Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Cahyadi Takariawan

Penulis Buku "Wonderful Family", Senior Editor PT Era Adicitra Intermedia, Konselor "Jogja Family Center" (JFC), selengkapnya

Masihkah Kita Mengenal Pancasila?

OPINI | 11 November 2011 | 01:54 Dibaca: 859   Komentar: 6   1

13209763871149966084

gambar Garuda dari Google

Cuma tergelitik saja. Kemarin kita pada bicara soal pahlawan. Sekarang saya pengin menelusuri nilai kebangsaan masyarakat kita. Maaf kalau gak nyambung. Jaka Sembung naik gajah, gak nyambung ya udah…. (www.maksabanget.com).

Enam orang Calon Wakil Bupati (Cawabup) dari sebuah Kabupaten di Sulawesi Selatan  ternyata tidak hafal Pancasila. Hal itu terekam dalam sebuah video saat berlangsung debat kandidat kepala daerah yang  dilaksanakan pada 8 Juni 2010 di Gedung KONI setempat. Saat debat berlangsung, para cawabup tak menyangka akan mendapat pertanyaan soal Pancasila dari seorang panelis. Hanya satu saja yang bisa menyebutkannya dengan benar[1].

Bukan hanya calon pemimpin daerah saja yang tidak hafal teks Pancasila, seorang kepala daerah juga tidak hafal teks Pancasila. Ironisnya lagi, ketidakhafalan itu disaksikan ratusan pegawai negeri sipil (PNS) yang mengikuti upacara bendera Peringatan Hari Pahlawan, Senin 10 Nopember 2009[2].

Di Jember Jawa Timur, usai melakukan upacara pengibaran bendera Merah Putih memperingati hari Pancasila pada 1 Juni 2008, puluhan aktifis Pemuda Pancasila (PP) melakukan razia atau sweeping di sekitar Alun-alun Jember. Dari sweeping yang mereka lakukan, ternyata banyak masyarakat yang tidak hafal Pancasila. Para tukang becak, pedagang kaki lima, pengacara serta beberapa pejalan kaki sebagian besar tidak hafal sila kedua dan ketiga[3].

Kisah John Pantau

Gambaran yang bersifat langsung dari masyarakat bisa dilihat dalam tayangan “John Pantau” Sabtu 17 Mei 2008 pukul 15.00 WIB, sebuah tayangan infotainment Trans TV, yang  mengangkat tema Nasionalisme Menjelang Kebangkitan Nasional. John Pantau melakukan survei langsung ke masyarakat. John bertanya kepada seorang ibu yang bekerja membersihkan jalan, apakah ia tahu Pancasila. Ibu itu berkata: tahu. Saat ditanya apa sila kedua Pancasila, ibu itu menjawab: Garuda Pancasila! John juga menanyakan salah satu sila Pancasila dan lambangnya kepada seorang polisi yang sedang dinas di jalan. Jawaban polisi itu salah sekaligus tidak tahu lambangnya.

John menelusuri sekolah. Ia menanyakan pertanyaan yang sama ke beberapa murid sekolahan. Si murid salah. Saat guru ditanya mengapa muridnya bisa salah dan tidak hafal Pancasila, si guru lebih memberikan alasan apologi yang tidak kuat. Jawaban salah juga diberikan oleh seorang guru di sekolah yang sama. Guru dan murid sama-sama tidak hapal Pancasila berikut lambang-lambangnya. Mereka mengatakan bahwa selama ini mereka sebagai guru lebih menekankan pada aplikasi dan pelaksanaan Pancasila.

John terus menelusuri jalanan. Tak berapa lama, ia bertanya pada anak muda punk yang wajahnya bertindik dan telinganya beranting. Mengejutkan, ternyata si anak muda punk malah bisa menjawab dengan benar sila ketiga Pancasila, apa lambangnya, dan menyanyikan beberapa lagu nasional. John bergerak lagi menyusuri Jakarta.

Ia bertemu dua orang Satpam. Pertanyaan yang sama diajukan. Tapi kali ini si Satpam diminta John untuk menggambarkan lambang-lambang Pancasila di sebuah kertas lukis berukuran jumbo, yang di kertas itu tempat kosong bagi masing-masing lambang Pancasila telah disediakan. Satpam itu salah, karena ia hanya ingat ruang bagi pohon beringin yang diletakkan di pojok kanan di bawah kaki burung Garuda. Ia ingat pohon beringinnya, tapi salah letaknya.

John bertemu artis dan teman laki-lakinya yang hendak memasuki mobil. Ia mengajukan pertanyaaan yang sama plus meminta artis tersebut menyanyikan satu lagu nasional. Sama seperti pak Satpam, artis itu juga gagal. Lalu John berjalan di sebuah taman hiburan. Ada beberapa orang ABG yang diminta John menggambarkan dan mengurutkan lambang-lambang Pancasila sebagaimana telah diajukan kepada Satpam. Ternyata, para ABG juga gagal. Malah ada yang menggambarkan sebuah timbangan dan musholla sebagai lambang Pancasila.

John bergerak, menemui artis yang sedang naik daun, Af. John meminta Af menyanyikan sebuah lagu kebangsaan. Af tidak hafal. Saat diminta menyebutkan judul lagu itu pun ia salah. John kemudian bertemu kelompok musik CB, yang tenar dan getol menyanyikan lagu-lagu nasional di sebuah albumnya. CB sukses menjawabnya, sekaligus mampu memenuhi permintaan John untuk menyanyikan beberapa lagu nasional. Namun, salah seorang personel CB, pada awalnya salah jawab dan ia tampak tidak ikut menyanyikan beberapa lagu nasional hingga lagu selesai dinyanyikan teman-temannya.

Terakhir, John pun masuk ke gedung sekretariat salah satu Kementrian. Ia masuk ke ruangan sang Menteri, lalu bertanya kepadanya: “Apa lambang sila Pancasila yang kedua”. Pak Menteri diam sebentar. Katanya: “Lambang apa?” John mengulangi pertanyaan. Pak Menteri malah balik tanya pada John, menurut kamu lambangnya apa? John menjawab, dengan jawaban yang salah: padi dan kapas! Pak Menteri memburu tanya, “Kenapa padi dan kapas?” John menjawab, tidak tahu pak. Pak menteri menjawab: “Nah itu dia”.

John meminta izin pada pak menteri untuk menanyai karyawan dan stafnya. Pak Menteri mengizinkan. Cuma satu  staf yang ditanya. Meski jawabannya ada yang benar dan ada salah, tapi staf Menteri tersebut menjawabnya dalam tempo pikir yang agak lama[4].

Dari acara infotainment John Pantau di Trans TV juga diketahui artis-artis yang menjadi anggota DPR RI banyak yang tidak hafal Pancasila. Mereka adalah (1) Rac tidak hafal teks Proklamasi dan  tidak hafal lagu Indonesia Raya (2) Pri, tidak hafal teks Pancasila dan tidak hafal lagu Indonesia Raya (3) Ek, tidak hafal teks Pancasila (4) Ing, tidak hafal teks Pancasila, tidak tahu maksud Hak Angket, dan tidak tahu maksud Hak Interpelasi[5].

Sungguh amat mengherankan, bagaimana mereka bisa terpilih sebagai sebagai wakil rakyat ?

Hasil Survei

Mencermati hasil survey yang dilakukan harian Kompas, dan dirilis pada 1 Juni 2008, memperlihatkan pengetahuan masyarakat mengenai Pancasila memang merosot tajam. Survei yang dilakukan Kompas pada tanggal 28 - 29 Mei Mei 2008 tersebut menunjukkan bahwa 48,4 % responden berusia 17 - 29 tahun menyebutkan kelima Pancasila salah atau tidak lengkap. 42,7 % responden berusia 30 - 45 tahun salah menyebutkan kelima Pancasila. Responden berusia 46 tahun ke atas lebih parah, yakni sebanyak 60,6 % yang salah menyebutkan kelima sila Pancasila.

Survei sederhana mengenai daya ingat mahasiswa terhadap naskah Proklamasi, Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila, pernah dilakukan seorang mahasiswi di Makassar, Sulawesi Selatan. Survei tersebut dilaksanakan tanggal 12-17 Agustus 2007 dengan responden 19 mahasiswa  dari tiga perguruan tinggi. Dari ke-19 responden yang mengikuti angket ini, 3 diantaranya hanya menghapal Pancasila, seorang mahasiswa hanya menghapal Pancasila dan Naskah Proklamasi, 5 mahasiswa berhasil menghapal ketiga naskah tersebut, sisanya 10 mahasiswa tidak menghapal sama sekali ketiganya. Melihat hasil angket tersebut tampak bahwa jumlah mahasiswa yang sama sekali tidak menghapal ketiganya adalah 10 orang atau 53 persen dari total responden[6].

Seorang mahasiswa yang lain mencoba melakukan “survei sederhana” melalui SMS yang dikirim kepada teman-teman kuliahnya pada tanggal 8 Agustus 2009. Dari survei sederhana tersebut, didapatkan hasil 70 % responden tidak hafal teks Pancasila,  10 % responden hafal teks Pancasila tetapi tidak berurutan, 34,62 % responden yang tidak hafal Pancasila sudah lulus dari SMA minimal 2 tahun. Lebih lanjut, 20 % responden tidak tahu jumlah propinsi di Indonesia saat ini, bahkan 15,5 % di antaranya mengaku bingung karena tidak tahu pasti jumlah propinsi di Indonesia.  Sementara itu 98 % responden mengakui bahwa Indonesia masih ada di hatinya, tapi 17,8 % diantara mereka merasa tidak yakin dengan masa depan bangsa Indonesia[7].

Survei yang dilakukan Pusat Studi Pancasila menyebutkan, mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di sekolah-sekolah sekarang ini hanya pelengkap kurikulum,
dan tidak dipelajari secara serius oleh peserta didik. Pelajar dan guru hanya mengejar mata pelajaran-mata pelajaran yang menentukan kelulusan saja. Temuan ini menegaskan hasil survei lembaga-lembaga lain yang dilakukan sekitar tahun 2006 dan 2007, yang menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai Pancasila merosot tajam[8].

Terdapat beberapa survei yang menunjukkan masyarakat tetap menghendaki Pancasila sebagai ideologi negara. Misalnya survei yang digelar Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Jakarta pada Januari - Maret 2007 dengan jumlah responden 200 orang, berusia 16 - 70 tahun, 42% tinggal di kota, sisanya di desa. Survei tersebut menunjukkan, 22,8 % responden menginginkan Syariat Islam sebagai dasar negara. Sisanya, lebih dari 77 % menginginkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia[9].

Survei juga dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) tentang “Respon Publik atas Perda Bernuansa Syariat Islam”, di 33 provinsi mulai 28 Juli - 3 Agustus 2006 dengan responden sebanyak 700 orang. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dan wawancara tatap muka dengan margin of error sekitar 3,8 %. Berdasarkan survei itu, 69,6 % publik tetap kokoh mengidealkan Indonesia mengembangkan sistem kenegaraan berdasarkan Pancasila, dan hanya 3,5 % yang menginginkan Indonesia seperti negara demokrasi Barat, dan 11,5 % menginginkan seperti negara Islam di Timur Tengah. Mayoritas publik mengidealkan sistem kenegaraan Pancasila karena 66,7 persen publik merasa bahwa Pancasila adalah ideologi simbolik yang lebih cocok dengan keberagaman yang ada, baik dari suku, agama, adat, ras maupun golongan.

Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta juga telah melakukan riset “Pemetaan Ideologi Masjid-masjid di DKI Jakarta” yang dipublikasikan 29 Januari 2009 di Jakarta Media Center (JMC). Survei menunjukkan bahwa sebagian besar (88.8%) takmir masjid menyetujui Pancasila dan UUD 1945 sebagai model terbaik bagi Indonesia. Selain itu, sebanyak 78.4% takmir masjid setuju bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang terbaik bagi Indonesia[10].

Penerimaan yang cukup tinggi terhadap Pancasila ternyata tidak sebanding dengan tingkat pengetahuan mereka mengenai Pancasila itu sendiri.

Masihkah kita hafal Pancasila ?


[1] Sumber : http://www.berita8.com, 20 Juni 2010

[2] Sumber : http://www.sinarharapan.co.id, 11 Nopember 2009

[3] Sumber : http://www.news.okezone.com 1 Juni 2008

[4] Yaser, John Pantau dan Pancasila di Awang-awang, dalam http:www//slankerscyber.forumakers.com, 2 Juni 2008

[5] Sumber : www.basabasi-baiba.blogspot.com, 28 Januari 2010

[6] Ince Dian Aprilyani Azir, Masih Hapal Pancasila dan Naskah Proklamasi? Dalam : http://www.panyingkul.com Rabu, 22 Agustus 2007

[8] As’ad Said Ali, Nasionalisme, Kewarganegaraan, dan Pancasila, dalam : http://www.opensubscriber.com, 27 Mei 2010

[9] Siti Aisyah, Hasil Survei Pancasila, http://www.indonesia.faithfreedom.org, 16 Mei 2007

[10] Ridwan al-Makassary, Benih-Benih Radikalisme Agama di Masjid, http://www.csrc.or.id, 30 Januari 2009

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghitung Peluang Jokowi …

Goenawan | | 16 April 2014 | 04:38

Hamil Ikut UN, Boleh? …

Khoeri Abdul Muid | | 15 April 2014 | 21:42

Mengapa Pembunuhan Kennedy Tak Pernah …

Mas Isharyanto | | 16 April 2014 | 06:25

Menilik Macan Putih, Pahlawan Superhero …

Rokhmah Nurhayati S... | | 15 April 2014 | 21:51

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 9 jam lalu

Yess, Jokowi Berani Menantang 10 Partai …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Inikah Pemimpin yang Kalian Inginkan? …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

The Jakarta Post, The Washington Post dan …

Ira Oemar | 18 jam lalu

Nama Jokowi Muncul di Soal UN, Pencitraan? …

Pical Gadi | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: