Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Rayhan

Imam Ahmad ditanya: “Kapan seorang hamba itu beristirahat (dari sibuk berbuat kebaikan)?”. Imam Ahmad menjawab: selengkapnya

Anak Ajaib, Umur 3 Tahun Hafal Al-Qur’an

OPINI | 11 November 2011 | 13:41 Dibaca: 4731   Komentar: 14   2

Mencari anak-anak yang hapal dan pandai menyanyi serta menari bukan hal yang sulit. Karena nyatanya, para artis penyanyi dan bintang film sangat mendominasi budaya hidup dan pola berpikir anak remaja zaman sekarang.

Tak heran bila di salah satu media massa, saya pernah membaca judul wawancara dengan sekelompok anak muda “Tak bisa hidup tanpa music”.

Tetapi, cobalah cari anak-anak remaja yang hapal sekian juz Al-Qur an, juz 30 misalnya (bukan 30 juz), pandai membacanya dengan benar dan bagus. Mengidolakan Nabi صلى الله عليه و سلم dan orang-orang yang baik, memiliki cita-cita untuk Dinullah yang mulia …tentu sangat sulit.

Padahal Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَ عَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur an dan mengajarkannya”.

(HR. Bukhari dan At Tirmidzi dari sahabat Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه)

Betapa bahagianya hati orang tua yang sholeh, melihat anaknya giat membaca dan menghapal Al-Qur an di samping itu ia juga rajin belajar mengejar prestasi.

Kebaikan di dunia dan akhirat adalah karunia Allah سبحانه و تعالى, dan kebaikan itu Allah jadikan pada Al-Qur an serta orang-orang yang mempelajari dan mengajarkannya.

Rasanya, sebagai orang tua sudah saatnya kita tanamkan pada diri kita dan  anak-anak kita sebuah prinsip  “Tak bisa hidup tanpa Al-Qur an”. [ Nasehat Al Ustadz Abu Zubair Al-Hawary, Lc ]

Alangkah bahagia Orangtuanya yang memiliki anak seperti video diatas namanya Abdurrahman Farih, dikenal di negaranya (Aljazair) sebagai anak mukjizat. Video ini direkam ketika wawancara dengan surat kabar harian al Syuruq. Ayahnya menceritakan bahwa Abdurrahman baru bisa berbicara ketika berumur 2 tahun, dan kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah bacaan surat al Kahfi.

Ibu Abdurrahman -sebagaimana diceritakan ayahnya- rajin membaca surat al Kahfi ketika Abdurrahman masih dalam kandungan, sebagaimana juga setelah lahir orangtuanya sering menyetel al Affasy channel -saluran televisi yang menyiarkan bacaan al Quran-, bahkan ketika orangtuanya ingin merubah channel yang ditonton si kecil Abdurrahman sering menolak.

Hingga kini pada umur 3 tahun Abdurahman sudah menghapal surat-surat panjang al Quran tanpa salah dalam bacaannya, bahkan dalam bacaan mad (panjang pendek bacaan).

Subhanallah..!!!

Hikmah Pelajaran yang bisa kita ambil dan amalkan

1. Cinta al-Quran adalah pokok kebaikan. Karena Al-Quran akan menghiasi seseorang dengan sifat kebaikan. Sejak membacanya, mempelajarinya, merenungi kandungan maknanya dan mengamalkannya. Al-Quran memiliki pesona keagungan dan kemuliaan yang hanya mampu dirasakan oleh orang yang dekat denganya. Kedekatan anak dengan al-Quran sudah selayaknya menjadi orientasi pokok para orangtiua, agar anak meraka senantiasa terhiasi dengan sifat kebaikan dan keluhuran.

2. Dari kisah tersebut, peran orangtua sangat menentukan dan kita ketahui mendidik anak dimulai jauh sebelum lahir, ketika masih dalam kandungan bahkan para ulama menyebutkan dari sejak kita memilih pasangan hidup kita, karena sulit sekali terlahir anak shalih dari orangtua2 yang tidak shalih, kecuali dengan kehendak ALLAH.

3. Dan kesalahan besar jika para ibu-ibu yang terpesona dengan pemikiran2 barat untuk mencerdaskan bayi dengan cara memperdengarkan musik klasik selama hamil. Bagaimana dibayangkan sejak belum lahir saja sudah dibiasakan mendengar musik-musik syetan…?

4. Kenyataan yang menyedihkan kebanyakan manusia lalai dari al-Quran dan salahsatu sebab terbesar adalah tersebarnya musik di kalangan muslim, zaman sekarang susah sekali kita dapatkan rumah muslim yang bersih dari musik, bahkan di masjid tempat ibadah sekalipun takbebas dari musik yang berasal dari orang-orang jahil, angkuh yang tidak mau mematikan hapenya saat sedang sholat padahal terang sudah dipasang peringatannya.

5. Selain sebab itu kebanyakan orang hanya pandai dalam urusan dunia tapi jahil dalam agamanya. Kenyataannya masih sangat sedikit yang benar-benar serius memperhatikan pendidikan agama anaknya. Sebagian besar acuh dan tidak peduli…orientasi banyak orangtua sekedar menyekolahkan anak sampai tinggi, atau bagaimana supaya anak menjadi cerdas, pintar, dan tidak gagap teknologi.

Padahal Allah membenci orang yang pandai dalam urusan dunia tapi bodoh dalam urusan akhirat.

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Rum:7)

Ayat di atas merupakan peringatan keras bagi orang yang hanya mementingkan urusan dunia sedangkan urusan akhiratnya dilupakan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata: “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhiratnya. Mereka tidak berharap masuk surga dan tidak takut neraka. Inilah tanda kehancuran mereka, bahkan dengan otaknya mereka bingung dan gila. Usaha mereka memang menakjubkan seperti membuat atom, listrik, angkutan darat, laut dan udara. Sungguh menakjubkan pikiran mereka, seolah-olah tidak ada manusia yang mampu menandinginya, sehingga orang lain menurut pandangan mereka adalah hina.

Akan tetapi ingatlah! Mereka itu orang yang paling bodoh dalam urusan akhirat dan tidak tahu bahwa kepandaiannya akan merusak dirinya. Yang tahu kehancuran mereka adalah insan yang beriman dan berilmu. Mereka itu bingung karena menyesatkan dirinya sendiri. Itulah hukuman Allah bagi orang yang melalaikan urusan akhiratnya, akan dilalaikan oleh Allah ‘azza wa jalla dan tergolong orang fasik.

Andaikan mereka mau berpikir bahwa semua itu adalah pemberian Allah ‘azza wa jalla dan kenikmatan itu disertai dengan iman, tentu hidup mereka bahagia. Akan tetapi lantaran dasarnya yang salah, mengingkari karunia Allah, tidaklah kemajuan urusan dunia mereka melainkan untuk merusak dirinya sendiri.” (Taisir Karimir Rahman4/75)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala membenci setiap orang yang pandai akan urusan dunia tapi bodoh akan urusan akhirat.” (Kanzul ‘Ummal hadits no. 28982).

Malukah anda?! Anda bisa membaca not musik, tapi tidak bisa membaca Al-Qur’an. Anda hafal ribuan lagu tapi hafalan surat bisa dihitung dengan jari. Bibir anda ringan dan mudah untuk selalu bersenandung bahkan bernyanyi daripada dzikir, telinga anda lebih banyak mendengar nyanyian daripada kalam ilahi. Bahkan hati kita lebih tersentuh begitu mendengar lagu yang romantic, melankolis yang syahdu apalagi lagu kenangan daripada mendengarkan ayat-ayat al-Quran.

6. Dan Fakta bahwa MUSIK dan AL-QUR’AN tidak bisa seiring sejalan. Salah satu pasti akan mendominasi. Kecintaan pada yang satu pasti akan mengalahkan kecintaan pada yang lain. Apakah benar juga… coba lihat pada diri sendiri, Apakah waktu menikmati lagu-lagu jazz, pop, rock anda ingat Allah? Jawablah jujur..!!!

7.Tipudaya Iblis, bahwa kita tidak bisa hidup tanpa musik. Saya sendiri setelah menjalaninya, lebih dari 10 tahun meninggalkan musik ternyata hidup saya menjadi lebih damai dan tenteram. Hidup tanpa musik ternyata oke-oke saja… justeru jika mendengar musik membuat hati gelisah dan pusing kepala, lain halnya mendengar murattal alquran hati jadi tenang, dan selalu ingat kepadaNya.

8.Terakhir walaupun menghafalkan al-Quran bukan kewajiban mutlak setiap muslim, karena ini terkait kodrat kuat lemahnya hafalan yang setiap orang berbeda-beda, dan sebuah kenikmatan yang besar jika seseorang diberi kemampuan untuk menghafal KitabNya atau beberapa juz darinya, tetapi yang disayangkan banyak kaum muslimin sekedar menghafalnya tetapi banyak melanggar syariat dan kemungkaran yang nyata seperti suka musik, Oleh karenya di zaman sekarang orang lebih membutuhkan al-Quran yang berjalan diantara manusia, tidak kepada al-Quran yang dihafal tanpa pengamalan dan penghayatan maka jika memang hafalan kita lemah sibukkanlah diri dengan mentadabburi al-Quran, mengetahui hukum2nya halal haram, perintah dan larangan memahaminya serta mengamalkannya. [Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi]

Saya memohon kepada ALLAH agar memberi kita pemahaman AlQuran dan kemampuan untuk mengamalkannya dan istiqomah hingga akhir hayat nanti, dan dimasukkan kita kedalam golongan Ahlul Quran.

Amin

Wallahu’alam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Gitar Bagus Itu Asalnya dari Sipoholon, Lho! …

Leonardo Joentanamo | | 25 April 2014 | 11:08

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Selamat Hari Malaria Sedunia 2014 …

Avis | | 25 April 2014 | 11:08

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: