Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Api Sulistyo

Peminat tulis-menulis untuk berbagi informasi. Tinggal di Minneapolis, Minnesota, USA.

Sesaji Bagi Dewa-Dewi

HL | 07 December 2011 | 03:01 Dibaca: 815   Komentar: 25   3

Saya lahir dan dibesarkan di pedesaan di Jawa Tengah. Kakek-nenek dari bapak dan ibuku adalah petani. Orangtuaku juga petani. Saya sangat akrab dengan kehidupan persawahan dari penggarapan lahan, pemeliharaan tanaman, sampai masa panen. Setiap petani pingin hidup selaras dengan alam sehingga tidak terjadi banyak bencana alam dan panen melimpah.

Salah satu tradisi yang masih kuat kuingat adalah upacara ‘wiwit’ yang dilakukan beberapa hari sebelum panen. Upacara ini biasanya dipimpin oleh seorang ibu dan diikuti oleh anak-anak kampung, baik putra maupun putri. Ibu ini biasa kami kenal kengan panggilan “Mbah Dukun.” Kalau ada seorang ibu menggendong bakul dan diikuti oleh anak-anak, ini biasanya menjadi ‘undangan’ bagi anak-anak lain untuk bergabung. Saya pun sering menghadiri undangan ini.

Di desa lain upacara wiwit kemungkinan mempunyai tata cara yang sedikit berbeda. Tetapi tujuan utamanya tetap sama yaitu untuk berterima kasih kepada Dewi Sri, dewi kesuburan tanah.

13232265831882533150

Sesaji wiwit di Jawa. Foto dari internet.

Sesampai di sawah, Mbah Dukun menentukan tempat di dekat pematang. Di tempat ini dia menggelar semua isi bakulnya termasuk: nasi tumpeng, sayur urap, telur rebus, ayam goreng, sambal kacang, dan buah-buahan. Satu lagi hal yang sangat penting adalah bunga dan menyan atau dupa.

Bersama bau menyan Mbah Dukun mulai berdoa dalam bahasa yang tidak kami mengerti. Kemudian dia berdiri dan menebar sebagian makanan ke sawah. Makanan ini disebut ‘umbul-umbul’. Katanya untuk memberikan kembali sebagian dari yang pernah kita terima ke lahan pertanian kita. Kemudian Mbah Dukun sibuk membuat bungkusan makanan memakai daun pisang untuk diberikan kepada anak-anak. Entah mengapa, makanan ‘wiwit’ terasa begitu nikmat. Cangkir yang sama kami pakai secara bergantian untuk meminum air segar dari kendi tanah liat.

Empat anak ditunjuk secara khusus oleh Mbah Dukun untuk membawa bungkusan dan ditaruh di empat pojok sawah. Bungkusannya lebih besar dan dipersiapkan khusus untuk penjaga sawah.

Perlahan upacara ‘wiwit’ ini menghilang. Tidak ada lagi upacara wiwit di kampung kami. Tetapi ketika saya cari informasi di internet, saya merasa lega karena ternyata di daerah lain masih ada petani yang melestarikan tradisi ini. Inilah website yang saya temukan. http://m.kidnesia.com/Kidnesia/Indonesiaku/Seni-Budaya/Tradisi-Wiwit

Website berikut ini juga membahas tentang tradisi wiwit. http://ontrakan.wordpress.com/2009/10/16/sesaji-sawah/

Sesaji Perdamaian

Upacara lain yang masih kuingat adalah sesaji yang dilakukan ketika ada keluarga yang sedang punya pesta seperti pernikahan, supitan, pindahan atau pendirian rumah, dan pesta syukuran lain. Di bawah pengawasan dan persetujuan Mbah Dukun, makanan bungkusan daun pisang disajikan di berbagai tempat di dekat rumah seperti sumur, tungku utama di dapur, serta pojok rumah. Beberapa tempat tertentu di kampung juga diberi sesaji seperti tempat permandian, pojok desa, perempatan jalan, jembatan, serta tempat lain yang dianggap keramat oleh warga desa.

13232266591886930768

Sesaji pada upacara pernikahan. Foto dari internet.

Sesaji ini dimaksudkan untuk berdamai dengan dewa Siwa yang diyakini sebagai sumber malapetaka. Dengan sesaji ini keluarga atau masyarakat mengharap upacara pesta berjalan lancar dan tidak terjadi malapetaka di kampungnya. Upacara inipun telah menghilang di kampung kami. Hanya keluarga yang mampu dan mau yang masih melansungkan tradisi ini seperti keluarga Sultan Yogyakarta.

Tradisi sesaji mulai menghilang di berbagai pelosok tanah air. Entah karena alasan praktis atau ekonomis. Masyarakat Bali merupakan kekecualian dalam hal sesaji atau ‘bebanten’. Kemungkinan besar masih banyak upacara sesaji di tanah air yang masih berlansung namun kurang populer lagi.

Ternyata tradisi sesaji juga terjadi di Amerika, bahkan hidup subur. Sesaji ini deberikan khusus  untuk Santa Klaus pada malam natal. Sajian utamanya dalah kue (cookies) dan susu segar. Setiap keluarga yang merayakan natal biasanya menaruh sesaji ini di dekat perapian. Anak-anak sangat percaya bahwa Santa Klaus akan datang ke rumah-rumah untuk memberikan hadiah kepada anak-anak. Dia akan masuk rumah melalui cerobong asap rumah. Supaya dia tidak kehausan dan kelaparan, setiap keluarga menyajikan kue dan susu.

13232267602020288967

Susu, kue, dan surat buat Santa Klaus. Foto dari internet.

Pada tengah malam saat anak-anak sedang tidur pulas, orangtua mereka akan membuang sebagian susu dan mengambil beberapa kue untuk Santa. Malam itu orantua juga sibuk membungkusi hadiah natal dan menaruhnya di bawah pohon natal. Begitu bangun pagi, anak-anak akan terkejut melihat banyak hadiah di sekitar pohon natal dan Santa telah menimum dan makan kue sesaji mereka.

Anak-anak akan mengingatkan orangtua mereka kalau kue dan susu tidak dihidangkan buat Santa Klaus. Bahkan ada anak yang menulis surat khusus buat Santa dan mengharap Santa menikmati susu dan kue yang dia siapkan.

Tradisi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat secara turun-temurun. Seringkali tradisi tidak bisa masuk dalam relung penalaran kita, tetapi tetap juga dilakukan tanpa bertanya. Sayang sekali bahwa keponakan saya dan kebanyakan anak muda tidak lagi tahu menahu tentang upacara wiwit dan tradisi sesaji di kampung kami.

Semoga semakin hilangnya tradisi sesaji di kampung kami tidak terjadi di tempat lain di tanah air.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Imbangi Valencia B, Indra Sjafrie Malah …

Djarwopapua | | 19 September 2014 | 14:17

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 7 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 8 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 8 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 11 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Calo Berkeliaran di Baitulharam …

Choirul Huda | 8 jam lalu

BPJS dAN KJS Sangat Membantu Masyarakat …

Sony Hertanta | 8 jam lalu

Penipuan Bermodus Penangkapan!!! (Silahkan …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Yuk, Jadi Pengguna Elpiji yang Cerdas dan …

Yoseph Purba | 8 jam lalu

Konsep Unik Band dengan Bertopeng …

Anto Karsowidjoyo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: