
Aktivitas tulis-menulis saya anggap sebagai lahan empuk untuk mengekspresikan ide-ide berlian yang kerap berlalu-lalang di pikiran. Sebab, hampir setiap hari berbagai pikiran bernas melintas di benak kita, dan sangat sayang sekali jika ia berlalu begitu saja, tanpa sempat diikat melalui buhul kata-kata ==> kalimat). Melalui tulisan, saya juga ingin memperpanjang visa hidup saya di lorong bumi Allah ini sehingga dapat bercengkrama dengan generasi berikutnya! Kenalkan -O-W-E-N-
Dibaca: 274
Komentar: 1
Nihil
Jakarta semakin Mengerikan. Mungkin Anda salah satu orang yang berujar seperti itu, bahkan tidak menutup kemungkinan Anda adalah salah satu korban dari kegenasan anak punk atau preman di Jakarta. Semua warga Jakarta barangkali sudah setiap hari memanjakan mata mereka dengan aksi artis-artis jalanan Ibukota itu. Serem dan mencemaskan. Dua kata itu barangkali wakili perasaan mereka yang berhadapan dengan warga jalanan kota metropolitan ini.
Bagaimana seseorang tidak akan terkejut melihat sosok anak muda yang berpenampilan edan, seperti: menatoi sekujur tubuhnya dengan aneka gambar; Tidak cukup sampai di situ, seluruh sisi daun telinga mereka juga dipenuhi aksesoreis berupa anting-anting tradisi kaum hawa; Tidak jarang dari mereka terlihat melubangi daun telinga mereka sebesar gelang tangan anak kecil; Mereka juga kerap membudayakan kebiasaan wanita India dengan mengantingi hidung; Kondisi lebih parah adalah melubangi lidah atau menaruh setumpuk manik-manik di bibir. Cira khas mereka juga terlihat dari potangan rambut acak-acakan dan dipotong sebelah.
Fenomena menggelisahkan hampir setiap hari bergelantungan di angkot-angkot dalam kota. Mereka menaiki angkot secara ancak dan sembarangan, tanpa ada seorang pun yang berani menegurnya, termasuk supir. Melihat dari gerakan lincah naik dan turun dari angkot yang ke yang lain mengindakasi kalau mereka bukan orang baru di kehidupan seperti itu. Aksi mereka di angkot tidak jauh seperti seorang pengamen. Namun, mereka tidak pantas juga disematkan gelar pengamen, sebab sebagian mereka tidak begitu mahir dengan vokal suara. Tidak jarang, terdengar lagu entah-berantah mendarat dari mulut mereka. Tidak hanya membosankan, tapi juga tidak diritmis di telinga.
Mengamati dari usaha mencari uang gerombolan anak punk di Jakarta tampak sekali kurang kreatif. Mereka tidak minim dari alat hiburan seperti gitar, tapi hanya mengandalkan tepukan tangan semata. Tak jarang mereka menebar nada paksaan dan ancamana kepada penumpang. Ketika penumpang tak seorang pun yang memberikan uang maka mereka akan berkomentar, “Awas lho semua, gw copet lho.” Mereka terkadang juga tidak bersyukur, sebab ketika diberi seratus atau dua ratus perak malah dibuang di jalanan begitu saja. Karakter yang membingungkan.
Sedih iya, terkadang benci dan sebel juga iya. Itulah sikap yang berlahiran ketika melihat aksi gerombolan anak punk di Ibukota. Tak jarang, yang melakoni pekerjaan seperti itu adalah seorang wanita. yang tampak masih polos dan asing dengan kehidupan seperti itu. Kehidupan kota memang “kejam”, dan jauh dari rasa sosial dan kebersamaan. Gedung-gedung pencakar langit yang berserakan di sudut-sudut kota telah mencerminkan sikapnya. Kendatipun demikian, semua itu tidak alasan bagi setiap orang untuk merampas ketenangan dan kenyaman saudarannya yang lain.
Kondisi anak negeri seperti gambaran tadi memang membuat semua orang miris dan mengelus dada. Kendatipun demikian, mereka tetaplah warga Indonesia yang berhak hidup dengan penuh kesejahteraan, sebagaimana ideologi Indonesia yang tertuang dalam pancasila. Mereka juga berhak duduk dan bercengkrama dengan presiden Indonesia. Jika itu bisa, tentu keadaan akan lebih menarik dan atraktif. Menantang bukan? Apalagi mereka bisa menyampaikan unek-unek mereka dengan plong dengan penguasa negeri ini. Namun, maukah presiden yang terhormat dan termulia di depan manusia menerima gerombolan anak Jakarta seperti anak punk itu? Mari tanya bapak SBY![]