
Mahasiswa (25) kelahiran Indonesia yang saat ini berdomisili di Jerman. Selain aktif di berbagai organisasi muslim dan kemahasiswaan di Jerman juga merupakan aktivis kemanusiaan bersama MER-C Jerman. Dunia menulis dan Jurnalistik telah menjadi bagian kehidupannya semenjak kecil. Timur tengah, politik, pendidikan, islam, kemanusiaan dan lingkungan adalah tema-tema besar yang terus menginspirasi dunia menulisnya.
Dibaca: 107
Komentar: 2
2 dari 3 Kompasianer menilai inspiratif
Oleh Sultan Haidar Shamlan
Seperti orang-orang Jerman pada umumnya. Di sepiring menu sarapan saya akan ada Vollkörnbrot yang sebelumnya saya panggang di oven tidak berapa lama. Diolesi Butter, lengkap dengan potongan tomat dan Mozarella. Juga seperti orang-orang Jerman pada umumnya, saya mensortir sampah buangan di rumah saya, sebelum saya distribusikan ke dalam container penampungan yang berbeda.
Seperti orang-orang Jerman pada umumnya. Hari-hari saya penuh rencana, kalkulasi dan matematika: Pemilihan busana yang mesti sejalan dengan garis termometer di luar jendela, atau prakiraan cuaca. Hitung-hitungan; kapan tram atau bus saya stand-by di halte terdekat gedung appartemen saya. Hitung-hitungan; berapa lama waktu tempuh dari satu halte ke halte berikutnya.
Seperti orang-orang Jerman pada umumnya. Di setiap perjalanan saya, selalu ada buku yang saya bawa untuk dibaca. Lima menit sebelum Regional Bahn (RB) yang saya tumpangi sampai ke stasiun kereta, saya sudah berdiri rapi, mengantri, menunggu di depan pintu kereta yang belum terbuka. Potret „kekonyolan“ di tahun pertama yang kini menjadi biasa.
Seperti orang-orang Jerman pada umumnya. Untuk negara ini, saya memiliki sepotong cinta: Saat tim bola panser gagal menggondol gelar juara dunia, hanya mampu berada di posisi ketiga, saya kecewa luar biasa. Sekecewa saat tim Garuda Muda di Sea-Games terakhir ditakdirkan Tuhan kalah dari tim sepak bola tetangga kesayangan kita, Malaysia. Ya, Untuk negara ini, saya memiliki sepotong cinta. Sepotong cinta yang saya rasakan setiap pesawat saya boarding dari Frankfurt menuju Soekarno-Hatta, saya kehilangan separuh identitas dunia saya.
Saya berpendidikan, bagian dari Gesellschaft, dan tidak lagi berbahasa Jerman dengan terbata-bata. Dalam kamus-definisi milik saya, saya terasosiasi dengan kata „zivilisiert“ dan „integriert“. Tapi tidak dalam kamus-definisi Cem, seorang Turki yang saya sebut sebagai sahabat. Baginya, saya tidak „çağdaş“, tidak modern. Apa daya?
Pada satu waktu, saya hadir di Malam Kurdistan. Pertemuan ini diorganisir mahasiswa Afghanistan, Turki dan Suria di kampus saya. Acara memang belum dibuka, tetapi sejumlah minuman sudah di atas meja. Tiga krat jus - di samping 15 krat bier dan anggur. Untuk saya, ini memang bukan yang pertama. Tetapi belum ada acara komunitas mahasiswa yang saya kunjungi sebelumnya, yang begitu banyak menawarkan minuman beralkohol sebanyak meja mereka. Padahal tidak sedikit dari mereka beragama, persis seperti agama saya. Memandang ini, justru teman Jerman saya, yang sudah terbiasa minum alkohol dengan segala jenis dan variasinya, tidak kalah terkesima.
Dan terjadilah yang ditunggu. Secara berkala, satu per satu peserta mendistribusikan gelas plastik putih. Dari satu tangan ke tangan yang lainnya. Mulanya, memang sebagian besar menuang cairan jus ke dalam gelas kecil mereka. Tidak berapa lama kotak-kotak jus itu telah kosong. Meski begitu, mereka memutuskan untuk tetap haus. Tanpa desahan rasa ragu, dari satu tuangan ke tuangan berikutnya, botol-botol Bier dan anggur yang banyak itu berusaha dihabiskan. Dan habis, benar saja.
Pada malam itu, saya tidak tahu siapa yang ingin membuktikan sesuatu, atau bahkan, apa yang sebenarnya ingin dibuktikan.
Cem, yang telah begitu kenal saya, justru memaksa, bukan untuk yang pertama. Dan jelas, saya menolak, untuk yang kesekian kalinya. Dan seperti ribuan diskusi-diskusi kami lainnya, di setiap penghujungnya, Cem akan melabeli saya: tidak çağdaş! Tidak modern.
Dengan sendirinya saya merasa berbeda. Tersingkir, terliminasi, merasa asing dan tidak pernah sama. Tidak biasa. Suatu perasaan yang juga hadir saat seorang muda dari negara saya membutirkan “pesta” sebagai bagian program kerja di jangka panjang organisasinya. Penonton, yang sebagian besar muda, bertepuk tangan dengan anemo yang luar biasa. Dan benar saja Cem, saya tidak çağdaş. Saya berbeda.
Tidak jauh berbeda dari sebuah malam pada hari bersejarah untuk negara saya (juga bersejarah untuk saya). Pasalnya, sebuah institusi yang identis dengan kebangsaannya merayakan hari jadi kepahlawananannya. Malam itu, di jantung Jerman, dalam sebuah acara tertutup di sebuah hotel mewah, yang dituan-agungkan, memberikan sambutan kebangsaan yang menggugah. Ratusan mata memang kagum atas isi bicaranya: pahlawan, nasionalisme, sejarah dan budaya bangsa.
Sampai pada puncaknya, yang dituan-agungkan menutup ceramahnya dengan sebuah prosesi kudus yang tidak semestinya: “hadirin, untuk mengenang hari jadi ini, mari kita angkat gelas kita dan bersulang bersama!” Demonstratif, sebagian besar peserta mengangkat gelas Wein yang telah siap di tangan-nya. Demonstratif, mereka meminumnya. Demonstratif, wajah-darah-dan pengorbanan pahlawan dijual murah di hadapan saya.
Sepulangnya, seorang sahabat berkata sesuatu yang memang perlu ia katakan, nyaris dengan air mata dan penuh tanda tanya: “beginikah budaya bangsa kita?” Saya terdiam tanpa daya.
Jika itu çağdaş, maka saya lebih suka menjadi orang-orang terbelakang, ketinggalan jaman atau orang-orang dari hari kemarin yang sudah kadaluarsa.***