pada ragam hias ukiran kayu, berkaitan erat dengan ajaran Islam yang sedang berkembang pada saat itu. Dalam pemahaman masyarakat, ajaran Islam melarang penggambaran mahluk hidup serupa hewan atau manusia.

Demikianlah kreatifitas. Ia cenderung melabrak konvensi-konvensi, baik agama maupun kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Kreatifitas seolah tak terbatas oleh aturan-aturan yang ada. Apalagi ketika bersentuhan dengan industri dan kapitalisasi. Namun sejauh ini tidak ada persoalan dalam masyarakat terkait penciptaan motif-motif tersebut. Itu merupakan bukti bahwa masyarakat Jambi memang egaliter dan terbuka terhadap hal-hal lain di luarnya. Namun bagaimanapun, upaya mempertahankan bentuk motif konvensional dengan makna yang dikandungnya haruslah tetap dilakukan dan dipertahankan, baik dalam batik maupun ukiran kayu. Sebab, kita tentu saja tidak ingin anak cucu kita nanti menemukan batik Jambi dengan motif Upin-Ipin, dan mengira itu adalah motif pokok ragam hias daerah Jambi, bukan?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 14 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 16 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 17 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 18 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: