Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sigit Priyadi

Padang rumput hijau, sepi, bersih, sapi merumput, segar, windmill, tubuh basah oleh keringat.

‘Santunan Anak Yatim’ oleh Pengajian Ibu-ibu ‘As- Salam’ RT 17

REP | 11 December 2011 | 14:24 Dibaca: 855   Komentar: 0   0

13236127801116378109

Pintu masuk tenda tempat acara.

Pagi tadi suasana di rumah saya diramaikan oleh kerja bakti memasang tenda untuk acara ‘Hari Raya Anak Yatim’ atau ‘Santunan Anak Yatim’, yang dilakukan setiap tanggal 10 Muharram. Kebetulan pada bulan Muharram tahun ini (1433 H), giliran saya yang ditetapkan sebagai ‘Syahebul baed’ atau tuan rumah. Sebetulnya penetapan keluarga saya sebagai tuan rumah penyelenggara berkaitan dengan jadwal pengajian ibu-ibu selingkungan RT, yang menetapkan jatah istri saya sebagai penyelenggara awal Tahun 1433 Hijriah. Berhubung istri saya tidak pernah bisa hadir setiap malam Jum’at karena harus dinas praktek, maka pegurus menentukan istri saya selaku penyelenggara pengajian digabungkan dengan ‘Hari Raya Anak Yatim’ tersebut.

Pukul 07.00, Bapak-bapak dipimpin oleh Ketua RT, pak Sarwondo, memimpin pemasangan tenda biru di depan rumah saya. Suasana terasa hangat oleh canda tawa antar peserta kerja bakti. Ada seorang bapak yang menyelutuk ’supaya pak RT segera memiliki tenda lepas-pasang agar bila ada acara serupa, misalnya kematian warga, pengajian, syawalan, dll, dapat dipasang dengan mudah dan terlihat layak’. Saya langsung mengkomentari: “Pak, kalau bisa model tendanya tidak perlu diganti. Biar model tarikan tali begini saja, agar supaya saat pemasangan  kita bisa beramai-ramai bergotong royong seperti saat ini. Kalau model lepas pasang seperti yang biasa disewakan oleh usaha penyewaan tenda paling cuma butuh 3 orang pelaksanan.  Yang penting kita bisa bekerja bersama-sama dalam suasana ramai  .”

Setelah pemasangan tenda beres, sekitar pukul 08.30, kami lalu mengobrol sambil ngopi dan makan gorengan, sesudahnya mereka bubar pulang ke rumah masing-masing. Tinggal kami bertiga , bersama pak RT, dan seorang tetangga yang setia membantu acara (ahli listrik). Sambil menunggu kami putar kaset bacaan ‘Juz Amma’ dan VCD lagu-lagu qasidah modern ‘Nasida Ria’. Suasana langsung terasa berbeda. Lagu ‘Perdamaian’, ciptaan:  Abu Ali Haidar, dan ‘Kota Santri’, ciptaan: Suhaemi, terdengar mendayu-ndayu, disusul lagu-lagu lain berbahasa Arab.

Pukul 13.00, sesudah sholat dzuhur jamaah ibu-ibu pengajian ‘As-Salam’, Rt 17, mulai berdatangan. Beberapa ibu-ibu sesepuh dari Rt lain juga ikut menghadiri. Sejumlah anak yatim dari kampong-kampung sekitar perumahan juga berdatangan. Saya yang baru pertama kali menjadi tuan rumah acara pengajian seperti ini merasa bahwa saya sekeluarga seperti mendapatkan kehormatan yang sangat besar dari pengurus pengajian ibu-ibu, suasana ini sekaligus membuat terharu diri saya.

Acara dibuka pada pukul 13.00 dengan susunan acara:

1.  Pembukaan, Pidato pembukaan oleh ketua pengajian ibu-ibu Rt 17,

2.  Pembacaan ayatsuci Al Qur’an surat At Taubah dan Al Maa’uun,

3.  Sambutan oleh ketua Rt 17,

4.  Pembacaan surat Yassin,

5.  Penampilan rebana ibu-ibu pengajian,

6.   Acara puncak, yaitu: ceramah oleh ustadz Syamsuri dari kampong Tegal (masih termasuk wilayah Desa Cipeucang).

13236128931851686185

Ketua Rt 17 (duduk paling kiri), ustadz Syamsuri (ketiga dari kiri).

13236129991090483232

Ketua Rt memberikan sambutan.

1323613073847516613

Rebana ibu-ibu pengajian.

13236131381645502038

Ustadz Syamsuri berceramah hikmah

13236132451527933498

Undangan anak-anak yatim.

1323613346538951075

Proses pemberian bingkisan.

Pada saat bapak ustadz sedang menyampaikan ceramah, sekitar pukul 15.00 hujan turun dengan lebat, setelah sebelumnya awan mendung terlihat menaungi tempat acara kami berlangsung. Saya sejak awal selalu berdo’a agar acara tetap berlangsung lancar meskipun turun hujan. Semoga hujan nanti tidak didahului angin putting beliung, seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu. Alhamdulillah, hujan memang turun dengan deras tanpa didahului angin besar. Kekhawatiran saya terhadap hempasan angin yang dapat menerbangkan tenda dan debu di jalan serta pepohonan, ternyata tidak terjadi. Guyuran air hujan yang tertampung di atas tenda yang jatuh mendadak, memang sempat membuat basah kuyup sebagian baju para ibu-ibu yang lalu-lalang di bawahnya. Pak ustadz beberapa kali mengatakan bahwa hujan ini merupakan berkah dari Allah SWT dan membuat acara pengajian ‘10 Muharram’ di rumah saya terasa lebih berkesan. Saya sangat bersyukur dengan ucapan pak Syamsuri tersebut.

Usai ceramah sekitar pukul 15.30, acara dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan kepada para anak yatim yang hadir. Satu persatu kepala anak-anak yatim yang berjumlah 63 itu orang diusap oleh para hadirin sambil diringi dengan sholawat nabi Muhammad SAW.  Saya menyaksikan  semua proses sambil berjaga-jaga memperhatikan derasnya hujan di sekitar tenda. Beberapa anak terlihat menangis di pelukan para ibu-ibu pengajian. Seorang ibu bahkan tampak menangis sesenggukan, membuat antrian harus tertahan agak lama. Bagi saya pemandangan tersebut sangat mengharukan dan benar-benar merupakan sesuatu yang baru pertama kali ini saya ketahui. Sungguh luarbiasa kerja keras para ibu-ibu pengajian di Rt tempat saya tinggal, hingga dapat menyelenggarakan acara serupa ini dengan kompak.

Kekompakan para ibu-ibu pengajian di Rt 17 di perumahan tempat tinggal saya memang patut diacungi jempol. Acara apapun selalu dengan cepat ditanggapi dengan pembagian tugas yang jelas. Semua berperan saling membantu tanpa melihat status social. Masing-masing akan mengerjakan tugas sesuai dengan spesialisasinya. Yang jago memasak pasti akan mendapat order untuk menyiapkan konsumsi, yang pintar agama tentu saja mendapat tugas keagamaan sesuai keilmuannya, yang pintar mengatur dan menjadi pembawa acara akan berperan memimpin acara dari awal hingga akhir, yang pintar mendandani tentulah menjadi ahli rias andalan.

Tepat pukul 16.00 acara ditutup dengan pembacaan do’a oleh ustadz Syamsuri. Beliau sekalian juga mengundang kami,  para bapak yang ikut hadir, agar bersedia datang dalam acara yang ’sama’ di tempat tinggalnya, pondok pesantren di kampong Tegal.  Satu persatu anak-anak yatim berbaris keluar dari tenda sambil mencium tangan kami selanjutnya berlarian pulang. Saat hujan masih turun rintik-rintik saya dan Ketua Rt dibantu dua orang bapak-bapak langsung membongkar tenda, didahului oleh para ibu yang menyapu dan mencomoti sampah wadah plastic bekas piring sate dan baso yang berceceran di jalanan. Pukul 17.00 situasi lingkungan di depan rumah saya telah kembali bersih seperti semula. “Ini benar-benar kerja team yang professional”.  Para ibu-ibu kembali ke rumah masing-masing, sambil membawa bungkusan makan berisi nasi, ayam goreng, dan mie goreng.

11 Desember 2011.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 7 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 11 jam lalu

Drama Pilpres Telah Usai, Keputusan MK Harus …

Mawalu | 11 jam lalu

Open Letter to Mr Joko Widodo …

Widiyabuana Slay | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: