Artikel

Sosbud

Sari Oktafiana

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Iiving in the earth with reason, vision and missions...but I can't make every body happy.

Kemacetan Jalan: Mempertanyakan Visi Sebuah Kota


OPINI | 29 November 2011 | 21:08 Dibaca: 146   Komentar: 1   1 dari 1 Kompasianer menilai bermanfaat

“The Future is neither an in heritance Nor a handicap. The Future is something to be dreamed and constructed”,

(Destino Columbia)

13225750591300263852

Jalan A. Yani Surabaya


Nyaris setiap hari, terutama di hari-hari kerja dari hari Senin hingga Jumat apa yang terjadi dengan Jalan A.Yani Surabaya? Jawabannya tak lain adalah macet. Jalan penuh, padat dengan sepeda motor, mobil, dan  angkutan umum. Tak terbayangkan betapa polusi-nya dari asap-asap knalpot kendaraan berbahan bakar bensin dan solar di jalan A. Yani.

Kemacetan dimulai pukul 6 pagi, dimana semua orang dari arah Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Malang, dan dari kota-kota lainnya berebut masuk ke kota Surabaya untuk bekerja, memenuhi kebutuhan hidup serta dengan berbagai macam kepentingan lainnya.

Jalan A. Yani merupakan salah satu jalan gerbang masuk kota Surabaya. Salah satu jalan  diantara banyak jalan yang macet, padat, penuh dengan kendaraan setiap harinya. Walau pun sudah terdapat jalan layang, jalan tol yang melingkari Surabaya tapi kenyataanya juga belum mengurangi angka kemacetan jalan secara signifikan. Artinya masih terdapat ketimpangan dan kesenjangan daya dukung kota dan jalan dengan naiknya angka kendaraan terutama sepeda motor yang semakin membludak. Nah bila kondisi seperti ini terus dibiarkan tanpa ada solusi yang mengakar untuk mengatasi kemacetan jalan raya, lalu apa yang akan terjadi dengan kota Surabaya 2 tahun, 5 tahun lagi? Dan bagaimanakah visi kota Surabaya untuk membawa kotanya?

Visi kota dan perencanaan daerah

13225746891374626110

Visi sebuah kota merupakan formulasi tata nilai inti yang menentukan arah pengembangan sebuah kota. Saya yakin semua kota di seluruh pelosok Indonesia mempunyai visi, preferensi tata nilai yang bagus, baik, sesuai dengan karakter, struktur, potensi sosial, budaya dan ekonomi. Permasalahan yang sering terjadi adalah bagaimana membawa, mewujudkan, dan mengintegrasikan semua sektor pemerintah, sektor swasta, dan komunitas dalam konteks batas keruangan tertentu yang ditentukan secara administratif dalam proses untuk mewujudkan aktivitas-aktivitas, aturan main dan pertanggungjawaban seluruh stakeholders daerah demi terwujudnya daerah yang layak huni (livable), layak investasi (bankable), dan berdaya saing tinggi (hi-competitiveness).

Untuk menghidupkan ruh dari visi kota adalah dengan melakukan perencanaan daerah, dimana perencanaan daerah merupakan proses memformulasikan dan mengimplementasikan sebuah keputusan mengenai arah masa depan daerah. Apakah itu perencanaan daerah yang berbasis skenario-strategis atau perencanaan konvensional.

Pencanaan strategis sangat berbeda dengan perencanaan konvensional. Perencanaan konvensional lebih berorientasi pada permasalahan yang tampak yang berdasarkan pada pemahaman yang sedang umum, atau sebuah pemikiran dari dalam keluar. Sedangkan perencanaan strategis memerlukan sebuah pemahaman dari isu-isu alami yang terjadi, kemudian menemukan sebuah respon yang tepat, atau sebuah pemikiran dari luar ke dalam

Penekanan perencanaan strategis yang lebih mengutamakan impian atau visi dari keberadaan sebuah daerah membuat rencana strategis menjadi pilihan untuk membuat sebuah dokumen strategi yang menjamin adanya konsistensi perumusan kondisi atau masalah daerah, perencanaan arah kebijaksaan, pembuatan strategi hingga pemilihan program strategis yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Dengan demikian ini dapat dijadikan acuan dan pegangan bagi seluruh stakeholders daerah dalam menjalankan peran masing-masing dalam membangun daerahnya. Yang perlu dipahami bersama adalah rencana strategis bukan sekedar proses pembuatan dokumen penentu arah kebijakan, namun lebih pada proses yang non-linier, deliberatif dan partisipatif yang dapat memfasilitasi orang-orang yang terlibat untuk dapat berpikir dan bertindak secara strategis. Proses ini adalah the art of thinking, seni berfikir sistematis dan strategis.

Narasi Skenario Kota

Narasi skenario kota merupakan narasi yang menggambarkan kemungkinan jalan-jalan menuju masa depan. Skenario daerah/kota menggambarkan secara tajam kemungkinan masa depan kota, daerah, dimana ditampilkan beragam kemungkinan yang didapat dari hipotesa-hipotesa yang masuk akal. Dalam narasi skenario kota terdapat tiga makna yaitu: (1) sesuatu yang diperkirakan terjadi, (2) sesuatu yang diinginkan terjadi, dan (3) sesuatu yang mungkin terjadi.

Untuk menentukan narasi skenario kota terdapat berbagai macam pilihan masa depan sebuah kota yaitu: Necropolis (Kota Mati), Kota dibangun oleh peradaban, adapun peradaban dibangun dengan menghormati kehidupan sesama insan. Kota mati karena matinya peradaban, karena redupnya ruh kehidupan. Kota mati karena daya hidupnya kering, menguap diterik perjalanan waktu matahari. Kota yang mati ibarat bahtera yang karam, terpuruk dalam lumpur dangkal alur pelabuhan, teronggok pada batu karang penghalang kala lampu suar dan peta laut tak memandu arah haluan. Bahtera besar Sebuah kota karam dalam banjir, sampah, epidemi, kerawanan sosial dan terpenjara dalam ”kepicikan” dan ”kebodohan”, kerdil tanpa visi. Warga kotanya tidak memiliki daya saing, tidak peduli dengan tata kelola kotanya, saling meniadakan kehidupan sesama warga kota dan menghidup-suburkan budaya rusak-rusakan.

Anomopolis (Kota Tanpa Norma), Kota yang hidup tanpa arah, kota yang terus bergerak tanpa tujuan, kota yang hidup dalam pola pikir ”sekadar” tetap berdenyut. Kota yang bertahan hidup demi ketelanjuran, tanpa pegangan, reaktif penuh gelegak, membuang-buang tenaga demi sesuatu yang tidak jelas. Merajut kelelahan demi mimpi yang baur dan samar-samar. Keadaan itu dapat diibaratkan sebagai bahtera tanpa nakhoda, yang terombang-ambing oleh ombak kesesatan, tergantung pada angin selera politik serta terapung tanpa haluan di tengah hiduk pikuk samudera kepentingan jangka pendek. Dimana sebuah kota ibarat bahtera tanpa nakhoda, karena tiadanya mandat bersama yang mengarahkan gerak haluan bahtera. Layanan publiknya profesional, akan tetapi tanpa arah dan tidak menghasilkan manfaat serta nilai guna yang tinggi. Hal ini diakibatkan oleh partisipasi warga yang rendah, sikap apatis terhadap tata kelola kota. Alhasil tanpa mandat bersama, pengelola kota hanya tampil sebagai pendayung-pendayung bahtera yang bergerak tanpa arah.

Tiranopolis (Kota yang Menindas), Kota yang hadir dengan garang, tegar, dan ”sangar” menutupi mandulnya kepedulian terhadap kebutuhan warga. Kota ini tampil sebagai sosok kota dengan partisipasi warga yang tinggi akan tetapi disuguhi dengan layanan publik yang tidak profesional. Warga mampu menghidupi dan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, sambil membangun benteng perlindungan terhadap kekerasan birokrasi yang tidak ramah, tidak peduli, asal-asalan, dan semu. Kota seperti ini dapat ditamsilkan sebagai ”Bahtera yang Terbajak” adalah bahtera terbajak karena pelayanan publik dirompak untuk memenuhi kepentingan mereka yang berkuasa dan bukan untuk kepentingan warga Kota. Sebuah kota bukanlah tampil sebagai metropolis yang elegan, akan tetapi menjadi metropolitik yang hanya peduli pada kepentingan elit. Warga kota yang partisipatif, pro-aktif, kritis, berdaya, menjunjung kebersamaan, inklusif, peduli, bermartabat, dan melek informasi seperti tidak memiliki ruang gerak yang bebas untuk mengekspresikan diri dan memenuhi cita-citanya. Permasalahan warga kota bagaikan seonggok kotoran yang disembunyikan di bawah karpet kemunafikan aparat publik.

Organopolis (Kota yang Hidup Semarak), Kota impian metropolis adalah kota yang menciptakan tumbuh kembangnya kehidupan bersama yang adil dan berpihak pada kehidupan (humanopolis), ramah lingkungan (ekopolis), menjunjung tinggi kehidupan ekonomi politik yang bermartabat (oikopolis) serta kota yang punya jati diri sebagai kota budaya. Kota impian metropolis adalah kota yang menciptakan tumbuh kembangnya kehidupan bersama yang adil dan berpihak pada kehidupan (humanopolis), ramah lingkungan (ekopolis), menjunjung tinggi kehidupan ekonomi politik yang bermartabat (oikopolis) serta kota yang punya jati diri sebagai kota budaya.

Kota yang raut penampilannya diwarnai partisipasi warga yang tinggi serta beriringan dengan layanan publik yang profesional. Kota ini ibarat bahtera menjelajah samudera. Sebuah kota dimana merupakan bahtera besar bagi mereka yang memiliki mimpi menjelajah cakrawala kehidupan, merambah samudera harapan. Menjadi kota idaman karena nyaman dihuni siapa saja, tanpa pandang suku, tingkat pendidikan, kesejahteraan ekonomi dan rona budaya. Sebuah kota menjadi metropolis multikultur, miniatur Indonesia yang beragam akan tetapi memiliki mimpi tentang masa depan yang sama, adil dalam kemakmuran. Sebuah kota tampil sebagai kota yang memiliki daya saing tinggi, tertib dan dinamis. Warga kotanya ramah, berdaya, tanggap, kritis, melek informasi, dan memiliki inisiatif dalam berpartisipasi membangun Kota. Kota yang memiliki pemerintah kota yang konsisten, berorientasi pada kepentingan publik, sistem birokrasinya efisien, transparan, akuntabel, berkelanjutan, non-diskriminatif, pro-aktif. Pemerintah Kota mampu menyediakan jasa pelayanan publik yang aksesnya terjangkau oleh segenap lapisan masyarakat. Partisipasi warga yang tinggi serta pelayanan publik yang profesional menjadikan sebuah kota yang tampil sebagai bahtera tangguh melayari samudera waktu dan gelombang sejarah pasang surut kehidupan.

Kembali dengan kemacetan jalan-jalan di kota Surabaya yang makin hari makin penuh sesak dengan berbagai macam kendaraan dan udara yang kian tercemar karena polusi. Akan dibawa kemanakah ”Surabaya sparkling” menjadi redup atau terang benderang pamornya. Apa kabarmu visi kota Surabaya? Akankan menjadi kota Organopolis-kah kelak?

Wallahu’alam Bishowab

Sari Oktafiana

Tulisan ini pernah dikembalikan oleh koran Kompas Jawa Timur ketika masih terdapat lembar daerah.

Sumber Gambar;

erwin4rch.wordpress.com

serbaserbi-rafha.blogspot.com

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: