
Dibaca: 137
Komentar: 4
1 dari 1 Kompasianer menilai menarik
Yang pertama, maafkan judul di atas, karena memang tak ada lagi yang mampu mewakili kepedihan hati saya atas peristiwanya. Tetapi, saya yakin, ini hanyalah sebagian kecil dari segala peristiwa besar, saya sangat yakin, tidak semua anak Papua seperti itu, saya yakin, ini hanya case….
Peristiwa itu terjadi pada 6 Oktober, dimana seorang anak Wamena, Papua yang diadopsi oleh orang Ambon. Di besarkan dengan kasih sayang, di sekolahkan, di beri pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dari kecil.
Hingga pada akhirnya, ketika ia dewasa, ia salah pergaulan, ia terprovokatori oleh orang-orang yang berhati picik! Anak itu berubah, ia membenci orangtua adopsinya, ia memposisikan dirinya sebagai orang asli Papua dan orang tua adopsinya sebagai orang pendatang.
Sebagai orang pendatang, pemikirannya hanya mengeruk bumi Papua, menginginkan uangnya saja…. Kemudian karena kebencian tiada henti masuk ke dalam otaknya, akal sehatnya pun jadi tak berfungsi, orangtua adopsinya di suruh pergi atau ia bunuh, dan rumahnya menjadi miliknya…
Adhuh…….setan mana yang di pelihara orang tua itu….
Lantas, barulah kemudian terjadi “gegeran” masa, mengenai Papua Merdeka….. tiap-tiap orang asli Papua tinggal memilih rumah mana yang akan mereka tinggali. Jika mereka merdeka! Dan para pendatang ada yang panik menjual rumahnya dengan harga yang tak tanggung-tanggung murah, karena ya memang takut…..
Kembali ke judul…..saya minta maaf, saya hanya merekonstruksi sedikit cerita yang beredar di masayarakat Papua, tidak semua anak seperti itu, saya percaya….